Gubernur Papua Ikut Menyayangkan Penempatan Pasukan Jumlah Banyak di Nduga

Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP.MH

JAYAPURA (PB.COM) – Senada dengan Bupati Nduga, Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP.MH juga menyayangkan penempatan pasukan TNI Polri dengan jumlah banyak di Kabupaten Nduga.

Menurut Gubernur Lukas, hal itu justru akan menambah konflik berkepanjangan antara kelompok separatis bersenjata dengan aparat keamanan. Dimana masyarakatlah yang akan menjadi korban dari konflik tersebut.

“Ini juga masalah, dulu saya bilang pasukan (TNI Polri) ditarik. Saya 10 tahun mengurus orang seperti ini di Puncak Jaya (sewaktu menjadi Bupati), tapi pemerintah menuduh saya itu melanggar aturan,” ungkap Lukas kepada pers di Jayapura, Selasa (20/7/2019).

Konflik bersenjata antara TNI/Polri dengan kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya yang terjadi dalam dua tahun terakhir, membuat ribuan warga memilih meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke kabupaten terdekat seperti Jayawijaya, Lanny Jaya dan Mimika.

Meski menyayangkan penempatan pasukan dengan jumlah berlebihan di Nduga, Gubernur Lukas justru tidak menyetujui jika pasukan TNI Polri ditarik dari Nduga.

Menurutnya, yang terpenting saat ini bagaimana pemerintah secara komperehensif segera mengatasi masalah di Nduga dan masyarakat bisa kembali ke tempat asalnya.

“Bukan (penarikan pasukan), kita sudah sampaikan waktu itu. Saya tidak tahu berapa lama ini akan berakhir, apakah mereka sudah habiskan OPM (kelompok separatis)? Tentara bertugas untuk kasih habis OPM, kalau mereka masih ada kapan berakhirnya,” katanya.

Terkait dengan pengungsi Nduga, Gubernur mengungkapkan saat ini Dinas Sosial Provinsi Papua telah berada di Kabupaten Jayawijaya untuk menyalurkan bantuan bagi warga yang mengungsi di daerah tersebut.

Sebelumnya, Kementerian Sosial ( Kemensos) memastikan jumlah pengungsi warga Kabupaten Nduga, Papua, yang meninggal dunia hingga saat ini mencapai 53 orang. Dari jumlah itu, 23 orang anak-anak. Rata-rata penyebabnya karena sakit dan bukan kejadian luar biasa.

“Tidak benar berita lebih dari 130 orang meninggal dalam pengungsian. Jumlah korban meninggal dunia itu merupakan akumulasi dari awal konflik terjadi. Mereka yang meninggal karena sakit,” ujar Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI Harry Hikmat, Senin (29/7/2019).

Sementara Kodam XVII/Cenderawasih mengakui ada pergerakan masyarakat dalam jumlah cukup besar dari Nduga ke wilayah lain. Namun, hal tersebut bukan dilakukan untuk mengungsi.

“Sebenarnya mereka lebih pada bermigrasi dan cendrung tidak ingin kembali ke tempat sebelumnya,” ujar Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol CPL Eko Daryanto. (Andi/Frida)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *