Jumlah Kasus Covid di Papua Tinggi, Pembatasan Penerbangan Diperpanjang?

Tampak Pintu Bandar Udara Sentani, Jayapura yang ditutup sejak 26 Maret 2020 lalu. (Foto: liputan6.com)

JAYAPURA (PB.COM)—Angka kasus penyebaran corona virus disease atau Covid-19 di Papua terbilang tinggi. Kendati pada Senin (06/04/2020) belum ada penambahan kasus positif dan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP), namun sehari sebelumnya Papua mencatat “rekor” 10 besar kasus positif Covid-19 terbanyak di Indonesia. Data nasional hari ini pun menunjukkan, Papua turun satu tangga ke urutan 11 dengan jumlah kasus sama dengan Sumatera Utara.

“Hingga Pkl. 18.00 WIT, masih seperti kemarin, jumlah positif 26 orang dan PDP 45 orang. Sementara ada penurunan cukup signifikan ada 2.354 ODP (Orang Dalam Pemantauan—Red.) sudah selesai masanya dan sekarang tinggal 3.498 ODP,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG (K) saat memberi keterangan pers kepada wartawan secara virtual, Senin (06/04/2020).

Kendati kasus terbilang tinggi, sikap tegas Gubernur Papua Lukas Enembe dalam mengambil langkah penting patut diapresiasi. Sejak 26 Maret hingga 9 April 2020, Pemerintah Provinsi Papua secara resmi menutup akses jalur penerbangan dan pelayaran ke Bumi Cendrawasih. Akses orang atau penumpang baik melalui laut maupun udara ditutup total hampir dua pekan ini guna mencegah penyebaran Covid-19 di Papua.

Para penumpang yang baru turun dari kapal di Kabupaten Nabire saat diperiksa petugas kesehatan pada pertengahan  Maret 2020 lalu.

Untuk memastikan kebutuhan pangan tetap aman, Gubernur Papua Lukas Enembe dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Negara, Selasa (24/03/2020) menegaskan bahwa akses bagi kapal barang dan pesawat kargo dari luar Papua tetap dibuka.

Bisa dibayangkan, seandainya kebijakan ini tidak cepat diambil, angka kasus mungkin dipastikan lebih tinggi dari jumlah yang ada hari ini. Sebab data tracing tim medis menunjukkan, rata-rata pasien yang positif terpapar Covid-19 di Papua adalah kasus impor dari luar Papua, terutama Lembang dan Bogor, Jawa Barat. Sementara setiap hari, ada sekitar belasan maskapai membawa ribuan orang datang dari luar Papua. Repot!

Tinggal beberapa hari lagi, kesepakatan pembatasan penerbangan dan pelayaran bersama Forkopimda dan seluruh bupati/walikota di Gedung Negara, 24 Maret 2020 itu  berakhir. Lalu bagaimana kebijakan selanjutnya menyikapi tingginya angka kasus Covid-19? Apakah masih berlanjut atau akses kembali dibuka?

Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Papua William R. Manderi, SIP.M.Si saat menggelar konferensi pers secara virtual kepada wartawan di Jayapura, Senin (06/04/2020) mengatakan pihaknya masih mengkaji dan mengevalusi perkembangan situasi dan akan melaporkannya kepada Gubernur Papua dalam waktu dekat.

“Tanggal 9 April sesuai kesapakatan kali lalu adalah hari terakhir pembatasan penerbangan penumpang dan kapal laut. Tetapi dari semua kejadian kasus Covid ini menjadi analisa yang akan kami kaji dan berikan kepada Gubernur untuk mengambil langkah, apakah menghentikan pembatasan itu, ataukah membuka. Karena kami melihat, selama dua pekan ini saja, tim surveilans dan tenaga kesehatan bekerja keras untuk melakukan pendampingan kepada ribuan ODP. Kalau kita buka transportasi ini, pasti berdampak besar,” ujar Manderi.

Faktor akses pelayanan kesehatan, terutama menyangkut minimnya fasilitas kesehatan, alat-alat kesehatan, dan tenaga medis di Papua adalah pertimbangan utama yang sangat mungkin membuat Pemprov Papua akan memperpanjang pembatasan transportasi ini. Nyawa manusia Papua harus diselamatkan dari virus yang sangat berbahaya ini.

Para penumpang yang baru turun dari kapal di Kabupaten Nabire saat diperiksa petugas kesehatan pada pertengahan Maret 2020 lalu.

Kendati, Menteri Perhubungan Ad Interim, Luhut Binsar Panjaitan dalam suratnya tertanggal 6 April 2020 yang ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri meminta Mendagri Tito Karnavian menyampaikan kepada semua kepala daerah untuk tidak menutup fasilitas transportasi seperti bandara dana pelabuhan laut.

“Sampai hari ini kami belum terima surat itu. Jadi saya pikir, jika surat itu sudah sampai di Pemerintah Provinsi Papua maka akan diambil langkah-langkah, dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan ekonomi,” kata Manderi.

Tetapi bagaimana solusi yang diambil menghadapi fakta kenaikan harga beberapa sembilan bahan pokok (sembako) di pasaran Kota Jayapura? Apakah ini mengindikasi telah menipisnya stok sembako akibat terhentinya pasokan dari luar?

“Kami memang sudah mendapat laporan dari Perindagkop bahwa beberapa bahan makanan seperti gula dan telur di pasar mengalami kenaikan. Esok kita akan ketemu tim dari dampak berkaitan dengan ekonomi agar turun ke lapangan untuk mengecek, sejauh mana peningkatan harga di pasar. Sekaligus mengecek stok dan langkah yang akan kami ambil untuk mendatangkan sembako dari Makassar atau Surabaya. Kami harap masyarakat tetap tenang dan tinggal di rumah. Mari kita gemaka hastag ini Saya Jaga Ko, Ko Jaga Saya, Kitorang Semua Selamat,” kata Manderi.

Bandar Udara Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Di saat Pemerintah Provinsi Papua belum mengambil langkah perpanjangan atau pembukaan akses penumpang dari dan keluar Papua, Jayawijaya selangkah lebih maju. Dalam rapat yang digelar di halaman Kantor Dinas Otonom Kabupaten Jayawijaya Jln. Yos Sudarso Wamena, Senin (06/04/2020), Forkopimda Jayawijaya sepakat memperpanjang pembatasan atau larangan bagi penerbangan penumpang ke Bandar Udara Wamena hingga 14 hari ke depan.

“Kita sepakat memperpanjang penutupan Bandara Wamena sampai 14 hari lagi dan kita akan melihat perkembangan situasi.  Kemarin di Timika ada informasi pendeta yang meninggal di Timika dan pada saat Almarhum meninggal ada sekitar 300 orang yang melayat. Kita antisipasi perkembangan situasi tersebut.  Apabila ada yang akan keluar dari Wamena dengan carter pesawat agar lakukan komunikasi dengan kami Pemda maupun aparat keamanan. Kita tutup total dulu penunpang yang keluar maupun masuk kecuali emergency agar jangan sampai masyarakat luar masuk ke Wamena,” kata Bupati Jayawijaya Jhon R. Banua. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *