Diprediksi WHO Lama Hilang, Masyarakat Harus Siap ‘Berdamai’ Dengan Covid

Salah satu sosialisasi penggunaan masker kepada masyarakat di Timika. (Sumber foto: seputarpapua.com)

JAYAPURA (PB.COM)Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan badan kesehatan dunia, WHO telah memprediksi bahwa kemungkinan besar virus corona tidak pernah benar-benar hilang, atau jika pun hilang akan berlangsung lama. Masyarakat di Indonesia diminta beradaptasi dan berdamai dengan virus ini dalam jangka panjang.

“Kita harus berdamai dengan virus ini, dengan norma hidup baru sesuai protokol kesehatan dan himbauan pemerintah,” kata Yurianto saat memberi keterangan pers tentang perkembangan Covid-19 yang ditayangkan di salah satu televisi swasta, Minggu (17/05/2020).

Lalu bagaimana dengan masyarakat di Papua yang juga kini diliputi kecemasan tentang wabah ini, dimana angka kasusnya telah mencapai 436 orang?

Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K)

Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) saat memberi keterangan pers secara virtual dari Media Center Satgas Covid-19 Provinsi Papua, Minggu (17/05/2020) menegaskan Papua hingga saat ini memang belum mencapai puncak kasus sesuai prediksi Pusat yakni 450 kasus.

“Tapi kita sudah mendekat prediksi itu, tinggal butuh 14 kasus. Kita akan lihat ke depan, apakah kita hanya akan tetap di angka 450 atau melewati angka itu. Tetapi bagi kami, masyarakat harus tetap waspada terhadap virus ini,” kata dr. Silwanus Sumule.

Menurut Sumule, yang dimaksudkan dengan masyarakat berdamai dengan Covid ialah membangun Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan tetap mematuhi himbauan pemerintah dan protokol kesehatan. Mulai dari Social Distancing (tidak berkumpul/tinggal di rumah), Physical Distancing (jaga jarak), Hygiene (cuci tangan) dan wajib memakai masker di luar rumah harus terus dilakukan.

“Hanya itu caranya agar kita berdamai dan bisa terhindar dari Covid-19,” tegasnya.

 

Belajar Dari Merauke

Dokter Silwanus Sumule juga meminta agar pemerintah daerah di kabupaten/kota dan Tim Gugus Tugas Covid-19 masing-masing di Provinsi Papua harus belajar dari Kabupaten Merauke yang dinilai sukses mengendalikan virus di wilayah itu.

RSUD Merauke yang menjadi rumah sakit regional di wilayah Selatan Papua.

Berdasarkan data, Merauke yang merupakan kabupaten dengan pasien Covid pertama di Provinsi Papua, saat ini memiliki 14 kasus dimana 10 pasien sudah sembuh, 4 pasien tengah dirawat, dan belum terjadi kasus kematian di sana. Bahkan, selama dua pekan lebih, tak ada tambahan kasus baru, sebelum 1 kasus baru pada hari ini, Minggu (17/05/2020).

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang luar biasa kepada teman-teman di Merauke. Setelah dua pekan lebih, baru dapat lagi 1 kasus. Itu bermakna bahwa apa yang dilakukan Tim Gugus Tugas, Dinas Kesehatan dan Pemerintah Daerah di Merauke di jalur yang benar dan harus menjadi acuan bagi kabupaten lain,” kata Sumule.

Sekretaris Dinas Kesehatan Papua ini juga menjelaskan, Kabupaten Merauke berhasil mengendalikan wabah di daerahnya karena sukses melaksanakan tiga kebijakan. Pertama, melalukan lockdown. Kedua, melakukan trace, test dan threat dengan baik. Ketiga, mereka mampu menemukan kasus sedini mungkin.

“Konsep besar penanganan dan pencegahan Covid yang sama, telah kami sampaikan kepada seluruh kabupaten/kota di Provinsi Papua. Namun yang melaksanakan dengan konsisten ialah Merauke. Kita harapkan daerah lain belajar dari mereka,” urainya.

Kendati demikian, Sumule juga menegaskan, Pemda Merauke harus tetap membangun kerjasama dengan tiga kabupaten lainnya di wilayah Selatan Papua yakni Boven Digoel, Mappi dan Asmat dalam penanganan dan pencegahan virus ini. Pasalnya, di Boven Digoel, kasusnya malah terus bergerak naik hingga saat ini, yaini 8 kasus, dimana 7 pasien sedang dirawat dan 1 sembuh.

“Boven Digoel makin naik karena mobilitas masyarakat makin tinggi. Oleh karena itu harus dipantau mobilitas di daerah-daerah perbatasan di wilayah Selatan. Bangunlah hubungan kerja yang baik di antara pemerintah daerah di wilayah Selatan untuk kerja surveilans menemukan kasus baru. Kemudian RSUD Merauke sebagai rumah sakit regional di Selatan Papua juga harus tetap mempersiapkan diri, jangan mundur, jangan turun kerjanya karena bisa jadi kasus-kasus baru ke depan akan dirujuk ke sana,” tutupnya. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *