Meriahnya Natal di Tolikara Dirayakan dengan Hidangan Bakar Baru

Pendeta Ayen Jigibalom dan Pendeta Dapeur Jigibalom menyerahkan hadiah kepada juara perlombaan di Goyage.

TOLIKARA (PB) – Umat Nasrani di sejumlah daerah di Indonesia mempunyai tradisi unik merayakan Natal seperti cara beribadah, cara menyiapkan hidangan, cara berbusana,  cara bersilahturahmi dan lainnya. Seperti halnya masyarakat Tolikara mayoritas Nasrani ini merayakan Natal dengan menyiapkan hidangan bakar batu dan mengenakan pakaian adat.

Cara bersilahturahmi pun tidak luput, yakni mengunjungi rumah sanak saudara dengan makan bersama. Selain itu pimpinan Jemaat dari masing-masing jemaat sering mengadakan ibadah gabungan yang dipusatkan di pusat pelayanan gereja.

Perayaan Natal seperti ini dilakukan hampir di semua daerah di seluruh Tolikara. Salah satu daerah di pedalaman Distrik Goyage, masyarakat merayakan Natal dengan ibadah gabungan di mana sebelum menggelar ibadah gabungan itu, masyarakat melakukan bakar batu adat di jemaat masing-masing. Mereka menyiapkan lebih dari 1 ekor babi dari masing-masing kepala keluarga untuk dihidangkan makan bersama. Ibadah perayaan Natal gabungan itu dipusatkan di pusat pelayanan GIDI Klasis Goyage Dewan Kilugi di Warima, Rabu (27/12/2017).

Pendeta Ayen Jigibalom dalam kesan pesan Natalnya sesuai dengan Firman Tuhan Kitab Suci yang terambil dari Injil Matius 2:2, “Dimanakah Dia raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu, kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”.

Ia mengatakan, dalam kegelapan, manusia melakukan hal yang tidak inginkan Allah sehingga Allah mengutus anak-Nya yang tunggal yaitu Tuhan Yesus melalui Maria, sehingga kita sebagai Umat Kristen selalu memperingati kelahiran-Nya setiap tanggal 25 Desember.

“Kita merasakan benar-benar bahwa Yesus telah lahir untuk saya dan Anda untuk menyelamatkan kita dari tempat kegelapan kepada terang. Itu menandakan bahwa kita sudah diselamatkan melalui karya Tuhan Yesus yang sangat luar biasa itu,” terang Pdt Ayen.

Ia mengemukakan, hal ini sangat tidak mudah. Tetapi demi menyelamatkan manusia, Tuhan Yesus meninggalkan ke-Allah-an dan menjelma sebagai manusia biasa, dikandung dalam rahim Maria dan Yusuf tidak menolak. Begitu mendengar Maria hamil, Yusuf menerima tanpa ragu. Akhirnya Tuhan Yesus lahir untuk kita semua.

Pimpinan Gereja GIDI Dewan Kilugi, Pendeta Stepanus Weya sangat bersyukur kepada Tuhan karena selama tahun 2017, tak ada tantangan yang dihadapi sampai pengujung tahun ini. “Sebab itu kami mengajak kita semua untuk menjaga kebersamaan serta kekompakan dalam keluarga, tetangga, dan sesama sahabat, tahun ini baru saja kita melewati pelaksanaan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Tolikara dan ada pecah belah tetapi itu hal biasa. Kami pimpinan Dewan Kilugi mengajak tinggalkan itu semua, saatnya bersatu memuliakan Tuhan Yesus,” ajaknya.

Di akhir ibadah gabungan itu, dibagikan berbagai jenis hadiah hasil perlombaan bola volley dan sepak bola yang digelar pemuda GIDI tingkat Klasis Goyage. Berbagai hadiah disiapkan panitia, di antaranya juara satu diberikan hadiah bola volley dengan tambahan uang pembinaan. Juara dua dan tiga serta juara harapan juga diberikan hadiah.

Ketua Pemuda tingkat Klasis Goyage Yendiles Towolom berharap pemuda/I jangan melihat besar kecil nilai hadiah tetapi perlombaan ini digelar selain menjalin persatuan juga untuk memeriahkan hari lahirnya Tuhan Yesus Kristus. “Pertandingan ini bukan baru kali ini tetapi kami pemuda pemudi sebagai penerus gereja GIDI akan terus mengadakan kegiatan serupa, sebab itu bagi yang belum memperoleh juara berjuang terus sampai tahun depan bisa dapat juara,” katanya. (Diskominfo Tolikara/Ed-Fri)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *