RSUD Jayapura Bentuk Tim Khusus Antisipasi Covid-19 dan DBD

Direktur RSUD Jayapura drg. Aloysius Giyai.

JAYAPURA (PB.COM) – Mengantisipasi penyebaran Covid-19 dan Demam Berdarah (DBD), Manajemen RSUD Jayapura telah melakukan berbagai persiapan seperti Sumber Daya Manusia (SDM) dan menyiapkan ruang isolasi.

Direktur RSUD Jayapura Aloysius Giyai kepada wartawan di Jayapura mengaku, pihaknya telah membentuk tim khusus penanganan virus asal Wuhan tersebut. “Ruang isolasi sementara kami rehab, kami akan melakukan simulasi dua hari lagi,” ujarnya.

Disinggung mengenai pengawasan di bandara, mantan Kepala Kesehatan Papua tersebut mengatakan bahwa bandara maupun wilayah perbatasan harus menyiapkan ruang isolasi. “Kita sudah tekankan, bandar udara dan perbatasan negara, pelabuhan dan kantor imigrasi wajib hukumnya perketat pemeriksaan, bukan hanya pemeriksaan suhu,” terangnya.

Untuk pemeriksaan di Bandar udara, alat pemeriksa virus tersebut telah dipasang. “Sebab yang benar-benar menjadi perhatian adalah WNA,” tandasnya.

Sementara dalam instruksi Gubernur Papua, dimana WNI yang tanpa tujuan tidak diperkenankan ke Bumi Cenderawasih. “Harus jelas tujuannya ke Papua, jika tidak ada tujuan sebaiknya ditunda dulu,” katanya lagi. Mengenai tim medis, Giyai mengaku tim medis yang sudah disiapkan untuk RSUD Jayapura.

Sesuai surat dari Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan bernomor YR.01.02/III/0027/2020 ke setiap rumah sakit di Tanah Air perihal kesiapsiagaan rumah sakit dalam Penanganan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) yang dikeluarkan pada 7 Januari 2020.

Dalam surat itu tertera bahwa sehubungan dengan terjadinya kasus “unknown viral” pneumonia di China, yang sewaktu-waktu dapat menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia serta adanya pola perubahan cuaca yang mendukung penyebaran PIE (flu burung, flu babi, Mers-Cov, Ebola poliomyetilitis dan lain-lain) maka kami menginstruksikan pertama menyiapsiagakan fasilitas dan sumber daya manusia (SDM) dalam menangani kasus PIE, serta menyusun jadwal petugas untuk mengantisipasi menerima pasien PIE.

Kedua, melakukan simulasi ulang dalam penanganan PIE terutama bila terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB/Pandemic Preparedness. Ketiga melakukan review terhadap SOP, pedoman pelaksanaan atau petunjuk teknis terkait produser penanganan PIE dan memastikan seluruhnya penanganan sesuai dengan perkembangan terkini (update). (Toding)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *