Dinkes Kabupaten/Kota Diajak Benahi Kinerja Pelayanan Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Papua drg. Aloysius Giyai, M.Kes saat memberi keterangan pers kepada wartawan di sela-sela kegiatan Rakerkesda Papua 2018 di Hotel Aston, Rabu (18/04/2018)

JAYAPURA (PB)—Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes meminta seluruh pimpinan dan jajaran dinas kesehatan dan RSUD kabupaten/kota se-Provinsi Papua untuk terus meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan. Sebab tantangan pelayanan kesehatan di Papua sangat kompleks dan derajat kesehatan masyarakat masih rendah dibandingkan provinsi lain di Indonesia, sekalipun banyak kemajuan telah diraih.

Hal itu disampaikan Aloysius dalam arahannya pada pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Tahun 2018 di Hotel Aston, Jayapura, Rabu (18/04/2018). Di hadapan sekitar 200 peserta yang berasal dari 29 kabupaten/kota yang hadir, sebagaimana tradisi tiga tahun terakhir, Aloysius membacakan raport kinerja pelayanan kesehatan 2017 dari seluruh kabupaten/kota.

Adapun 10 kabupaten/kota yang masuk dalam kategori hijau atau terbaik dimana rangking pertama diperoleh Kota Jayapura disusul berturut-turut Kabupaten Jayapura, Kepulauan Yapen, Mappi, Merauke, Nabire, Bouven Digoel, Keerom, Mimika, dan Biak Numfor.

Kadinkes Aloysius Giyai saat memberikan arahan pada pembukaan Rakerkesda Papua 2018.

“Saya apresiasi Kota Jayapura yang mampu geser juara bertahan Kabupaten Jayapura. Juga apresiasi khusus untuk Kepulauan Yapen. Kepala dinasnya buat gebrakan yang ‘gila.’ Perawat dan bidan dia penuhi di semua kampung di Kepulauan Yapen. Makanya dia yang dulu kuning bisa naik ke posisi urutan tiga. Saya rasa yang lain juga bisa asalkan ada kemauan,” kata Aloysius.

inerja pelayanan kesehatan yang mendapat rapor kuning, lanjut Aloysius, yakni berturut-turut Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya, Paniai, Pegubin, Mamberamo Tengah, Yalimo, dan Puncak Jaya. Sedangkan yang mendapat rapor merah ialah Waropen, Mamra, Yahukimo, Deiyai, Dogiyai, Tolikara dan Puncak, dan Nduga.

Menurut Aloysius, ada beberapa indikator penilaian untuk menentukan rapor kinerja pelayanan kesehatan di setiap kabupaten/kota. Pertama-tama ialah ketersediaan data dan laporan pelayanan kesehata.
Ia menambahkan, untuk tahun ini pihaknya tidak menyediakan hadiah atau reward kepada para juara tetapi dengan cara lain untuk terus memotivasi kinerja dinas kesehatan di kabupaten/kota. Ia juga mengajak seluruh dinas kabupaten/kota yang masih merah dan kuning untuk belajar dari kabupaten lain yang sudah berada di kategori hijau.

Staf Ahli Gubernur Anie Rumbiak didampingi Kadinkes Papua Aloysius Giyai saat memukul tifa membuka secara resmi kegiatan Rakerkesda Papua 2018.

“Kita lihat Puncak Jaya. Dulu rapor merah tiga tahun lalu kini sudah naik ke kuning. Semua pasti bisa jika ada kemauan. Dengan rapor ini, kita terus pacu kinerja kita agar lebih baik. Tapi bisa saja kalian kerja baik tapi laporannya yang tak jelas. Atau sama sekali tidak kerja dan jarang kunjungan,” tegas mantan Direktur RSUD Abepura ini.

Aloysius juga meminta segenap jajaran dinas kesehatan kabupaten/kota untuk membangun kemitraan kerjasama dengan OPD lain dalam upaya pembangunan kesehatan.

“Saya sudah lihat dana ADD dan Prospek ada 48 item program bidang kesehatan, terutama sanitasi dan air bersih. Coba kalian bangun kemitraan karena untuk bangun sektor kesehatan, kita tak bisa andalkan dana kesehatan yang terbatas ini,” katanya.

Pada kesempatan itu, Aloysius juga meminta dukungan kepada seluruh jajaran dinkes se-Papua untuk dirinya sebagai Plt. Direktur RSUD Jayapura, terutama dalam tugasnya membenahi pelayanan rumah sakit rujukan tertinggi di Papua itu.

“Kami di RSUD Dok II ada 140-an dokter spesialis, alat-alatnya luar biasa tapi sistemnya harus dibenahi. Saya harus kerja keras lakukan itu,” tegas Aloysius.

Staf Ahli Gubernur Annie Rumbiak saat memberikan sambutan.

Perhatian dan Apresiasi
Rakerkesda Papua tahun 2018 yang berlangsung selama tiga hari ini di bawah tema Percepatan Eliminasi TBC, Penurunan Stunting Serta Peningkatan Cakupan dan Mutu Imunisasi Melalui Integrasi Jaminan Kesehatan (JKN-KPS) dan Bantuan Operasional Kesehatan Provinsi Papua.

Staf Ahli Gubernur Bidang Kesejahteraan dan SDM, Annie Rumbiak mewakili Penjabat Gubernur Papua saat membuka Rakerkesda mengatakan program prioritas dalam mewujudkan Papua Sehat ialah dengan melaksanakan Gerakan Bangkit Mandiri Sejahtera Harapan Seluruh Masyarakat Papua (Gerbang Mas Hasrat Papua) yaitu, program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pelaksanaan jaminan kesehatan melalui Kartu Papua Sehat (KPS) dan sistem rujukan, penurunan angka kematian ibu dan anak, menurunkan gizi buruk dan perbaikan gizi masyarakat, percepatan eliminasi Tuberculosis (TBC), serta peningkatan cakupan dan mutu imunisasi.

“Marilah pada kesempatan ini kita evaluasi, apakah sudah tercapai target yang ditetapkan dan kendala yang harus ditangani, sehingga program-program tersebut dapat meningkatkan derajat kesehatan di Provinsi Papua. Kita tahu bahwa masalah tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Indonesia menduduki urutan nomor 2 di dunia penderita TBC terbanyak setelah India,” ujarnya.

Tampak para peserta Rakerkesda Papua 2018.

Menurut Annie, selain TBC, pada tahun 2017 terdapat 896 kasus campak di seluruh Provinsi Papua dengan 73 kematian, dimana tertinggi terjadi di Kabupaten Asmat dengan 602 kasus campak dan 65 kematian. Kemudian di tahun yang sama, cakupan imunisasi dasar lengkap Provinsi Papua meningkat dari 63 persen di tahun 2016 menjadi 68 persen di tahun 2017.

“Meskipun demikian cakupan ini masih belum melindungi Papua dari ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB). Karena cakupan imunisasi yang diharapkan untuk menimbulkan kekebalan di masyarakat adalah cakupan di atas 95 persen,” paparnya.

Sementara itu, masalah anak dengan proporsi tinggi badan menurut umur dengan skore rendah atau stunting di Papua cukup tinggi kasusnya (32,8 persen). Masalah ini, kata Annie, dapat diintervensi dengan gizi dan lingkungan hidup masyarakat yang baik.

“Oleh karena itu, mewakili Penjabat Gubernur Papua, saya berpesan kepada para kepala dinas kabupaten/kota. Ketika jadi pimpinan pejabat struktural, tolong lakukan kerja penuh tanggungjawab. Jika rapor kesehatan masih buruk, belajarlah dari kabupaten lain agar bisa memperbaikinya. Setelah ikuti kegiatan Rekerkesda ini, duduklah bersama bahas kinerja rapor kesehatan yang diterima, apa karena data laporan atau memang karena kerja. Kerjalah dengan hati. Karena dengan itu Anda angkat harkat dan dan martabat orang Papua dan dapat tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain,” tegas Annie disambut tepukan tanda tangan peserta. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *