Menjejak Bumi Ranah Minang, Menerima Gelar Kehormatan

Gubernur Lukas Enembe dan Ibu Yulce W. Enembe dengan pakaian kebesaran adat Minangkabau.

 

Pesawat Garuda Indonesia GA 166 yang membawa rombongan Gubernur Lukas Enembe dari Jakarta, mendarat dengan mulus di Bandara Minangkabau, Kota Padang, Sumatera Barat.

Senja kuning kemerahan diiringi gerimis kecil, menyambut rombongan dari Papua. Melihat sejenak dari kaca jendela pesawat sesaat sebelum mendarat, gugusan bukit dan hamparan laut mengingatkan pada Bandara Sentani. Adzan Maghrib terdengar menggema. Waktu telah menjelang malam.

Hari itu, Rabu, 24 Mei 2017. Di ruang VIP bandara, Gubernur Lukas Enembe, SIP.MH didampingi Ibu Yulce Wenda Enembe dan Sekretaris Daerah Papua, Hery Dosinaen, disambut dengan tarian adat Persembahan ala Minangkabau. Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit hadir menyambut Lukas dan rombongan pada petang itu.

“Selamat datang di Tanah Minangkabau,” sapa Nasrul diiringi jabatan tangan dan pelukan hangat kepada Gubernur Lukas. Lukas tersenyum. Membalasnya dengan pelukan.

Gubernur Lukas Enembe dan rombongan saat dijemput di Bandara Minangkabau.

 

“Saya menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan saat kami tiba di tanah ini.  Ini moment yang sangat berharga bagi kami yang datang jauh-jauh dari Papua. Dalam semangat NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, Papua dan Minang adalah saudara,” ujar Lukas.

Prosesi penyambutan tetamu di Minang tak beda jauh dengan tradisi di Papua. Tarian yang dibawakan belasan remaja wanita dan pria memberi rasa hormat pada sang tamu yang datang dari jauh. Diawali dengan dengan sekapur sirih berbahasa Minangkabau dan pengalungan songket kepada Gubernur Lukas dan Ibu Yulce.

Turut bersama rombongan gubernur, Asisten I Bidang Pemerintahan dan HAM Doren Wakerkwa, Asisten III Bidang Umum Elysa Auri, Kepala Biro Humas dan Protokoler Papua Israel Ilolu, Kepala Bappeda Papua Muhammad Musaad, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Papua Kansiana Salle, Kepala Inspektorat Daerah Papua Anggiat Situmorang, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Ridwan Rumasukun, Kepala Badan Penghubung Daerah Papua di Jakarta, Alex Kapisa, Komisaris Utama Bank Papua Pdt. Lipiyus Biniluk, dan sejumlah pejabat eselon III. Majalah Papua Bangkit bersama belasan jurnalis pun turut serta.

Gubernur Lukas Enembe memamah sirih dalam proses penyambutan di Bandara Minangkabau.

 

Gubernur Lukas dan rombongan datang jauh-jauh dari ufuk timur Bumi Cenderawasih ke Tanah Andalas negeri Malin Kundang, untuk menerima penghargaan gelar kebesaran adat dari Rumah Gadang Sholihin Jusuf Kalla DT. Rajo Penghulu, Suku Kutianyir Tanjung Kociak, Kampung Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar. Nama gelar yang diterima adalah “Sangsako Sutan Rajo Panglimo Gadang” yang berarti Sultan Raja Panglima Besar.

“Selain untuk menerima penghargaan itu,kami juga datang untuk menjalin silahturahmi dengan masyarakat Minang,” ujar Lukas kepada sejumlah wartawan lokal di Bandara Minangkabau.

Mobil Alphard hitam nopol PA 1 sudah terbuka di pintu masuk ruang VIP bandara. Delapan mobil lain berderatan di belakang. Sesudah proses seremonial penyambutan selama 20 menit dan wawancara singkat, Lukas dan rombongan menuju Hotel Grand Inna yang terletak di Jalan Gereja No. 34. Jaraknya sekitar 25 KM dari bandara yang teletak di  Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Butuh waktu sekitar 45 menit menuju hotel di jantung Kota Padang itu.

Kota Padang adalah pintu gerbang barat Indonesia dari Samudra Hindia. Padang memiliki wilayah seluas 694,96 km² dengan kondisi geografi berbatasan dengan laut dan dikelilingi perbukitan dengan ketinggian mencapai 1.853 mdpl. Ini mirip Jayapura. Hanya saja, Padang memiliki wilayah dataran yang lebih  luas.

Barisan masjid tinggi masih terlihat dan cukup mencolok di tengah kota. Kota ini memang pernah diporak porandakan gempa pada 30 September 2009 dengan korban jiwa mencapai 1.116 orang. Itulah alasan, mengapa tak banyak ditemukan bangunan perhotelan, mall dan perkantoran yang tampak tinggi menjulang. Apalagi, kota ini menghadap langsung Samudera Hindia, yang rawan berpotensi tsunami di saat gempa.

Padang berkembang menjadi bandar pelabuhan yang ramai setelah masuknya Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Selama penjajahan Belanda, Padang juga menjadi pusat perdagangan emas, teh, kopi, dan rempah-rempah. Ia juga menjadi kota seni dan budaya, yang dikenal dengan legenda Malin Kundang dan Sitti Nurbaya, dimana setiap tahunnya menyelenggarakan berbagai festival untuk menunjang sektor kepariwisataan.

Gubernur Lukas Enembe dan rombongan disambu dengan tarian saat tiba di Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar.

 

Menikmati Pemandangan

Dua mobil Vooridjer mengaum membelah Kota Padang di Kamis, 25 Mei 2017 pagi. Mobil patwal milik Polda Sumatera Barat itu berlari kencang mengapit 6 mobil pribadi dan 3 minibus yang membawa rombongan Gubernur Lukas Enembe keluar dari Grand Inna Hotel menyusuri pantai menuju Kabupaten Tanah Datar. Jaraknya sekitar 120 KM dari Kota Padang.

Kepala Dinas Perhubungan Papua Reky D. Ambrauw, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Max M. Olua, dan Ketua Komisi III DPR Papua Carolus Bolly, yang baru tiba di Padang pagi itu, langsung bergabung dengan rombongan. Bersama-sama menikmati perjalanan panjang tiga jam lamanya melewati dua kabupaten yakni Padang Sidempuan dan Padang Pariaman.

Ruas jalan Trans Sumatera memang sangat sempit. Ditambah lagi hari itu adalah hari libur, jalanan tampak macet di pagi. Namun rombongan disuguhkan panorama alam yang indah sepanjang jalan. Pohon-pohon kelapa tinggi berdiri di sepanjang pesisir pantai menyerupai daerah Sentani menuju Doyo.

Di Nagari Singgalang, Kecamatan Sepuluh Koto, rombongan disuguhkan panorama air terjun Lembah Anai, yang menjadi maskot pariwisata di Sumatera Barat. Orang Padang biasa memanggilnya dengan Aia Tajun atau Aia Mancua Lembah Anai. Air terjun ini berketinggian sekitar 35 meter ini merupakan bagian dari aliran Sungai Batang Lurah Dalam dari Gunung Singgalang yang menuju daerah patahan Anai.

Air terjun Lembah Anai nan mempesona di tepi jalan Trans Sumatera.

 

Saat mengangkat mata, terdapat lintasan kereta api yang menghubungkan Padang-Pekanbaru, tampak menggantung bagai lukisan seniman. Sungguh menakjubkan. Lanskap berubah menjadi persawahan dan kebun cengkih ketika rombongan berbelok dari Batu Sangkar, ibukota Kabupaten Tanah Datar menuju Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara. Itu setelah rombongan menempuh perjalanan dua jam lebih.

Menerima Penghargaan

Tepat pukul 12.000, Gubernur Lukas dan rombongan tiba di Rumah Gadang Sholihin Jusuf Kalla Datuk Rajo Penghulu, tempat berlangsungnya acara pemberian penghargaan itu. Tarian Galombang dan Parsambahan dari putra-putri Minang, menyambut Lukas dan rombongan dengan semarak. Ada suguhan sirih pinang. Ada pantun penyambutan. Terasa sangat mulia.

Usai seremoni penyambutan, Lukas dan Ibu Yulce bersama Sekda Hery Dosinaen, Asisten I Doren Wakerkwa dan Asisten III Elysa Auri kemudian diarak ke bagian belakang rumah untuk memakai pakaian kebesaran adat Minangkabau. Sesudah itu, mereka diarak masuk Rumah Gadang melalui tangga depan dengan diiringi musik tradisional. Sesuai tradisi, semua yang naik ke lantai atas meninggalkalkan alas kakinya.

Gubernur Lukas Enembe dan Ibu Yulce saat diarak masuk ke Rumah Gadang Sholihin Jusuf Kalla Datuk Rajo Penghulu.

 

Bentuk rumah gadang khas Minangkabau terbuat dari kayu. Luasnya 8×12 meter. Terdapat 3 jendela depan dan 2 pintu bagian depan dan belakang. Rumah itu milik Suku Kutianyir, salah satu suku yang menetap di Tanjung Kociak, Kampung Tanjung Bonai.

“Rumah ini dibangun sebelum Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden, sekitar tahun 2003. Diberi nama Sholihin Jusuf Kalla, nama putra Jusuf Kalla selaku Datuk Raja Penghulu. Ibu Mufidah Jusuf Kalla adalah sepupu saya di kampung ini, saya diberi kepercayaan mengelola Rumah Gadang ini,” ujar Atman Panungkek Dt. Rajo Penghulu.

Gubernur Lukas dan Ibu Yulce duduk di tengah-tengah didampingi Atman Panungkek Datuk Rajo Penghulu, Sekda Hery Dosinaen dan kedua assitennya. Di sebelah kanan pintu, sejumlah pimpinan SKPD dan Pdt. Lipiyus yang ikut dalam rombongan pun duduk bersimpuh menyaksikan acara tersebut. Ruangan itu tampak sesak. Apalagi, aneka macam masakan makanan di atas piring tersaji. Mulai dari rendang khas Minang, jeruk, pisang, nasi, dan air mineral.

Gubernur Lukas Enembe saat disematkan pin pada pakaian kebesaran saat menerima penghargaan “Sang Sako Sutan Rajo Panglimo Gadang”

 

Acara yang disiarkan secara langsung oleh Stasiun TVRI Sumatera Barat ini dimulai dengan doa. Kemudian, pembacaan Surat Keputusan (SK) pemberiaan gelar adat dilanjutkan dengan penyerahahan SK dan peyematan pin pada baju kebesaran yang dikenakan Gubernur Lukas oleh Atman Panungkek mewakili Sholihin Jusuf Kalla.

Menurut Atman Panungkek selaku pengelola Rumah Gadang Sholihin Jusuf Kalla, pemberian gelar penghargaan “Sang Sako Sutan Rajo Panglimo Gadang” atau Sultan Raja Panglima Besar kepada Gubernur Lukas Enembe karena beberapa prestasi yang diraih Lukas selama memimpin Papua.

Dalam Surat Keputusan No. 01/5/RGSK/2017, ada beberapa poin prestasi yang menjadi landasan kuat pemberian penghargaan gelar itu. Di antaranya, Lukas dinilai berhasil membangun kerukunan beragama di Papua hingga mendapat penghargaan dari Menteri Agama RI, berhasil mengembangkan adat dan membangun berdasarkan wilayah adat di Papua, dan berhasil membangun wilayah terisolir sehingga menerima penghargaan dari Mendagri.

Gubernur Lukas Enembe dan Ibu Yulce berpose dengan Sekda Hery Dosinaen, Asisten I Doren Wakerkwa dan Asisten III Elysa Auri.

 

Alasan lain, Lukas juga dinilai berhasil mengelola keuangan daerah sehingga meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dan mengembangkan system E-Government dan menjadi pemimpin yang inovatif dalam program pembangunan hingga meraih penghargaan Kepala Daerah Inovatif 2017 dari Majalah Sindo Weekly dan Tokoh Pembangun Indonesia Timur dari Inews Maker Award 2017.

“Dan karena itu, beliau telah datang ke rumah gadang, maka kami sudah selayaknya memberikan gelar penghargaan dan penghormatan dari Sang Sako Sultan Rajo Panglimo Gadang dari pihak keluarga Sholihin,” jelas Atman.

Adalah Adrian Indra, pria paruh baya, sosok penting di balik pemberian gelar kehormatan ini. Adrian mengaku, ia adalah wartawan dan penulis buku di Jakarta. Ia lama mengenal Gubernur Lukas Enembe. Dia pulalah yang menginginkan agar Lukas menerima penghargaaan itu karena dianggapnya sangat layak.

“Sebelum mengenal Lukas, saya mengenal Pendeta Lipiyus Biniluk. Dia adalah orang tua saya. Kedua sosok ini pemimpin Papua yang hebat,” kata Adrian.

Acara mulia hari itu kemudian dirangkaikan dengan penandatanganan Prasasti kunjungan ke Rumah Gadang Sholihin Jusuf Kalla Datuk Rajo Penghulu dan penanaman pohon beringin di halaman rumah itu. Selanjutnya, Gubernur Lukas dan rombongan melihat dari dekat pameran songket dan hasil budi daya kakao milik kelompok UKM (Usaha Kecil dan Menengah) binaan Ibu Mufida Jusuf Kalla. Gubernur Lukas dan rombongan juga disuguhi atraksi Pencak Silat PSTG binaan Wapres Jusuf Kalla dan tarian dan musik tradisional khas Ranah Minang.

Gubernur Lukas Enembe dan Ibu Yulce berpose bersama pimpinan SKPD dari Papua.

 

“Saya sangat menghargai gelar kehormatan yang diberikan. Saya berharap orang Papua tetap teguh bergandengan tangan dengan suku-suku lain dari luar Papua untuk membangun Papua. Kita harus bangun Papua dan Indonesia dalam semangat Bhineka Tungal Ika,” kata Lukas kepada wartawan di halaman Rumah Gadang.

Sekitar pukul 16.00, rombongan Gubernur Lukas kembali ke Padang. Karena ingin singgah di Bukit Tinggi, rombongan Gubernur Lukas membelokkan arah menuju kota wisata sejarah itu. Bukit Tinggi adalah kota terbesar kedua di Sumatera Barat. Terdapat jam gadang yang menjadi ikon kota itu. Juga ada Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, di Jalan Soekarno Hatta. Sayang sekali, cuaca tak bersahabat. Hujan yang mengguyur kota dan macet panjang di hari libur membuat rombongan tak bisa menepi sejenak.

“Kami berharap suatu saat kami pun bisa ke Papua. Kita semua bersaudara, walau berbeda budaya, suku dan agama,” ujar Enita dan Rossa, dua penari kepada Majalah Papua Bangkit. Kata-kata itu sungguh menyejukkan hati. Di tengah isu SARA yang memecah belah bangsa saat ini. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *