UP2KP: Seorang Anak di Supiori Terindikasi Menderita Rubella

Tim UP2KP saat bertemu dengan anak Yohana Kmur di rumah neneknya di Kampung Masram Distrik Supiori Timur, Rabu, 5 September 2018.

JAYAPURA (PB)—Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) sejak awal September 2018 menurunkan tim ke 6 kabupaten yakni Mimika, Merauke, Boven Digoel, Keerom, Sarmi, dan Kabupaten Supiori.

Tim yang turun bertugas melaksanakan pengawasan terhadap pemanfaatan dana Otonomi Khusus Bidang Kesehatan. Selain itu, kesempatan itu juga digunakan untul melakukan monitoring evaluasi (monev) pemberian vaksin Measles Rubella dan Polio (MRP) di  beberapa kabupaten yang nilai raport pelayanan kesehatannya masih di bawah target alias masih rendah.

Di Supiori,  tim UP2KP yang dipimpin Alexander Krisifu, SH beranggotakan Erikh Abraham, Hidayat Wairoy dan Irsan menemukan satu kasus dimana seorang anak perempuan berusia 8 tahun bernama Yohana Kmur di Kampung Masram Distrik Supiori Timur diduga menderita penyakit rubella dan belum ditangani serius secara medis.

Yohana Kmur tinggal bersama kakek Obet Kmur dan neneknya Hania Yom. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Jarak tempuh dari kota Supiori menuju Kampung Masram sekitar kurang lebih 1 kilometer. Tim UP2KP pun menyambangi Yohana di rumahnya dengan menggunakan mobil hanya dalam waktu 25 menit.

Yohana Kmur, anak yang diduga terkena virus rubella.

Letak rumah kakeknya memang tidak jauh dari jalan raya dan sangat mudah dijangkau. Rumah tua type 36 berdinding batu itu tampak cukup bersih. Nenek Hania yang tengah menggendong Yohana menyambut Tim UP2KP dengan senyum hangat.

“Anak ini tidak pernah bicara dan entah dia masih bisa mendengar atau tidak. Sesekali jika dipanggil dia bisa menoleh, kadang juga tidal menoleh sama sekali,” kata Nenek Hania.

Menurut Hania, saat lahir, mata Yohana baik-baik saja. Ketika ia mulai sakit, orang tuanya pernah membawa Yohana ke RSUD Biak untuk berobat. Namun saat itu, menurut petugas kesehatan yang melayani, mata Yohana didiagnosa cuma sakit biasa. Yohana hanya diberi obat mata dan langsung pulang ke rumah.

“Saya kurang tahu, kapan anak ini sakit karena dulu mereka tinggal di Kampung Wardo Biak Barat. Tapi waktu mamanya masih hidup, dia pernah berobat ke Biak. Makin lama, nanah keluar dari matanya, seperti bola matanya bocor. Saya berharap Pemerintah bisa bantu biayai dia berobat. Karena biaya berobatnya mahal,” kata Nenek Hania.

Tim UP2KP saat bertemu Sekretaris Dinas Kesehatan Supiori Juma’Ali dan Kepala Seksi Imunisasi Regina Rumbiak.

Gejalah dan ciri penyakit yang dialami Yohana Kmur didudga karena serangan virus Rubella. Hal ini bisa saja dipicu karena kelainan kongenital pada saat masih dalam kandungan atau mungkin bisa infeksi selama kehamilan ibunya.

Melihat kondisi anak tersebut di rumah Nenek Yohana, tim UP2KP langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Supiori melalui Kepala Seksi Imunisasi, Regina Rumbiak dan meminta agar Yohana segera mendapatkan pelayanan di rumah sakit.

“UP2KP meminta kepada Puskesmas Sorendiweri melalui Dinas Kesehatan Supiori untuk memberikan rujukan kepada anak Yohana Kmur agar ditangani oleh dokter spesialis anak guna menjalani pemeriksaan lengkap hingga gizinya. Nyawa satu anak Papua sangat berharga,” kata Ketua Tim UP2KP, Alexander Krisifu.

Sementara itu, terkait cakupan pelayanan imunisasi di Supiori, hingga 4 September 2018 tercatat telah mencapai 56, 42%.  “Kami targetkan akan capai 100 persen tahun ini dari jumlah 3.618 bayo atau anak yang menerimanya,” kata Regina Rumbiak didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Supiori, Juma’Ali.

 

Merauke Masuk 10 Besar

Sementara itu, di Kabupaten Merauke, berdasarkan hasil monev Tim UP2KP yang dipimpin Marthen Tabi, SKM menunjukkan bahwa per 3 Sepetember 2018, kabupaten itu masuk dalam 7 besar tercepat dalam cakupan imunisasi Measles Rubella dan Polio (MRP) di Provinsi Papua, setelah Jayapura, Nabire, Biak Numfor, Keerom, Sarmi, Kota Jayapura.

Tim UP2KP ketika mendengarkan penjelasan dari Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit pada Dinas Kesehatan Merauke, dr. Inge Silvia.

“Memang ada penolakan terkait isu halal dari vaksi dan juga KIPI tapi, kita aktif lakukan sosialisasi jadi berjalan lancar. Ada 57.445 bayi/balita/anak di Kabupaten Merauke yang harus kita beri vaksin, tapi yang baru kita lakukan sebanyak 56.9 persen,” kata Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit pada Dinas Kesehatan Merauke, dr. Inge Silvia.

Pada kesempatan monev tersebut itu, Tim UP2KP juga memantau pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Mopah Baru dan Puskesmas Sota, yang berbatasan dengan PNG.

Derik Pinibo dari UP2KP mendampingi Kepala Puskesmas Mopah Baru, dr. David Wijaya saat memantu pemberian vaksin MRP di ruang pelayanan, Kamis, 6 September 2018.

Kepala Puskesmas Mopah Baru, dr. David Limanto Wijaya tampak antusias menerima kunjungan Tim UP2KP. Menurutnya, pelaksanaan imunisasi yang dijalankan tim Puskesmas yang dipimpinnya mencakup 8 TK dan 7 SD di Kota Merauke dan baru berjalan 50 persen. Ada sebagian sekolah masih menolak.

“Kalau soal pelayanan rutin di Puskesmas ini, saya prihatin dengan pasien orang Asli Papua. Banyak yang tidak punya KIS. Saya harap Dinas Sosial bisa segera tangani agar mereka punya jaminan kesehatan gratis,” kata David yang mengaku sudah 17 tahun mengabdi di Merauke. (Gusty Masan Raya/Bidang Pubdok UP2KP)

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *