Sekda Papua Sesalkan Aksi Anarkis Pendemo Yang Merusak dan Menjarah Sejumlah Ruangan di Kantor Gubernur

Kondisi ruangan kerja Biro Humas dan Protokol Provinsi Papua yang diobrak abrik dan dijarah pendemo. Gambar diambil Sabtu (31/08/2019).

JAYAPURA (PB.COM)Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua T.E.A. Hery Dosinaen, S.IP.M.KP.M.Si  mengatakan hampir semua ruangan kerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di Kantor Gubernur Papua Jl. Soa Siu Dok II Bawah, Kota Jayapura digeledah, diobrak-abrik dan dijarah oleh massa pendemo anti rasisme, Kamis (29/8/2019).

“Pemerintah Provinsi Papua menunjukkan rasa keprihatinannya yang mendalam. Atas nama gubernur, kami sangat prihatin bahwa dengan demo yang dilakukan beberapa hari lalu yang juga dilakukan aksi penjarahan. Hampir semua ruangan kerja di kantor gubernur di geledah, dijarah, dibongkar dan diambil barang -barang,” ujar Sekda Hery kepada pers di ruang rapatnya, Senin siang  (02/09/2019).

Sekretaris Daerah Papua T.E.A. Hery Dosinaen, S.IP.M.KP.M.Si didampingi Asisten Bidang Pemerintahan Setda Papua, Doren Wakerkwa, SH saat memberi keterangan pers di ruang rapat, Senin (01/09/2019)

Menurut Hery, sebagai kepala birokrasi tertinggi di pemerintah provinsi, ia sangat prihatin atas peristiwa ini dimana ada oknum-oknum yang tidak dapat mengendalikan diri dan mempunyai tujuan khusus untuk tindakan kriminal dalam aksi unjuk rasa melawan rasisme jilid II itu.

“Alat-alat perkantoran dijarah seperti komputer, televisi dan lain. Berkas dan meja kerja diobrak-abrik. Semua ruangan. Ini tentunya membuat aktivitas kantor belum bisa berjalan dengan baik. ASN masih ada trauma, masih ada rasa takut untuk datang ke kantor dengan melihat kondisi kantornya yang porak poranda,” kata Hery didampingi Asisten Bidang Pemerintahan Setda Papua, Doren Wakerkwa, SH.

Kaca pembatas ruangan kerja Biro Humas Provinsi Papua yang dirusak

Oleh karena itu, mantan Sekwan Puncak Jaya ini lewat para Asisten I, II dan III sudah menyampaikan kepada semua pegawai agar besok, Selasa (03/09/2019) dilakukan kurvei dan bersih-bersih di areal kantor. Selain itu, para Asisten juga ditugaskan untuk mengkoordinir semua OPD untuk mendata apa saja yang telah dijarah dan dirusaki, baik itu di ruang kerja Sekda, ruang Asisten, Bappeda dan Biro-Biro.

“Kami juga sudah lapor ke bapak gubernur dan gubernur perintahkan untuk mendata semua yang di rusak dan dijarah di kantor ini. Kami belum tahu, apakah ada berkas- berkas penting yang hilang,” tegas Hery.

Yang jelas, kata Hery,  banyak data yang berhubungan dengan komputer, IT banyak yang hilang ataupun dirusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu. Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Kapolda Papua dan Walikota Jayapura untuk mencari oknum-oknum yang melakukan aksi pengrusakan dan penjarahan ini.

“Kami semua sangat solid menangani persoalan ini di bawah pimpinan gubernur, sehingga Papua ini tetap damai. Karena semua aspirasi yang disampaikan para pendemo (pada demo damai anti rasisme jilid I Senin (19/08/2019)—Red.) telah disampaikan gubernur kepada Presiden RI  Joko Widodo,” terangnya.

Pada kesempatan itu, Sekda Hery juga meminta seluruh masyarakat Papua agar dalam situasi seperti ini, janganlah mudah terprovokasi oleh siapapun. Hal itu menghindari upaya hasutan dari kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu dengan merusak kedaiman dan menciptakan chaos di Papua yang dengan sengaja untuk membuat situasi menjadi chaos di tanah ini.

“Situasi ini embrionya kan di Surabaya, yang membias sampai sekarang ini. Untuk itu kepada kita semua harus bisa mengendalikan diri jangan sampai terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin membuat Papua menjadi tidak terkendali,” harapnya.

Demonstrasi anti rasisme yang digelar Kamis (28/08/2019) yang berakhir rusuh di Jayapura.

Sebagaimana diketahui, demo anti rasisme jilid II yang berlangsung Kamis (29/08/2019) disertai tindak anarkis berupa pelemparan sejumlah kantor dan gedung, pembakaran beberapa fasilitas umum, warung dan kendaraan bermotor serta penjarahan sejumlah toko. Demo itu berakhir dengan didudukinya Kantor  Gubernur Papua selama semalam. Kondisi ini rupanya dimanfaatkan pendemo untuk melakukan tindak penjarahan sejumlah barang di ruangan kerja pemerintah, bahkan dengan memecahkan sejumlah kaca agar bisa masuk ke dalamnya.

Ribuan massa ini baru bisa dipulangkan pada Jumat pagi hingga Sabtu dini hari dengan mobil milik aparat keamanan dan dikawal oleh TNI/Polri. (Gusty Maan Raya/Andi)

 

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *