Masyarakat Papua Diminta Waspadai Cacar Monyet

Salah seorang anak penderita cacar monyet di Afrika (sumber foto: google)

JAYAPURA (PB.COM)–Cacar monyet kini sedang mengancam Indonesia, termasuk Papua. Penyakit ini ditularkan dari hewan ke manusia. Bisa ditularkan melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa hewan yang terinfeksi.

Menangkal penyebaran penyakit berbahaya ini ke Papua, Dinas Kesehatan Provinsi Papua mengambil sejumlah langkah antisipasi, di antaranya meminta seluruh kabupaten/kota menuntaskan imunisasi bagi anak-anak. Selain itu, pengawasan di pintu-pintu perbatasan dengan PNG seperti Skouw-Wutung, Pulau Mapia di Supiori, dan daerah perbatasan di Merauke, Boven Digoel, dan Pegunungan Bintang harus diperketat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua terus meningkatkan koordinasi guna mengantisipasi masuknya virus cacar monyet ke wilayah setempat.

“Sampai hari ini, memang belum ada laporan yang masuk adanya penderita cacar monyet di Papua. Kami berharap di Papua tidak ada penularan di mana hal ini sudah dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait termasuk balai karantina, balai POM dan lain sebagainya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg.  Aloysius Giyai, M.Kes di Jayapura, Selasa (21/05/2019).

Dia juga meminta masyarakat juga harus menjaga kebersihan lingkungan, sanitasi, jangan menumpuk sampah, makanan basi serta memperhatikan vektor-vektor lingkungan yang menyebabkan sakit seperti kulit dan lain sebagainya.

Situs Kementerian Kesehatan RI memaparkan bahwa masa inkubasi atau interval dari infeksi sampai timbulnya gejala cacar monyet biasanya 6-16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5-21 hari. Gejala yang timbul berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot, dan lemas.

Ruam pada kulit muncul pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang.

Menurut dokter ahli penyakit tropik infeksi dr Adityo Susilo, SpPD-KPTI dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), penyakit cacar monyet bisa sembuh sendiri. Namun perlu waktu lama hingga pasien bisa sembuh dari penyakit ini. Pasien juga harus mendapat kecukupan cairan dan nutrisi dan perawatan yang baik hingga sembuh.

Dari situs WHO menyebutkan, tidak ada perawatan khusus atau vaksin yang tersedia untuk infeksi virus cacar monyet. Namun wabah dapat dikendalikan. (Gusty Masan Raya/dbs)

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *