Stop Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Yahukimo

Asisten III Setda Yahukimo Arron Wanimbo, SE.M.Si saat memberikan sambutan.

DEKAI (PB.COM)—Kaum laki-laki di Kabupaten Yahukimo, Papua diminta untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sebab kaum perempuan, terutama Mama-Mama Papua berperan sentral dalam keluarga. Sedangkan anak adalah generasi masa depan Papua dan bangsa.

Demikian pernyataan yang disampaikan Asisten III Setda Kabupataen Yahukimo, Arron Wanimbo SE.M.Si dalam sambutannya pada kegiatan Presentase Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak yang berlangsung di gedung Gereja GKI Metanoia, Dekai, Senin (29/07/2019).

Kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman dan informasi tentang kapasitas perempuan atau ibu dalam rumah tangga (RT) ini digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Kabupaten Yahukimo bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Papua.

“Peran perempuan di Yahukimo ini sangat penting. Karena setiap kelahiran seorang anak manusia ke dunia ini, semuanya melalui perempuan atau ibu. Sehingga peran seorang ibu dalam keluarga sangat mulia. Mereka punya hak hidup. Saya berharap, melalui kegiatan ini dapat memberi pemahaman kepada Mama-Mama kita di Yahukimo agar dapat memahami peran dan fungsinya dalam keluarga. Dan kaum laki-lagi juga stop melakukan kekerasan terhadap perempuan,” tegas Arron dalam sambutannya.

Menurut Arron, dimana saja di dunia ini kaum perempuan dan anak mendapat perhatian yang serius melalui Undang-Undang karena dianggap makluk yang lemah. Sebab, fakta menunjukkan bahwa mereka sangat rentan mengalami tindak kekerasan dari kaum laki-laki.

Oleh karena itu, ia berharap kegiatan ini dapat memberikan informasi edukatif kepada kaum perempuan di Yahukimo tentang bagaimana seharusnya kaum mereka bida memperoleh pemahaman tentang Undang-Undang Perlindungan Terhadap Kaum Perempuan Dan Anak.

“Tentu ini butuh komitmen yang kuat dari pemerintah daerah dalam membuat regulasi-regulasi keberpihakan kepada kaum lemah, khususnya atau kaum feminis, anak-anak dan kaum kaum difabel,” katanya.

Ia menambahkan, untuk mewujudkan mimpi dari peran perempuan yang sesungguhnya dalam keluarga sebagai pelopor kehidupan di bumi, tentu saja diperlukan campur tangan semua pihak yang terus mendukung adanya upaya melindungi kaum perempuan dari hal-hal yang tidak diiginkannya. Sehingga kaum perempuan tidak lagi dibuat sebagai obyek tapi subyek yang memiliki peran yang sama dengan kaum laki-laki. (Paul Karma/Diskominfo Yahuhikimo)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *