Ini Pesan Jokowi Di Balik Filosofi Jawa

Presiden Jokowi saat makan bersama dengan Prabowo Subianto usai pertemuan perdana pasca Pilpres 2019 di Stasiun MRT Lebak Bulus Jakarta.

JAKARTA (PB.COM)-Di antara hari santainya akhir pekan kemarin, Jokowi memasang posting pepatah berfilosofi Jawa di laman media sosialnya. ‘Lamun sira sekti, aja mateni’, begitu video singkat yang dipasang Jokowi di Instagram, Twitter dan Facebook-nya.

Kalimat itu ditegaskan Jokowi, “Zaman sudah semakin maju, tapi kita tetap mengingat pesan-pesan bijak dan agung para leluhur. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan.”

Eko Sulistyo, salah seorang yang dekat dengan Jokowi sejak di Solo dan kini menjabat Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan menjealskan konteks politik di balik penyataan Jokowi.

Menurut Eko, ‘lamun sira sekti, aja mateni’ bila diartikan secara langsung berarti ‘meski Anda sakti, tapi jangan membunuh’. Bila dialihbahasakan, maknanya adalah ‘Meskipun kuat, jangan menjatuhkan’.

Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo.

“Dalam konteks politik sekarang ini, meskipun beliau sebagai pemenang (pilpres) tapi tidak merendahkan. Ini pesan moral dari nilai kepemimpinan Jawa,” kata Eko Sulistyo.

Jokowi, sebagaimana diketahui, adalah Presiden terpilih 2019-2024. Jokowi juga adalah petahana, kepala negara dan pemerintahan. Namun Jokowi tidak merendahkan rivalnya yang kalah di Pilpres 2019, Prabowo Subianto. Meski begitu, Eko tidak menafsirkan pernyataan Jokowi ‘lamun sira sekti, aja mateni’ dengan proses rekonsiliasi dengan Prabowo.

“Saya kira tidak terkait ya. Ini pesan moral yang umum,” kata Eko.

 

Kekuasaan Tidak Semena-Mena

Kata ‘mateni’ dalam petuah Jawa yang dikutip Jokowi itu menurutnya bukan berarti ‘membunuh’ dalam artian sebenarnya. Dalam pemahaman masyarakat Jawa tempat Jokowi dibesarkan, orang Jawa itu mati bila dipangku. Ini terkait dengan cara penulisan huruf Jawa, untuk mematikan bunyi aksara Jawa maka harus dibubuhi tanda pangku.

“Dalam masyarakat Jawa, kalau orang mateni itu dipangku,” jelas Eko.

Siapa pihak yang bisa dipangku Jokowi namun Jokowi memilih tidak memangkunya? Tak ada penjelasan lebih lanjut. Yang jelas, Jokowi lekat dengan nilai-nilai Jawa.

“Ungkapan itu adalah ajaran moral, kearifan, kebajikan yang teruji zaman dan maknanya dalam, maka abadi dalam ingatan kolektif wong Jawa, sebagaimana Pak Jokowi diasuh dalam budaya Jawa. Itu bagian dari pitutur luhur Jawa yang sudah menjadi memori kolektif masyarakat Jawa,” urai Eko.

Sebenarnya ada tiga pitutur (pepatah) Jawa yang dipegang Jokowi. Pertama, ‘lamun sira pinter, aja minteri’, yang artinya ‘meski Anda pintar namun jangan sok pintar’. Kedua, ‘lamun sira banter, aja ndhisiki’, yang artinya ‘meski Anda kencang, jangan mendahului’. Ketiga, barulah ‘lamun sira sekti, aja mateni’.

“Lamun sira sekti, aja mateni. Itu artinya dia punya kekuasaan tapi tidak kemudian bertindak semena-mena,” kata Eko.

Eko menjelaskan, ajaran luhur terdapat dalam karya Pakubuwono IV yakni Serat Wulangreh, Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV, ajaran Ki Ageng Suryomentaram, dan RMP Sosrokartono seorang bijaksana kakak RA Kartini mantan wartawan Perang Dunia I. (Gusty Masan Raya/JJO)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *