Menjejak Negeri Serambi Mekkah Yang Telah Hilang Duka

Penulis (tengah) bersama Kadinkes Papua drg. Aloysius Giyai, M,Kes (batik merah) dan Paskalis Howay di depan Museum Tsunami Aceh, Kota Banda Aceh, Juni 2015

 

Hampir 11 tahun, sesudah Aceh dilanda gempa-ssunami, saya kembali menginjakkan kaki di Kota Serambi Mekkah, Banda Aceh. Wajah kota yang dulu porak poranda kini telah bangkit dengan wajah ceria nan megah.

 PESAWAT Garuda Airlines Boeing 737-800 Seri GA142 membawa kami dari Jakarta menuju Kota Banda Aceh. Setelah menempuh perjalanan dua jam dua puluh menit, Pkl. 20.45 WIB, kami mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda. Menakjubkan. Bandara yang sebelas tahun silam tampak kecil dan sumpek, kini disulap menjadi bangunan megah dengan gaya arsitektur islami nan khas.

Tim BPJS Aceh dipimpin sang kepalanya, dra. Rita Marsyta Ridwan, Apt didampingi Kepala Departemen Kepesertaan dan Pemasaran Divisi Regional (Divre) I Aceh-Sumut, Sri Yulizar Pohan beserta stafnya telah siap menjemput kami. Tiga mobil penjemput mengantar kami dari bandara menyusuri ruas jalan kota dua jalur nan indah di Kota Banda Aceh malam itu menuju Hotel Oasis Atjeh di Jalan Luengbata.

Tampak bangun Musem Tsunami Aceh nan megah.

Ini kesempatan kedua saya ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Jika sebelas tahun lalu, saya datang sebagai relawan VIVAT International-PADMA Indonesia untuk membantu para korban gempa-tsunami, kali ini saya ikut dalam rombongan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes untuk melakukan studi banding tentang integrasi Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh (JKRA) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kerjasama Pemerintah Aceh dan BPJS Divre I Aceh-Sumut.

Selain Kadinkes Aloysius dalam studi banding ini, ada juga Kepala Seksi Jaminan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Ponidin, SKM, Paskalis A. Howay, SKM, Kepala BPJS Regional XII, dr. Hidayat Simantapura, M.Kes, AAK, Kepala Departemen Kepesertaan dan Pemasaran Divisi Regional I, Hamid Sirajudin, Kepala BPJS Cabang Jayapura Natalia Panggelo, SKM.

 

Museum Tsunami, PLTD Apung Hingga Ulee Lheue

Usai berdialog dengan Dinas Kesehatan dan RS Zainoel Banda Aceh, sore hari kami ingin sekali berkunjung ke Sabang sekaligus berdialog dengan staf Puskesmas di wilayah paling Barat Indonesia tentang pelayanan JKRA-JKN. Apalagi jarak Banda Aceh ke Sabang ditempuh dalam waktu 45 menit dengan kapal cepat dari Pelabuhan Ulee Lheue. Di tanggal 24 Juni 2015 itu, Sabang sedang merayakan HUT kotanya ke-150. Sayang sekali, melihat jadwal penerbangan pulang keesokan harinya, rencana itu batal.

Kadinkes Papua drg. Aloysius Giyai, M.Kes bersama stafnya Paskalis Howay saat berada di depan Museum Tsunami Aceh.

Kami pun akhirnya memilih jalan-jalan menikmati Kota Banda Aceh di sore hari jelang berbuka puasa. Tempat tujuan pertama adalah Museum Tsunami Aceh di Jalan Iskandar Muda. Bangunan seluas 2.500  meter persegi ini berdiri megah dengan empat lantai itu hasil karya tangan arsitek, Ridwan Kamil, yang kini menjadi Walikota Bandung. Ia  menamai disain rancangannya itu dengan Rumoh Aceh as Escape Hill. Museum ini menjadi salah satu objek wisata sejarah yang wajib dikunjungi. Ia menjadi bagian penting untuk mengenang terjadinya bencana yang sangat dahsat di masa lampau.

Tiga tahun setelah tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, yang dikomandani Kuntoro Mangkusubroto menggelar lomba merancang museum tsunami. Rancangan Ridwan Kamil. Mulai dibangun pada 2007, museum ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Februari 2009. Tiga bulan kemudian, museum resmi dibuka untuk umum pada 8 Mei 2009.

Tsunami Aceh

Tsunami, oleh para saksi korban atau penyintas digambarkan sebagai gulungan air laut yang menjulang tinggi dan gelap. Pengalaman inilah yang bisa dirasakan saat mengunjungi Museum Tsunami Aceh. Kala menjejakkan kaki  menyusuri lorong sempit dan gelap dengan dinding  air yang sesekali memercikkan air ke kepala dan tubuh, pengunjung diajak merasakan tsunami.

Di lihat dari bawah, bangunan museum ini terlihat menyerupai kapal. Namun, atapnya sendiri dibuat bergelombang mirip ombak laut. Bangunan tinggi, empat lantai ini, oleh sang arsiteknya tidak hanya dirancang sebagai museum semata tetapi juga menjadi tempat berlindung bila terjadi tsunami lagi.

“Duka Aceh sangat dahsyat. Kita bisa merasakan bagaimana kenangan kesedihan mereka di museum ini. Tapi mereka kini sudah bangkit. Sebagai saudara jauh dari ujung Papua, kita turut senang,” ujar dr. Aloysius Giyai.

Kapal PLTD Apung yang menjadi saksi bisu gempa-tsunami.

Saksi sejarah lain dari kedahsyatan gempa-tsunami Aceh ialah Kapal PLTD Apung di Desa Punge, Blancut, Banda Aceh. Sesuai namanya, kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue–tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinya tsunami. Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak hingga ke tengah Kota Banda Aceh.

Ketika tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, kapal ini terseret gelombang pasang setinggi 9 meter sehingga bergeser ke jantung Kota Banda Aceh sejauh 5 kilometer. Kapal ini terhempas hingga ke tengah-tengah pemukiman warga, tidak jauh dari Museum Tsunami.

Penulis saat berada di Lokasi Tugu Wisata PLTD Apung.

Dari 11 orang awak dan beberapa warga yang berada di atas kapal ketika tsunami terjadi, hanya satu orang yang berhasil selamat. Saat ini, area sekitar PLTD Apung telah dibeli oleh pemerintah untuk ditata ulang menjadi wahana wisata edukasi. Untuk mengenang korban jiwa yang jatuh akibat tsunami, dibangun monumen peringatan. Pada monumen itu, tertera tanggal dan waktu kejadian serta nama-nama korban.

 

Rita, Duka dan Kebangkitan Aceh

Ada yang menarik dalam perjumpaan dengan Tim BPJS Aceh. Sang kepalanya, Ibu Rita Marsyta Ridwan, adalah saksi sejarah gempa-tsunami Aceh. Ketika saya memperkenalkan diri singkat soal pengalaman saya menjadi relawan gempa-tsunami 2005 silam, dan menyinggung duka Aceh sebelas tahun silam, matanya berkaca-kaca. Saya tiba di Banda Aceh pada 1 Maret 2015. Saat itu, saya masih menjalani studi filsafat di STFK Ledalero-Maumere, Flores. Bendera bantuan Yayasan Katolik bernama VIVAT Internasional-PADMA Indonesia membawa saya dan belasan mahasiswa lainnya ikut menjadi relawan. Mengantar logistik di Banda Aceh, Sabang, Singkil dan Lhokseumawe bagi para pengungsi.

dra. Rita Marsyta Ridwan, Apt

“Baru satu dua tahun terakhir ini baru saya bisa bercerita dik. Puluhan sanak keluarga saya hilang dan saya tidak tahu dimana jasad mereka sampai hari ini,” kata Ibu Rita dengan mata berkaca-kaca.

Hari itu, Minggu, 26 Desember 2004, hari diawali seperti biasa. Orang-orang pada bersantai. Ada juga yang bekerja. Sebagian ada yang menikmati liburan di rumah sambil tiduran, sebagiannya lagi berkebun atau bertani. Banyak juga anak-anak muda dan remaja menikmati libur di pantai. Petaka datang sekitar pukul 7.50 pagi itu. Bumi Serambi Mekkah tiba-tiba diguncang gempa berkekuatan 9,3 SR selama 5 menit tanpa henti.

Kondisi kota Banda Aceh yang hancur saat gempa-tsunami.

“Waktu itu suami saya sedang di Jakarta. Saya tugas di PT. Askes cabang Banda Aceh sebagai Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan. Anak masih satu, namanya Ukhti, umur 2,9 tahun. Kami bersama ayah, bunda, dan adik lelaki di rumah. Sebelum gempa, saya ajak Ukhti ke pantai, sebab setiap hari Minggu dia pergi main pasir. Tapi entah kenapa, hari itu dia tidak mau. Saat saya sedang bujuk-bujuk dia, di situ terjadi gempa besar,” tutur Rita.

Dahsyatnya kekuatan gempa membuat Rita sekeluarga tak bisa berdiri. Mereka lalu berpegangan tangan untuk keluar rumah. Semua tetangga di Peunayong, daerah tempat tinggalnya melakukan hal yang sama. Berdiri berangkulan dan saling meminta maaf seakan-akan kiamat sudah tiba. Di tengah kepanikan, Rita masih menelpon suaminya di Jakarta. Atas saran suaminya, mereka pun segera lari ke tempat yang lebih tinggi.

Mesjid Baiturrahman berdiri kokoh saat gempa-tsunami

“Kami lari keluar rumah dan ada teriakan orang-orang di jalan, air laut naik. Saya menuju ke mobil sambil gendong Ukhti dan mengajak orang tua. Sewaktu mau buka pintu mobil, Ayah berteriak, ‘jangan ke mobil!’ Air sudah di depan mata. Saya lalu ikut kata Ayah dan lari sambil gendong Uchti ke arah ketinggian.Lalu kami naik ke sebuah toko, air sempat naik di lantai dua tapi tak lama surut,” tutur Rita.

Setelah air laut surut dan gempa berhenti, Rita sekeluarga turun dari toko itu. Uchti sudah menangis karena lapar. Kenangan paling getir bagi Rita ialah saat ia memandang ribuan mayat tampak bergelimpangan di jalanan. Mobil, kayu, batu, material rumah, bahkan kapal dan perahu berserakan di tengah kota yang dipenuhi lumpur.

“Adik laki-laki datang bantu kami, saya dan Ukhti duluan dievaluasi ke bukit Mata Ie. Di sana kami berpisah dengan Ayah Bunda hingga hari kedua. Kami tidur di bawah langit, karena masih ketakutan dengan reruntuhan karena gempa susulan masih ada. Hari ketiga, suami tiba di Banda Aceh dan kami mulai mencari sanak saudara. Tapi banyak yang tidak ketemu. Hampir 80 persen keluarga saya hilang. Hari keempat kami terbang ke Medan. Saya bersyukur, Tuhan masih beri saya dan keluarga kesempatan kedua untuk hidup,” kisah Rita sedih.

Tugu Selamat Datang di Kota Banda Aceh

Gempa Aceh yang bermuara di Samudera Hindia menelan sekitar 170 ribu jiwa. Menoreh duka sebagai bencana paling dahsyat sepanjang abad. Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh, Aceh Utara, Lhokseumawe, sekitar 14 kabupaten di Aceh terkena musibah itu. Kondisi terparah terdapat di Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh, Aceh Barat. Aceh rata dengan tanah.

Melihat kehancuran Aceh kala itu, banyak pihak memprediksi bahwa provinsi itu baru pulih 20 tahun kemudian. Tapi persepsi itu ternyata salah. Baru 10 tahun, Aceh sudah sangat maju melebih dari sebelum tsunami. Kemajuan Aceh kini bisa dilihat di Banda Aceh yang saat tsunami sebagian besar infrastrukturnya rusak.

Kantor Walikota Banda Aceh tampak berdiri megah.

Geliat pembangunannya di Kota Serambi Mekkah ini sungguh mengagumkan. Jalan-jalan makin bagus. Banyak gedung bertingkat tumbuh. Aktivitas kota semakin ramai. Muncul juga tempat-tempat hiburan baru. Pusat perbelanjaan modern (mal) dan hotel-hotel berbintang berdiri megah. Di antaranya, Hotel Hermes Palace, Grand Nanggroe, Oasis Atjeh, The Pade, dan lainnya. Belum lagi warung kopi modern dengan fasilitas wifi, sesuatu yang langka sebelum tsunami, kini bertaburan. Bahkh informasi resmi dari Pemda Kota Banda Aceh, Pendapatan Asli Daerah kota itu yang dulu hanya Rp9 miliar sebelum tsunami, kini bisa menembus Rp150 miliar di tahun 2014 lalu.

Apalagi, pasca tsunami, kondisi politik Aceh berubah drastic menjadi wilayah damai. Di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005,a Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia menandatangani perdamaian. Dua periode terakhir, Provinsi Aceh dipimpin oleh tokh GAM. Dimulai dari Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 2006 dan dr. H. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf yang kini menjadi gubernur dan wakil gubernur NAD setelah memenangkan Pilkada satu putaran pada 10 April 2012 silam. Selamat Bangkit Aceh Loen Sayang. (Gusty Masan Raya/Pernah Dimuat di Majalah Papua Bangkit Edisi Juli 2015)

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *