Pandemi Influenza, Covid-19 dan New Normal: Melihat di Belakang Layar

Oleh Dr.Robby Kayame, SKM.MKes;  Dr. dr. Arry Pongtiku, MHM; Evelina Aragae, S.Gz,MPH; Meggi Betli Antaribaba,S.Kep; Arief Rahman, SKM;  Anjelin Mote, S.Kg*

 

MAHALIA JACKSON, seorang gospel legend  dari  Amerika Serikat menyanyi  lagu “Trouble of the world” …..soon will be began trouble of the world…going home to live with God …No more!  Weeping unwilling.  Lagu ini menceritakan “dunia mengalami masalah besar  … segera akan  tiba … kembalilah hidup bersama Tuhan… tak ada tangis lagi”.

Dunia pernah mengalami guncangan yang hebat dengan adanya  wabah penyakit influenza  yang mengenai hampir seantero dunia yang disebut pandemi.  Flu Spanyol dianggap sebagai pandemi terbesar dan paling mematikan dalam sejarah modern. Flu Spanyol  dijuluki sebagai “bencana terburuk abad ke-20”. Jumlah angka kemaatiannya lebih dari 50 juta orang atau lebih besar dari korban Perang Dunia I yang diperkirakan  16 juta jiwa.

Pada Abad ke 21 muncul wabah influenza baru yang disebut Corona Virus Disease di akhir tahun 2o19 atau dikenal Covid-19.  Hingga tanggal 9 Juni 2020, virus ini telah menginfeksi  7,3 juta penduduk dunia dan merenggut 412.990 jiwa. Tulisan ini memfokuskan sejarah pandemi terbesar abad 20 dan abad 21 yaitu  Influenza sampai Covid-19  memasuki kebijakan New Normal dan pesan kesehatan apa yang diberikan.

 

I. FLU SPANYOL

Flu Spanyol tidak ada hubungannya dengan asal-usulnya yang keliru dijajakan oleh media pada waktu itu. Pandemi flu tahun 1918 disebut Flu Spanyol (Spanish Flu) karena selama Perang dunia I (ketika Spanyol tetap netral), negara itu pertama kali melaporkan kematian akibat flu di sejumlah media surat kabar. Komentator segera menjuluki nya “Flu Spanyol”. Raja Spanyol menjadi korban flu . Media AS dan Eropa segera menyebutnya “flu Spanyol”. Dijuluki strain  influenza baru Soldado de Napoles atau Soldier of Naples setelah lagu dalam opera Spanyol yang populer. Lagu hit itu begitu menarik sehingga dikatakan menyebar seperti flu.

Hippocrates yang dikenal sebagai “Bapak Kedokteran’, mencatat epidemi influenza pertama diketahui pada tahun 412 SM.  Gargliarde pada tahun 1733 menggunakan istilah influenza yang berasal dari bahasa Italia  “pengaruh”  yang arti aslinya penyakit dari surga. Orang Italia kuno percaya bahwa ada hubungan dekat antara bencana dan fenomena Astronomi.  

Diperkirakan 500 juta penduduk dunia terserang Flu Spanyol dan membunuh sepersepuluh penduduk planet ini. Kematian mencapai 50 juta orang atau lebih tinggi dari korban Perang Dunia Pertama 16 juta orang. Flu lebih banyak menewaskan orang dalam satu tahun dibandingkan Wabah Bubonic atau disebut Black Death empat tahun dari tahun 1347 hingga 1351. Flu Spanyol  yang mematikan terjadi pada tahun 1918 itu, sebelum ditemukan antibiotika oleh Prof. Alexander Fleming (1928), dosen bakteriologi dari Rumah Sakit St.Mary di London.

Hampir seluruh dunia terpapar oleh influenza  (Spanish Flu) yang menyebar dari Inggris dan Perancis dan Amerika Utara kemudian ke negara-negara lainnya sampai ke Selatan di Australia seperti pada peta gambar 4 di atas. Dari mana asalnya wabah ini? Mark Humpries dari Universitas memorial Kanada mencatat mobilisasi  tenaga buruh 94,000 orang yang berasal dari China yang membantu perang dibelakang  Inggris dan Perancis  pada Perang Dunia I. Humpries mendapatkan catatan medis (medical  record) lebih dari 3.000 dari 25.000 buruh China yang mempunyai gejala seperti flu. Setelah tiba di Perancis banyak yang berobat ke Rumah Sakit China, ratusan orang China meninggal dengan gejala gangguan pernapasan seperti flu. Diduga penyebaran influenza mengikuti mobilisasi penduduk ini.

Untuk mencegah Influenza disarankan  jangan menghirup nafas seseorang, jaga kebersihan mulut dan gigi, hindari dari batuk dan bersin, dan jangan pergi ke tempat yang ventilasi buruk. Juga selalu jaga kehangatan, dapatkan udara segar dan sinar matahari, jangan menggunakan gelas dan handuk bersama. Kemudian, harus tutup mulut pada saat batuk dan bersin hindari kekuatiran, ketakutan dan kelelahan, tinggal di rumah pada saat anda flu. Jik harus jalan ke tempat kerja atau kantor dan di ruang perawatan wajib menggunakan penutup wajah (masker). Pada poster yang ke dua di Chicago, jika anda flu, batuk dan bersin, jangan masuk ke tempat kerja ini pulang ke rumah dan tidur, anda pasti akan sehat (pentingnya beristirahat).

Etika atau aturan jika anda menderita Influenza antara lain: Aturan Pertama, ketika Anda batuk atau bersin, tundukkan kepala gunakan saputangan menutupi mulut dan hidung. Aturan Kedua, jangan menaruh tangan, pensil atau barang-barang lainnya ke dalam mulut yang bukan milik Anda dan jangan menggunakan peralatan minum bersama.  Bibit penyakit menyebar melalui sekresi mulut dan hidung pada orang sakit atau karier.

 

II. PANDEMI COVID-19

Pandemi  dengan gejala seperti influenza disebabkan  virus Corona. Covid-19 adalah singkatan Corana Virus Disease 19 yang pertama kali dilaporkan di Wuhan pada tahun 2019. Kata “corona” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “mahkota”, dengan permukaan virus seperti  duri. Virus ini adalah virus yang berkapsul dengan untaian tunggal RNA pada genomenya dengan ukuran sangat kecil  diameter  16-125 nm.  Struktur penting virus ini adalah selubung protein (E), membrane protein (M) yang menghubungkan virus dan duri protein (S) yang membantu untuk memasuki sel-sel inang/host.

Virus Corona  dapat menginfeksi manusia, mamalia dan unggas. Pada tahun 2002, virus ini diidentifikasi di provinsi Guandong China yang menyebabkan gangguan pernapasan berat  atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Tterakhir, virus ini dikonfirmasi dari  keluarga Beta –Corona virus yang diberi nama SARS-CoV . Pada  tahun 2012 Saudi Arabia  mengidentifikasi virus corona lainnya dari keluarga Beta (β) corana  virus diberi nama Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV). Tahun 2019, Corona virus baru  yang menyebabkan outbreak (wabah) seperti  penyakit SARS di Wuhan, China yang menyebabkan gangguan pernapasan berat  atau Severe Acute Syndrome Corona Virus -2 (SARS-CoV-2) atau sekarang lebih mudah mengingatnya dengan Covid-19.

Bagaimana laju reproduksi virus Covid-19? Kecepatan atau laju reproduksi virus disingkat Ro dalam bahasa Inggris disebut Basic Reproduction Number.  Covid-19  penyebaran melalui droplet (percikan ludah)  lebih lambat  dibandingkan penyebaran lewat udara (aerosol).  Ro atau R naught seperti campak 12-18 dan melalui aerosol (udara), batuk rejan atau pertusis  5,5. Flu Spanyol yang terjadi 100 tahun lalu Ro diperkirakan 1,4-2,8,  sedangkan Covid-19 mempunyai Ro 2-3. Di Indonesia Ro Covid-19 diperkirakan 2,5. Artinya, 1 orang dapat menularkan 2 sampai 3 orang  atau dalam 10 orang positif  Covid-19 dapat menularkan 25 orang.

Gejala umum penyakit Covid-19 berupa batuk kering, demam, nyeri menelan, sakit kepala, kelelahan, badan terasa nyeri, diare, beringus, napas pendek/sesak napas, dan depresi. Dokter dapat pula menemukan tanda klinis, pemeriksaan foto rontgen dan CT scan yang khas. Dalam penjaringan dan penapisan di masyarakat saat ini digunakan tes cepat Rapid Test Covid-19 dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) yang dapat membuktikan adanya virus hidup (RNA) dari Covid-19. PCR menjadi standar utama (gold standard) pemeriksaan Covid-19.

Dari pecahnya wabah Covid-19 di Wuhan pada Desember 2019 menyebar  hingga tanggal  9 Juni 2020 telah mengifeksi hampir semua negara di dunia (215 negara) sebanyak 7.310.901 orang   dan kematian 412.990 orang (worldometer.com).

Data dunia dibagi 2 yaitu yang sudah selesai penanganan disebut Closed Cases, dimana dievaluasi ada sekitar 4.007.016 orang terjangkit yang dinyatakan sembuh sebanyak 3.594.026 atau 90% dan kematian sebesar 412.990 atau 10%. Sedangkan yang masih berobat atau Active Cases ada 3.303.824 orang, dimana dalam kondisi ringan termasuk tidak bergejala ada 3.249.884 orang atau  98%. Sementara dalam kondisi berat /kristis hanya 53.940 orang (2%). Angka kesembuhan Covid-19 sangat tinggi 90%. WHO juga melaporkan 80% orang terserang Covid-19 dapat sembuh tanpa penanganan khusus. 

Dari 215 negara terpapar Covid-19 ada 10 negara  jumlah kasusnya besar yaitu Amerika Serikat, Brazil, Rusia, Inggris, Spanyol, India, Italia, Peru, Jerman dan Iran. Jumlah kematian tinggi berada di Amerika Serikat, Inggris, Italia dan Spanyol seperti tabel di gambar 14 atas. Beberapa alasan kenapa kasus ini tinggi di negara-negara tersebut. Amerika Serikat karena terlambat lockdown, kurang usaha-usaha pencegahan, tidak ada larangan bepergian/mobilitas. Italia dan Spanyol  mempunyai  populasi banyak usia tua, terlambat lockdown, kurang usaha-usaha pencegahan, tidak cepat melarang bepergian. Di  Iran  tidak tersedia obat dan alat, terlambat lock down, kurang usaha pencegahan, terlambat pembatasan orang bepergian, sangsi ekonomi, tidak ada larangan orang berkumpul kegiatan keagamaan.

Di sisi lain ada  negara-negara cukup berhasil  mengendalikan Covid-19 seperti Taiwan dengan  proaktif  pemeriksaan penumpang, membuat strukstur pengendalian efektif  dan efisien, manajemen informasi dengan aplikasi, produksi masker, hand sanitizer, alat –alat kedokteran oleh pemerintahnya. Korea Selatan dengan screening masif. UAE (Uni Arab Emirates) sekolah ditutup dengan cepat, pembelajaran lewat online, kerja dari rumah, pengunaaan sanitasi, tutup mal, tersedianya alat-alat proteksi individu dan kesehatan, lock down, transportasi publik dihentikan, pelayanan mencegah penyebaran Covid-19, naiknya suhu. India berhasil mengendalikan karena kerja dari rumah, semua pelayanan dihentikan kecuali pelayanan darurat, Jana curfew (masyarakat sendiri menutup pintu rumah mereka dari jam 7 malam hingga jam 9 pagi), lockdown metropolitan, naiknya suhu/temperature.

Indonesia menduduki urutan 35 dari jumlah orang yang terpapar Covid-19 dengan jumlah kasus per 9 Juni sebesar 33.076 dengan kematian 1.923 (6%).  Dalam  jumlah kasus Corona Negara-negara di dunia, dari urutan  26 sampai 36  angka kematian tertinggi  ada di Ecuador. Singapura kasusnya lebih besar dari Indonesia  tetapi  angka kematiannya sangat rendah yaitu 25 orang saja. Kunci keberhasilan Singapura meminimalisir resiko kasus Impor, deteksi  kasus secara dini dan meminimalisir penyebaran. Sejak akhir April 2020 Singapura melakukan 8.000 tes perhari. Transparansi data dianggap faktor penting melawan virus Corona.

Papua adalah salah satu provinsi yang telah melakukan penanganan Covid-19 dengan baik. Pemda se-Papua sudah melalukan penutupan bandara dan pelabuhan sejak 26 Maret 2020 diikuti dengan “Pembatasan Sosial Diperluas dan Diperketat (PSDD)”. Sekolah dan aktifitas kantor ditutup dan diganti dengan bekerja dari rumah (work from home). Toko-toko dan pasar dibatasi waktunya. Pemerintah mengedepankan usaha-usaha pencegahan yang direkomendasikan oleh WHO yaitu social distancing (hindari berkumpul), physical distancing (jaga jarak), hygiene (cuci tangan dan jaga kebersihan), dan olah raga. Pemerintah mengajak partisipasi masyarakat dan kerjasama lintas sektor termasuk TNI dan polisi dalam gugus tugas, penanganan ini lewat Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Penemuan kasus positif yang tinggi adalah kunci dalam memutuskan rantai penularan. Kasus positiflah yang bertanggungjawab terhadap penyebaran Covid-19. Penemuan kasus yang tinggi dikarenakan model penemuan kasus aktif, melakukan Rapid Test Masif di populasi yang beresiko seperti pasar (pedagang, penjual ikan,penjual sayur), sopir, pemukiman di tempat padat, petugas kesehatan, asrama, dan penjara. Kemudian diikuti konfirmasi PCR.

Infografis Covid-19 di Papua tanggal 9 Juni 2020 Kasus positif  kumulatif sebanyak 1110 kasus, dirawat 793 orang (72%), sembuh 303 (27%)  meninggal 14 orang (1%). Covid -19 telah menyebar di 14 kabupaten kota dan 15 kabupaten lain di provinsi Papua. Ada 2 kabupaten yang dulu terpapar sekarang sudah tidak ada kasus yaitu Mamberamo Tengah dan Supiori, sebagaimana gambar 16 di atas. Saat ini Papua melakukan relaksasi yaitu mengurangi PSDD  yang disebut Relaksasi Kontekstual Papua setelah hampir 4 bulan melakukan pembatasan dan pengetatan sambil memonitor perkembangannya.

Papua dengan dukungan penuh pemerintah, stakeholder dan partisipasi masyarakat berusaha memutuskan rantai penularan dengan menemukan kasus positif sebanyak mungkin. Penemuan kasus secara aktif melalui tes, pelacakan, pengobatan dan isolasi. Dari grafik pada gambar 17 di atas, kita bisa melihat bahwa grafik tertinggi pada minggu ke-22 namun kita masih perlu beberapa minggu ke depan sehingga kita benar-benar tahu kapan puncak kasus.  Grafik yang diharapkan berbentuk lonceng yaitu naik sampai ke puncak dan kemudian menurun atau melandai.

Salah satu indikator melihat kecenderungan penularan dengan melihat laju reproduksi virus. Pada tanggal 2 Juni 2002 dengan menggunakan data harian yang dilaporkan kita melihat angka Rt Papua sudah 1 dan tren itu menurun dengan tajam karena meningkatnya jumlah test dan penemuan aktif serta usaha-usaha pencegahan ditegakkan. Kita harus mendapatkan Rt dari 1 sehingga penularan virus bisa ditekan dan tidak menyebabkan masalah di masyarakat. Kita bisa melihat Kota Jayapura, Kabupaten Mimika, Kabupaten Jayapura, Biak, Merauke dan Boven Digoel dari waktu ke waktu menemukan kasus positif yang banyak, diobati, diisolasi dan sembuh dan menurunkan laju penularan dan usaha-usaha pencegahan terus dijalankan.

Kita bisa mendapatkan kesan apakah laju kasus Covid-19 menunjukkan perbaikan dengan menggunakan modeling Rt dengan menggunakan alat aplikasi EpiEstim. Laju Penularan Covid-19 Provinsi Papua dari waktu ke waktu menunjukkan penurunan per tanggal 2 Juni 2020, Rt sebesar 1. Garis putus-putus menunjukkan estimasi angka Rt yang sesungguhnya berada dalam rentang ini. Seiring peningkatan jumlah tes, kepercayaan terhadap estimasi pun meningkat dan dapat menyebabkan garis putus-putus (atas dan bawah) berfluktuasi, berkontraksi dan menyempit.
Secara umum Provinsi Papua pengendalian Covid-19 dihubungkan laju reproduksi virus adalah trend yang membaik. Laju Virus harus ditekan hingga Rt < 1 dan harus dipertahankan paling sedikit 14 hari. Yang ideal menggunakan estimasi Rt berdasarkan Onset (mulai timbul gejala penyakit), dapat pula menggunakan waktu pengambilan Swab. Pada gambar /grafik kami menggunakan kasus harian yang dilaporkan.

Usaha-usaha pencegahan terus dikedepankan pada saat relaksasi kontekstual Papua, Pegawai Negeri Sipil telah masuk kantor dan dalam praktek seperti Apel Pagi , mereka melakukan physical distancing.

 

III. NEW NORMAL

 Presiden RI Joko Widodo dalam keterangan pers  15 Mei 2020  mengatakan “Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru. Tapi kehidupan yang berbeda itu bukan kehidupan yang penuh pesimisme atau ketakutan.” Pernyataan Kepala Negara ini menegaskan bahwa kita akan hidup berdampingan dengan virus corana, karena virus ini memang tidak akan hilang sama sekali tetapi dapat ditekan dan tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.

New normal berarti kita memasuki kehidupan baru, kita akan kembali produktif dengan tetap menerapkan mekanisme pencegahan. Usaha-usaha pencegahan dilakukan seperti tidak berkumpul, jaga jarak, cuci tangan setelah beraktivitas, pakai masker, makan bergizi dan berolah raga. Pada saat yang sama pendekatan karantina untuk pintu masuk ke satu wilayah dan pengamatan penyakit (surveilans) akan dikedepankan. Pemerintah akan melakukan berbagai langkah membantu masyarakat dengan kehidupan New Normal.

Kementerian Kesehatan RI bersama Tim Gugus Tugas Covid-19 menegaskan bahwa untuk masuk ke New Normal, suatu daerah bisa menunjukkan bahwa masalah Covid-19 dapat dikendalikan. Ada  15 indikator berbasis data   harus bisa dicapai sebelum memasuki New Normal tersebut, seperti gambar 21 di bawah ini.

WHO dan Bappenas  secara umum juga memberikan indikator. WHO memberikan 6 (enam) syarat  memasuki New Normal. Pertama, kemampuan untuk mengendalikan penularan, Kedua, sistem Kesehatan mampu, mendeteksi, mengetes, mengisolasi dan melakukan pelacakan kontak terhadap semua kasus positif. Ketiga, meminimalisasi resiko wabah khususnya di fasilitas kesehatan dan panti jompo. Keempat, sekolah, kantor dan lokasi penting lainnya bisa dan telah menerapkan upaya pencegahan. Kelima, resiko kasus impor ditangani. Keenam, komunitas masyarakat sudah benar-benar teredukasi, terlibat dan diperkuat untuk hidup dalam kondisi  normal yang baru.

Sementara itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas) memberikan 3 (tiga) syarat memasuki new normal. Pertama, angka tingkat penularan (Ro) basic reproduction number di Indonesia dan daerah yang hendak dilonggarkan PSBB-nya berada di bawah 1. WHO mensyaratkan Ro-nya   atau Ro pada waktu T(tertentu) Rt -nya, setidaknya dalam waktu 14 hari di bawah 1. Kedua, perbandingan jumlah kasus Covid-19 tak boleh melebihi 60 persen infrastruktur kesehatan yang digunakan.  Artinya, jika suatu rumah sakit memiliki 100 tempat tidur, hanya 60 tempat tidur digunakan untuk merawat pasien Covid-19. Ketiga, jumlah tes yang cukup tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk suatu negara atau daerah.

Kementerian Kesehatan RI  mensyaratkan 15 indikator untuk masuk New Normal dan membagi atas 3 bagian besar yaitu indikator epidemiologi, indikator surveilans kesehatan masyarakat dan  indikator pelayanan kesehatan seperti gambar 21 di atas. Indikator yang diberikan data yang lebih persis bagaimana kita bisa lebih produktif di tengah masih ada virus corona dan belum tersedianya vaksin untuk menangkal lebih spesifik virus ini. Pada Indikator ke 15 Rt atau angka reproduksi efektif virus dijadikan indikator pelengkap atau triangulasi, mengecek dan memperkirakan bahwa laju reproduksi virus menurun lewat permodelan.

Mengedepankan upaya-upaya pencegahan seperti social distancing, physical distancing, hygiene dan wajib masker adalah upaya pencegahan yang murah dan mudah. Covid-19 mewajibkan kita mengubah perilaku kehidupan kita. Contoh, seorang pegawai kantor  dalam kehidupan sehari akan selalu memakai masker, minum vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tetap menjaga kebersihan dengan membawa tisu basah, hand sanitizer, bawa alat makan sendiri, dan membawa alat sembahyang sendiri bagi yang muslim (sajadah sendiri).

Contoh lain, isi tas anak sekolah dalam masa New Normal berisi botol minum, seperangkat alat makan, semprotan disinfektan, sabun cair, tisu basah, tisu kering, cadangan masker, alat ibadah pribadi, hand sanitizer, jaket,  masker yang modis, kantong belanja, hand sanitizer,  bahkan alat bantu buka pintu. Tentunya perubahan perilaku juga akan berdampak pada biaya hidup.

Jika pergi berbelanja orang akan memakai sarung tangan, wajib masker, pakai baju lengan panjang, bawa tisu basah dan hand sanitizer. Lebih jauh lagi di rumah sakit memperhatikan standar pelayanan seperti mempunyai ventilasi yang baik, HEPA filter, maupun protokol kesehatan yang ketat. Dokter dan perawat akan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) dalam kesehariannya. Sekolah-sekolah akan terus mengembangkan pembelajaran jarak jauh dan menggunakan media sosial, internet dan apabila telah masuk sekolah protokol kesehatan dan pengaturan dalam kelas untuk physical distancing, tersedia tempat cuci tangan, pengecekan suhu tubuh menjadi bagian protokol kesehatan.

Kita juga paham dunia kini terhubung satu dengan yang lain, kota ke kota, satu negara ke negara lain. Oleh karena itu, sistem karantina di bandara dan pelabuhan akan menjadi hal utama untuk menyaring masuknya penyakit menular atau potensi menular. Orang akan lebih paham pentingnya imunisasi dalam mencegah penyakit. Orang akan hidup lebih sehat dengan gaya hidup sehat dan berolahraga rutin guna mengurangi resiko penyakit-penyakit penyerta/komorbid seperti diabetes, paru, hipertensi, jantung, HIV. Penggunaan obat tradisonal dan alternatif, minum suplemen vitamin C dan D, terpapar sinar matahari juga menjadi hal penting untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Pengendara motor di New Normal akan membawa helm masing-masing, wajib pakai masker, bawa tisu basah, membawa disinfektan dan sarung tangan. Banyak hal-hal yang tidak bisa dihitung  atau kehilangan social cost seperti silahturami yang makin berkurang dan orang lebih banyak menggunakan telpon, whatsapp, atau zoom dalam berkomunikasi. Tempat-tempat pelayanan public dan tempat ibadah harus diatur sehingga ada jarak dan tidak berdesakan. Kantor-kantor  wajib mengikuti  protokol kesehatan. Sosialisasi dan penyiapan New Normal harus terus disampaikan kepada masyarakat.

Akhirnya, ada pembelajaran yang terjadi di balik kejadian-kejadian hidup, belajar dari sejarah, belajar dari kegagalan dan banyak hal dibayar mahal  untuk suatu kebaikan saya, Anda, dan kita semua. Hidup harus terus berjalan dengan adaptasi cara kita. Papua pasti bisa.

Kami ingin mengambil cuplikan lirik lagu “Ketika Hidup Itu Baik Lagi” (When Life is Good Again) yang dinyanyikan oleh Dolly Parton untuk kita renungkan bersama:

“………Kami bertekuk lutut
Kami merasa sangat tidak nyaman
Tidak ada jaminan
Tapi Anda tahu hidup terus berjalan
Ini juga akan berlalu
Bawa hari baru dan berbeda
Kita perlu mengubah cara kita
Dan memperbaiki kesalahan kita
Mari buka hati kita. Dan biarkan seluruh dunia masuk
Mari kita coba menebus kesalahan
Ketika hidup itu baik lagi
”………

*Penulis Adalah Kepala Dinas kesehatan Provinsi Papua & Tim Data dan Informasi Posko  Dinkes  Covid-19. Korespondensi: [email protected]

Kepustakaan:

  1. Samir Haj Bloukh, Annis A Shaikh, Habib M Pathan , Zehra Edis. 2020, Prevalence of Covid-19: A look behind the Sceneshttps://www.researchgate.net/publication/340664028.
  2. Spanish flu 1918 vs Covid-19, Wikipedia free encyclopedia, akses 10 Juni 2019
  3. Data Covid-19, Dinas Kesehatan Provinsi Papua
  4. Kementrian Kesehatan RI, 2020. Indikator Persiapan New Normal.
  5. Tangerang, 2020. Gambar New Normal,www.tangerangkota.go.id.
  6. com,2020. Data Covid-19, akses 10 Juni 2020

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *