Jika Warga Tak Patuh, Kita Bisa Senasib Dengan Italia Akibat Corona

Ilustrasi penanganan pasien virus corona.

Oleh Abdel Gamel Naser*

SAAT ini, dunia digemparkan dengan  penyebaran virus Covid 19. Menurut data, hingga akhir Maret ini, sebanyak 185 negara di dunia kini sedang berperang membasmi virus yang disebut muncul dari hewan tersebut. Desember 2019 menjadi momentum dimana virus mematikan ini muncul dari Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, China. Wuhan menjadi daerah yang disorot karena dianggap menjadi  titik awal penyebaran virus tersebut.

Awalnya saya menduga ini hanya trik untuk memenangkan opini dari perang dagang antara Amerika  dan China yang terus memanas setahun terakhir. Namun setelah kondisi virus ini berkembang ke puluhan hingga ratusan negara, saya dan semua kita menjadi melek bahwa Corona bukan sekedar isu murahan melainkan ancaman global yang sangat berbahaya.

Indonesia patut belajar dari Negara Italia yang awalnya menganggap sepeleh virus ini. Warga Italia melakukan aktivitas seperti biasa, seakan semuanya baik-baik saja. Buktinya? Italia kini menjadi negara dengan jumlah kematian tertinggi. Malah lebih tinggi dibanding China yang diduga menjadi biang kemunculan virus ini.

Hingga Sabtu 22 Maret 2020 tercatat sudah ada 4.852 orang di Italia meninggal karena virus ini. Sedangkan data kematian di China sebanyak 3.255 orang. Bahkan, sejak Sabtu  23 Maret 2020, di Wuhan tak lagi ditemukan pasien baru yang positif. Sementara di Italia, dalam 24 jam terdapat 627 kematian akibat virus ini. Menyeramkan bukan?

Bisa dibayangkan bagaimana repotnya orang di Italia memakamkan jenazah sebanyak ini. Makanya tak heran, jika truk-truk besar milik tentara Italia dikerahkan mengangkut ratusan jenazah setiap harinya.

Italia merupakan negara dengan jumlah penduduk 60,48 juta jiwa. Ia memiliki tenaga medis kelas wahid. Tetapi apa lacur? Italia kini harus mengisolasi diri. Hanya bisa saling menyapa di balik jendela. Tapi ada kabar baiknya, di sana ada 5.129 orang dinyatakan sembuh dari puluhan ribu kasus corona yang ditemukan.

Nah bagaimana  dengan Indonesia, termasuk Papua?

Sepanjang Januari hingga Februari, Pemerintah Indonesia juga terkesan menganggap remeh virus ini. Tapi badan otoritas PBB melalui WHO sudah mengingatkan ulang-ulang, bahkan menganggap Indonesia sebagai negara yang aneh karena tak ditemukan satu kasus corona pun.

Keanehan itu terkuak sejak 2 Maret, ketika Presiden Jokowi resmi mengumumkan dua warga Depok positif terinfeksi virus corona. Dan apa yang terjadi 20 hari kemudian? Data per 22 Maret 2020 sebagaimana disampaikan Juru Bicara Pemerintah RI untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto sungguh mengejutkan. Jumlah meningkat tajam. Terdapat 514 orang positif terinfeksi virus ini, dimana 48 orang meninggal dan 29 orang dinyatakan sembuh. Dari 514 itu, 2 adalah warga Merauke, Papua.

Angka ini mendongkrak Indonesia naik ke posisi kedua setelah Italia sebagai negara dengan tingkat kematian tertinggi. Dan diprediksi oleh sejumlah pakar kesehatan akan meningkat tajam mendekati Italia hingga Mei mendatang. Mengapa?

Saya menemukan, ada kesamaan sikap yang ditunjukkan orang Indonesia dan Italia berhadapan dengan virus Corona. Sikap malas tahu, tidak percaya, dan anggap sepeleh. Tak jarang, di berbagai media sosial sepanjang Januari hingga Maret, corona menjadi bahan guyonan berupa meme yang beredar di media sosial.

Tapi kenyataan hari ini? Italia sudah menundukkan kepala dan menyesal. Tiba giliran kita untuk menghadapinya. Nah dengan karakter dan tabiat masyarakat yang suka bandel dan keras kepala, maka pemerintah harus agresif. Harus berteriak, merotan kalau perlu. Jangan lagi berbicara instruksi apalagi himbauan. Sebab karakter orang Indonesia, termasuk di Papua, tak jauh beda dengan warga Italia. Cuek, malas tahu, tak disiplin, dan sebagainya.

Harus diingat bahwa pemahaman soal virus ini belum masif hingga ke arah rumput. Penjelasan maupun sosialisasi terbaik justru hanya diperoleh melalui media sosial, dimana sebagian berisi hoax. Lalu siapa yang bisa dipercaya? Bagaimana dengan mereka yang tak  menggunakan handphone android yang tinggal di kampung atau dusun wilayah pedalaman dan terpencil?

Bisa dibayangkan jika di daerah pelosok Papua ada yang dinyatakan positif lalu pihak keluarga yang tak tahu soal virus ini terus beraktivitas bersama satu rumah, bersentuhan, tidur bersama dan pemahaman soal kebersihan masih sangat rendah. Di sinilah tugas pemerintah melalui Dinas Kesehatan untuk bisa memberikan pemahaman yang baik tanpa harus membuat panik yang akhirnya memunculkan stigma.

Saya menduga munculnya virus corona ceritanya akan sama seperti pertama kali HIV-AIDS ditemukan tahun 1996 di Papua. Jika ada yang positif HIV, maka orang itu akan dijauhi, bahkan kemungkinan akan dikucilkan dengan anggapan bahwa orang tersebut membawa sial. Hal ini bisa kita cegah bila pihak berkompeten mengedukasi masyarakat lebih dini.

Virus Covid 19 hingga kini hanya menyebar lewat  droplets atau percikan batuk air berupa air liur atau dahak. Makanya, saat ini lagi trend bahwa batuk harus beretika: memakai masker, menutup dengan tisu atau lengan. Dari cairan yang terjadi karena kontak fisik ini jika tempatnya di tangan kemudian tangan tersebut memegang wajah maka virus ini bisa masuk lewat tiga tempat yakni mukosa mata, mukosa hidung dan mukosa mulut. Karena itulah, setiap kita dianjurkan untuk lebih sering mencuci tangan agar tangan menjadi steril ketika memegang wajah.

Maka tak heran, di Papua orang ramai-ramai berburu masker ataupun hand sanitizer. Kedua benda ini yang dulunya jarang dipakai kini menjadi sesuatu yang wajib digunakan ketika bepergian kemana-mana. Ini bagi saya hanya bentuk kepanikan mengingat peruntukkan masker sejatinya lebih tepat digunakan untuk mereka yang sedang bergejala sakit corona agar tak menjangkit yang lain. Sayangnya, masyarakat kita sudah gagal paham di sini.

Namun yang terjadi adalah panic buying. Semua orang ingin memborong masker dan hand sanitizer hingga kedua barang ini menjadi langka di semua apotek. Sementara di banyak kasus, sebagian penjual memanfaatkan situasi ini untuk menimbun dan menaikkan harga dua kali lipat.

Jika benar Pemerintah Provinsi Papua menyiapkan anggaran sebesar Rp 171 miliar untuk mencegah penyebaran virus corona, paling tidak persoalan masker bisa teratasi. Akan tetapi masker tidak 100 persen memberi jaminan tidak tertular mengingat surgical mask yang biasa dipakai hanya mampu menahan virus 80 persen dan masker ini hanya bertahan 6 jam. Ini berbeda dengan masker N95 yang bisa menahan virus 100 persen namun harganya lebih mahal.

Gamel Abdel Nazer

Hemat saya, ketimbang berburu masker, alangkah lebih bijak masyarakat menjaga daya tahan tubuh (imun) yang baik. Memperbaiki imun tubuh adalah keharusan agar seseorang tidak mudah terserang virus. Banyak artikel yang beredar, sejumlah bahan makanan seperti jambu biji,  perasan jeruk nipis, buah naga ataupun jahe, madu dan kencur setiap hari dikenal di pasar-pasar di Papua bisa dikonsumsi untuk memperbaiki imun. So, tak perlu harus kepo dengan masker yang kesannya justru lebay. Atau, mau paling praktis, mengkonsumsi vitamin C.

Mirisnya lagi, di saat orang sehat berburu masker dengan alasan mengantisipasi, di situasi lain ada  puluhan bahkan ratusan dokter sedang berjuang bersentuhan langsung dengan pasien positif corona hanya dengan peralatan seadanya dan tidak sesuai standar. So, apakah virus yang jahat atau manusia dengan kepanikan dan ketamakannya yang secara tidak langsung justru membunuh orang lain?

Salah seorang sahabat saya yang bekerja sebagai tenaga medis menyayangkan sikap orang berbondong-bondong memborong masker dan hand sanitizer mengingat mereka yang setiap hari akan bersentuhan dengan pasien bertatus positif. Ini diwajibkan melengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD).

Mirisnya, APD sangat minim untuk Papua. Dari 5.000 unit yang dibutuhkan, Papua hanya memiliki tak lebih dari 100 unit sehingga dua hari lalu, petugas medis harus mengakali dengan membeli mantel hujan dan masker seadanya. Ada beberapa latban yang juga dibeli untuk memastikan  bahwa APD darurat yang digunakan  bisa lebih memproteksi, steril dari percikan. APD sendiri terdiri dari  masker N95, kacamata transparan, baju anti air dari kepala hingga kaki, sepatu, helem dan sarung tangan karet.

Menurut Wakil Juru Bicara (Jubir) Satgas Covid 19 Papua, dr Aaron Rumainum, M.Kes, untuk satu pasien Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dibutuhkan 260-an APD bagi petugas medis. Nah, di Papua kasus Covid-19 per 22 Maret 2020 adalah 2  orang dinyatakan positif,  7 orang PDP dan 472 lainnya berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Saya sangat setuju sikap Pemerintah Daerah di Papua, baik Provinsi Papua, Kota Jayapura maupun beberapa kabupaten yang mengambil langkah meliburkan aktivitas persekolahan dan kuliah serta mewajibkan ASN bekerja dari rumah selama dua minggu hingga awal April 2020. Tujuannya ialah melakukan karantina mandiri dengan berdiam di rumah untuk menjaga jarak (social distancing) manusia satu dengan yang lain, hindari kontak dan keramaian. Kebijakan seperti ini tepat karena terbukti cukup efektif menekan penyebaran virus ini. Pertanyaanya, apakah warga Papua bisa mematuhi kebijakan ini?

Pantauan selama sepekan terakhir, di Kota Jayapura maupun Kabupaten Jayapura, warga tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Kota Jayapura terbilang lebih responsif dimana kepala daerahnya memimpin langsung operasi penertiban. Sejak minggu kemarin, Satpol PP juga mulai diturunkan menertibkan warga yang nongkrong, berkelompok, bahkan sampai masuk ke pusat perbelanjaan.

Ini berbeda dengan di Kabupaten Jayapura dimana Sabtu pekan kemarin, warga beraktivitas seperti biasa. Di Pasar, Cafe, restoran  maupun jalan-jalan tetap tampak ramai. Padahal, Sentani menjadi satu pintu masuk orang dari luar Jayapura dan luar Papua dengan keberadaan Bandara Internasional berada di sana.

Sekali lagi, pandemi corona ini tak bisa dilakukan sendiri tetapi bersama-sama dan kompak. Ayolah, hanya 14 hari untuk berdiam diri dan itu bisa diisi dengan berkumpul bersama keluarga, memasak dan makan sama-sama. Atau merawat tanaman atau kreativitas lainnya di rumah.

Oleh karena itu, jika anjuran pemerintah tidak dipatuhi ya percuma saja waktu libur selama 14 hari. Mata rantai virus terus menyebar. Ini harusnya dilakukan masif, tidak hanya satu dua kelompok tetapi seluruhnya, termasuk pejabat. Yang baru datang dari luar Papua apalagi daerah terjangkit seperti anggota DPR maupun pejabat di eksekutif sepatutnya dengan kesadaran melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Pejabat patut memberi contoh agar masyarakat meniru, bukan sebaliknya. 

Hal kecil yang bisa jadi pembelajaran adalah ketika Jembatan Ring Road dibuka dan sepekan kemudian lokasi itu berubah seperti pasar malam. Warga tumpah ruah di sana menikmati bangunan beton merah nan megah itu. Namun seiring sering terhadinya kecelakaan yang memakan korban nyawa dan ketegasan aparat melakukan sweeping dan razia, akhirnya masyarakat sadar dan menghindar.

Terkadang kita di Papua harus diberi contoh konkrit barulah bergerak. Ada korban dulu baru sadar. Harus dirotan dulu baru berubah. Karena itu, kita minta pemerintah daerah harus tegas sebelum Papua  bernasib sama seperti Italia: memilih siapa yang berikutnya akan mati dan petugas medis kelelahan menghadapi tumpukan pasien di rumah sakit. Meninggal tanpa ditemani orang terkasih. Tanpa acara pemakaman, dan hanya diucapkan lambaian tangan dan air mata dari balik jendela rumah.

Menghadapi dampak wabah ini, hemat saya, Pemerintah Provinsi Papua tak perlu mengambil kebijakan lock down (pembatasan wilayah total). Apalagi, Presiden Jokowi sudah menegaskan hal itu. Semua harus mengikuti kebijakan Pemerintah Pusat. Yang harus dilakukan memperketat pengawasan terhadap keluar masuknya orang, baik lewat bandara maupun pelabuhan. Orang-orang yang baru tiba dari luar Papua, harus diedukasi dan ditegaskan untuk wajib mematuhi protokol Kemenkes agar mengisolasi diri selama 14 hari.

Hal penting lain yang harus dilakukan adalah mengawasi perilaku warga di seluruh Papua agar taat mengisolasi diri pada masa-masa yang telah ditetapkan. Kepolisian dan Satpol PP harus berani membubarkan kegiatan yang berpotensi memicu kerumunan atau menghadirkan banyak orang. Sungguh miris ketika kegiatan keagamaan di rumah-rumah ibadah saja dibatasi, sementara pesta, nongkrong dan huru-hara justru dilakukan yang memicu penyebaran virus.

Angka fatalitas atau penyebab kematian dari virus corona memang kecil. Hanya sebesar 3,4 persen. Itu pun rata-rata dipicu oleh penyakit  penyerta seperti TBC, diabetes atau jantung. Namun siapa saja sangat berpotensi bisa terjangkit virus ini. Ini yang sangat berbahaya! Apalagi, sebagian pasien yang positif corona tak menunjukkan gejala sakit sama sekali: tampak sehat.

Karena itu, sekali lagi, mari kita disiplin mengikuti kebijakan pemerintah, mulai dari diri, keluarga dan lingkungan kita: jaga jarak, hindari kerumunan, rajin cuci tangan, jaga imun tubuh, dan beraktivitas di rumah saja. Jika tidak, bukan tidak mungkin, kita juga akan menjadi korban virus ini. Mati dan dikubur dalam sunyi tanpa pamit terakhir orang-orang yang kita sayangi.

*Penulis adalah Wartawan Cenderawasih Pos.

Tulisan Ini Pernah Dimuat di Harian Cenderawasih Pos Edisi Senin, 23 Maret 2020 dengan Judul: “Tegas Atau Menunggu Waktu Memilih Jenazah”
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *