Generasi Milineal Harus Punya Daya Saing

Kepala BKKBN Papua Sarles Brabar berpose dengan Peserta GenRe BerTeman pada acara Ngobrol Asyik Bersama Kepala BKKBN di Gedung Serbaguna Kantor Walikota Manado, Kamis (05/07/2018)

MANADO (PB)—Generasi muda milenial Indonesia diharapkan memiliki daya saing yang tinggi. Sebab di era digital saat ini yang menawarkan banyak kemudahan teknologi, peluang sekaligus dampak negatif berjalan seiring.

Demikian sari pati kegiatan Seminar Nasional bertema “Generasi Berencana Yang Berdaya Saing di Era Digital” di SwissBell Hotel Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (05/07/2018). Kegiatan ini merupakan rangkaian perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXV dimana Sulut dipercayakan menjadi tuan rumah.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Daerah Provinsi Sulawesi Utara DR. Jeti Pulu, M.Si dalam sambutannya mewakili Gubernur Sulut Olly Dondokambey, SE mengatakan era digital saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kondisi ini melahirkan aneka inovasi bidang teknologi yang tepat dan membuat kehidupan manusia lebih mudah praktis.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Daerah Provinsi Sulawesi Utara DR. Jeti Pulu, M.Si saat memberikan sambutan.

“Berdasarkan sensus  kependudukan tahun 2010, sekitar 30 persen atau 64 juta jiwa penduduk Indonesia adalah generasi muda usia remaja dengan segala kompleksitas persoalannya dimana mereka sedang mencari jati diri. Oleh karena itu, kaum muda Indonesia yang produktif harus disiapkan. Termasuk, menjadikan teknologi di era digital sebagai alat meningkatkan daya saing diri, bukan sebaliknya. Semoga seminar ini membehtuk karakter positif bagi kaum muda dalam isu penyiapan Generasi Berencana,” ujar Jeti.

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN Prof. Drh. Rizal Damanik, MRepSc.PhD dalam sambutannya sebelum membuka seminar secara resmi mengatakan dalam upaya mengoptimalkan bonus demografi di Indonesia hingga tahun 2030, BKKBN diberi tanggungjawab besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing. Potensi ini, kata Rizal, harus benar-benar dimanfaatkan karena cuma sekali saja terjadi bagi negara kita.

“Peluang bonus demografi menjadi nyata dan maksimal bila memenuhi, yakni pertama sumber daya manusia yang berkualitas, kedua dapat terserap di pasar kerja, adanya tabungan rumah tangga, dan meningkatnya porsi perempuan dalam pasar kerja,” katanya.

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN Prof. Drh. Rizal Damanik, MRepSc.PhD dan Forkopimda Sulut.

Menurut Rizal dalam konteks itulah BKKBN menjaga kualitas manusia Indonesia sejak dari kandungan sampai lansia. Oleh karena itu, BKKBN menekankan 3 Bina Keluarga (BK) yakni bina keluarga balita (BKB), bin keluarga remaja (BKR), dan bina keluarga dewasa (BKL).

“Khusus untuk generasi berencana punya 3 ikon atau semboyan yaitu katakana tidak pada narkoba, seks bebas, dan pernikahan dini” ujar Rizal yang juga Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

Rizal mengingatkan kepada para generasi muda Papua akan dampak positif dan negatif terkait kemajuan teknologi berkat layanan internet.

“Nah kondisi ini mau tidak mau harus ada bimbingan dari orang tua. Orang tua tak boleh gagal agar bisa mendidik anaknya. Sebab teknologi ini tidak boleh disalahgunakan oleh generasi kita tapi dioptimalkan. Kemajuan teknologi tak bisa dihambat. Siapa yang tak belajar dia akan dilindas,” tegasnya.

Olivia Maringka, Duta GenRe Sulut Jalur Umum

Olivia Maringka, Duta GenRe Sulut Jalur dalam pidatonya di hadapan peserta  mengatakan generasi muda sekarang sangat berbeda dengan generasi dahulu, baik dari segi semangat, motivasi, pekerjaan dan idealisme sehingga tantangan yang dihadapi semakin besar namun semakin besar juga upaya kita menghadapi tantangan tersebut.

“Namun di era digital ini jika kita tidak mampu memanfaatkan teknologi dengan baik, maka kita akan dikendalikan oleh teknologi, Istilahnya Generasi Menunduk, aktif bermain gadget seharian tanpa memikirkan lingkungan sekitar, update status hanya untuk tujuan eksis serta mengharapkan banjir pujian, dan yang paling parah adalah fenomena social climber, dimana seseorang ingin terlihat kaya di media sosial dan berbanding terbalik dengan kehidupan nyata yang akhirnya membuat kita tak bisa bersaing dan merosotnya karakter sebagai anak bangsa,” kata Olivia.

Kegiatan ini diikuti sekitar 300 peserta terdiri dari para penyuluh KB, para kepala Perwakilan BKKBN dari 34 provinsi serta para mahasiswa, para tokoh agama dan tokoh adat Sulut. Hadir dalam seminar, Kepala Perwakilan BKKBN Papua, Sarles Brabar, SE.M.Si dan Sekreris Agus Nur Santosa, SE. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *