Tokoh Agama Penggerak Kesehatan di Pegunungan Tengah Papua

Wamber Gombo dan Sara Uaga.

WAMBER GOMBO berusia sekitar 70 tahun. Ia pendeta di Gereja GIDI Iriliga sejak tahun 1973. Ia berbicara dalam dialek Walak, bahasa salah satu subsuku di Pegunungan Tengah. Sara Uaga menerjemahkannya kepada saya.

“Bersama Bapak Wamber kami bahu-membahu menyampaikan pesan kesehatan di Iriliga. Ada juga kader Lanni Karoba dan Mama Demina Uaga,” kata Sara.

Wamber beberapa kali ikut pelatihan yang diadakan WVI di Wamena. Ia diundang dalam kapasitasnya sebagai tokoh agama dalam Program Tokoh Agama untuk Kesehatan Ibu dan Anak (ToGa-KIA). Ia dilatih untuk dapat menyampaikan isu Kesehatan Ibu dan Anak dalam khotbah-khotbah maupun acara di gereja.

“Setelah khotbah saya sampaikan nasihat kepada jemaat. Setiap bulan ada penimbangan anak harus ikut. Ketemu di ladang kasih tahu soal cuci tangan, ASI eksklusif, kalau hamil tidak usah kerja berat. Saya juga bilang ke bapak-bapak supaya bantu istri kerja kebun. Anak bayi selalu periksa ke kader kalau sakit, biar dikasih obat. Kalau agak parah biar kader bikin surat rujukan ke Puskesmas,” kata Wamber.

Wamber juga menyampaikan tentang pembuatan akte kelahiran. “Saya selalu tanya, apakah sudah buat akte kelahiran atau belum? Karena akte sangat penting untuk keperluan sekolah,” ujarnya.

Kalau Wamber menjadi kader Toga-KIA, istrinya adalah kader PMBA (Pemberian Makanan bagi Bayi dan Anak). Istrinya selalu mengajarkan cara mengolah makanan kepada para ibu di gereja. “Makanan bergizi ada di sekitar kami. Sayur harus dicuci sebelum dimasak. Sebelum suap anak, ibu harus tangan bersih,” kata dia, seperti diterjemahkan Sara.

Atas anjuran Wamber dan kader kesehatan, ibu hamil dan balita yang sakit di Iriliga cepat tertangani.

“Kami sudah menyiapkan pertolongan pertama seperti diajarkan oleh WVI dan petugas kesehatan. Di Kumudluk selalu tersedia obat-obatan, baik untuk diare, untuk batuk maupun kalau anak-anak demam. Di Onggabaga juga ada obat. Kalau sudah agak parah kami langsung bawa ke Puskesmas Wollo. Di sana ada dokter Filand dan petugas kesehatan yang lainnya,” ujar Sara, alumni SMA Kristen Wamena tahun 2005.

Dokter Filand Pay adalah Kepala Puskesmas Wollo yang telah memperpanjang sendiri masa PTT-nya selama dua kali (Cat: Dokter Filand Pay sejak tahun 2018 mengambil spesialisasi bedah di Fak. Kedokteran Univ.Sam Ratulangie, Manado).

Dari Iriligi kami harus kembali ke Onggabaga. Mama Demina Uaga telah menanti di sana. Mama Demina bisa berbahasa Indonesia meskipun terbata-bata. Penjelasan yang agak panjang diterjemahkan Sara.

“Selain menjadi kader MTBSM (Manajemen Terpadu Balita Sakit berbasis Masyarakat), saya juga kader PMBA dan HBLSS (Home-Based life Saving Skills). Habis Puskesmas jauh jadi…. Kalau ada ibu yang tiba-tiba mau melahirkan kami tolong saja di sini. Tahun lalu (2015) dengan tahun ini (2016) ada enam ibu yang saya bantu melahirkan. Semua selamat,” kata Mama Demina yang pernah bertemu Menteri Kesehatan Nafsiah Mboy ketika mengikuti Jambore Kesehatan di Jakarta bersama WVI.

“Ibu Menteri jabat tangan. Saya senang sekali,” ujar Demina dengan wajah sumringah. Demina menyelesaikan pendidikannya melalui kejar Paket B dan C di Yalengga.

Sebenarnya ada peraturan dari pemerintah kabupaten Jayawijaya agar semua ibu hamil melahirkan di Puskesmas atau minimal dibantu tenaga kesehatan. Sehingga tugas kader HBLSS hanya menginformasikan kepada masyarakat mengenai tanda-tanda kesakitan dini pada ibu hamil dan anak baru lahir.
Tetapi jarak Onggabaga dan kampung-kampung sekitarnya dengan Puskesmas Wollo lebih dari lima belas kilometer. Jalan kaki bisa tiga jam.

Memang ada jalan perkerasan. Tetapi jarang kendaraan lewat. Satu bulan belum tentu ada. Yang lebih serius, kata Demina, ibu-ibu tidak tahu kapan mulai hamil. Jadi sukar menetapkan Hari Perkiraan Lahir (HPL).

“Tiba-tiba saja ketuban sudah pecah. Mau tidak mau kita harus tolong di sini,” kata dia.

“Bagaimana dengan memotong tali pusar?” tanya saya. “Pakai silet baru. Tidak boleh yang sudah pernah dipakai. Nanti infeksi,” kata Demina. Silet direndam terlebih dahulu ke dalam air mendidih. Beberapa saat. Agar steril.

Di kampung-kampung di Pegunungan Tengah Papua ada kebiasaan tali pusar dipotong pakai batu panas. Dua batu sekepalan orang dewasa dipanaskan. Lalu dijepitkan pada tali pusar. Sampai putus.

***
Bagi orang dari luar Papua seperti saya, mendaki di bukit-bukit di Iriliga, Onggabaga dan Koragi bukan perkara gampang. Tetapi bagi Sara Uaga, bukan persoalan. Padahal ia tengah hamil tua Februari 2017 itu. “Kita sudah biasa to, Bapak,” ujarnya sembari tertawa.

Jarak antara Onggaba dan Iriliga hanya sekitar 3 kilometer. Tetapi jalanan yang mendaki dan menurun, apalagi berjalan di bawah terik matahari sungguh menguras tenaga. “Minimal satu minggu sekali saya ke Iriliga ketemu Bapak Wamber dan warga di sana. Tetapi tergantung kebutuhan saja,” kata Sara.

Lanni Koroba pun demikian. Sebagai kader MTBSM ia menangani tiga kampung yakni Kumudluk, Koragi dan Telegai. Ia tidak menunggu pasien datang padanya. Ia yang proaktif mendatangi mereka.

“Kalau saya dengar ada anak bayi sakit, saya pasti ke sana membawa obat buat dia. Kalau mencret saya kasih oralit enam bungkus. Setiap buang air kasih satu bungkus. Kalau belum sembuh juga, saya temani ke Puskesmas Wollo. Kalau batuk dan sesak nafas kita kasih cotry dan zinc,” ujar Lanni.

Setiap kader dilengkapi dengan peralatan manual untuk menghitung kecepatan nafas. “Kalau lebih dari 60 denyut permenit dan nafasnya naik-turun (tersengal) kita harus bawa ke Puskesmas. Apalagi kalau panas tinggi,” kata Lanni.
Lanni pria sederhana. Murah senyum. Ia tidak memakai sandal sepanjang perjalanan dari Koragi-Iriliga. Ia mengajari saya cara menghitung nafas dengan peralatan aritimer.

“WVI yang ajar kami seperti ini,” kata Lanni terbata-bata.

Sore menjelang. Matahari tersisa remang-remang sebelum masuk ke balik gunung. Suhu drop menjadi 15 derajat celsius. Sangat sejuk. Saya sengaja menjauh. Berdiri di belakang gereja. Menikmati alam seasli-aslinya. Lembahnya seperti penuh misteri. Kicau burungnya. Bayangan bukitnya. Temaram cahaya matahari sorenya. Semua menyatu dalam keheningan yang dalam.

Saya bersyukur bisa bertemu dengan para kader, orang-orang sederhana yang berjibaku menyelamatkan kehidupan di bukit-bukit di Iriliga, Koragi, Onggabaga dan Kumudluk. Mereka memeras keringat. Tidak mengeluh.

Dalam segala keterbatasannya, mereka telah berbuat untuk sesama manusia. (Alex Japalatu/selesai)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *