Dr. Pithagoras: Pendidikan dan Ekonomi Penyebab Utama kesehatan di Mamra

Pelayanan Kesehatan pada masyarakat di kampung Anggreso distrik Mamberamo Tengah Timur, kabupaten Mamberamo Raya
Pelayanan Kesehatan pada masyarakat di kampung Anggreso distrik Mamberamo Tengah Timur, kabupaten Mamberamo Raya

KASONAWEJA (PB) : Kepala Puskesmas Kasonaweja, dr. Pithagoras mengatakan persoalan mendasar yang mengakibatkan banyak masyarakat yang jatuh sakit hingga bayi gizi buruk adalah masalah pengetahuan tentang pentingnya kesehatan dan juga ekonomi masyarakat yang lemah sehingga berakibat pemenuhan gizi kurang.
“Masalah utamanya ya pendidikan dan ekonomi. Kalau dari segi pendidikannya kurang maka masyarakat tersebut belum tahu bagaimana hidup sehat, bagaimana membawa bayi mereka ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi dan lain sebagainya,” katanya kepada Jubi, Rabu (11/5/2017) di Kasonaweja.
Dikatakan, selain pendidikan tersebut ekonomi masyarakat yang hanya bergantung pada hasil bumi. Masyarakat Mamberamo Raya pada umumnya bercocok tanam, namun masyarakat tersebut belum paham tanaman mana yang bergizi untuk mereka dan juga anak-anak mereka.
“Di Kampung Angreso dua tahun lalu pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait gizi buruk namun setelah kami masuk dan memebrikan pemahaman, saat ini anak-anak dan juga balita sudah tidak ada gizi buruk lagi,” ujarnya.
dr. Pithagoras yang telah mengabdi di Puskesmas Kasonaweja sejak Enam tahun silam ini mengisahkan bahwa masyarakat di wilayah Mamberamo Raya kebanyakan belum mengerti tentant pentingnya kesehatan. “Jangankan kesehatan, bayi mereka saja ada yang tidak memiliki nama. Dan sebagian besar orang tua mereka tidak tahu tanggal kelahiran anak mereka,” katanya.
Bidan Desa, Yosephina menambahkan bahwa pihaknya harus pintar-pintar berkomunikasi dengan masyarakat setempat untuk mengetahui bulan berapa bayi-bayi tersebut lahir.
“Kalau tepuk-tepuk tangan, ada lampu-lampu dan pohon natal berarti itu bulan Desember. Untuk menentukan bulan selanjutnya itu berpatokan pada bulan Desember tersebut. Misalnya, kalau habis tepuk- tepuk tangan, ada lampu-lampu dan pohon natal? Bulan depannya mati berarti bayi lahir bulan Februari, atau kalau habis tepuk tangan, ada pohon natal bulan depannya mati dan bulan depannya lagi mati berarti bayi tersebut lahir bulan Maret. Begitu seterusnya,” jelas mama Yosephina sapaan akrabnya.
Dikatakan, cara perhitungan bulan tersebut sudah turun temurun dilakukan masyarakat setempat untuk menentukan bulan berapa bayi mereka lahir. “Hal ini harus kami ketahui sehingga proses penanganan kesehatan seperti suntik imunisasi dan selanjutnya tidak salah. Termasuk mengetahui berat badan idela seorang bayi,” katanya.
Terkait antusias masyarakat untuk datang ke Posyandu, mama Yosephina mengatakan perlu kerja keras untuk menghimpun masyarakat untuk membawa anak-anak mereka ke posyandu. “Semuanya harus dipanggil dari rumah ke rumah. Kalau tidak dilakukan begitu, mereka tidak akan datang. Jadi kita sebagai petugas harus jemput bola,” ujarnya. (admin)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *