Peluang Terapi Covid-19 Menggunakan  Sel Punca

Oleh dr. Hendrikus MB Bolly, M.Si., SpBS.,FICS., AIFO-K*

JUMAT, 12 JUNI 2020, tim peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengumumkan lima kombinasi obat yang diyakini bermanfaat bagi penderita Covid-19 di Indonesia. Setiap kombinasi obat memiliki fungsi mulai dari mencegah virus masuk ke dalam sel sehat, menghambat replikasi (memperbanyak diri) virus SARS CoV-2, dan mencegah pertumbuhan virus. Sampai saat ini memang, banyak sekali tim peneliti di seluruh dunia berpacu dengan waktu berusaha membuat, mengembangkan dan menguji komposisi obat yang dapat membantu umat manusia mengatasi penyakit Covid-19 ini. Salah satu yang terus diteliti dan diuji efektifitasnya adalah terapi menggunakan sel.

Terapi sel yang dimaksud adalah terapi menggunakan sel punca. Sel punca adalah sel dengan karakteristik yang unik karena belum berdiferensiasi dan mampu memperbanyak diri sendiri. Sel punca bukanlah teknologi terapi yang baru, namun peluang digunakan dalam berbagai penyakit terus menantang peneliti di berbagai belahan dunia karena keunggulannya.

Sel dalam tubuh manusia berasal dari 3 indukan sel sejak manusia dalam perkembangannya mulai dari zigot hingga akhirnya lahir sebagai manusia; dikenal sebagai kelompok endoderm, mesoderm dan ektoderm. Ketiga kelompok ini akan merubah dirinya menjadi berbagai jenis organ dalam tubuh manusia, misalnya system saraf dari ektoderm, usus dari endoderm dan seterusnya.

Sel punca adalah sel yang memiliki kemampuan merubah dirinya menjadi salah satu dari kelompok tersebut (multipoten) atau bahkan lebih dari satu kelompok jenis sel tersebut (pluripoten). Sel punca yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sesungguhnya sel hidup. Sel hidup yang tidak dikemas dalam bentuk kapsul, tablet, krim atau lainnya. Sel adalah sel. Suatu material yang hidup, sehingga penulis tidak membahas berbagai produk obat yang saat ini banyak “diklaim” memiliki kandungan sel punca (stem cell).

Lalu bagaimana peluang sel punca digunakan sebagai terapi pasien Covid-19? Per April 2020, telah ada 27 uji klinis yang terdaftar menggunakan sel punca (khususnya sel punca mesenkimal, SPM) untuk mengobati pasien Covid-19. Pertanyaan terbesar yang masih harus dibuktikan dan dijawab adalah, apakah penggunaan terapi sel punca akan membunuh secara langsung virus penyebab Covid-19 atau secara tidak langsung dengan menyediakan efek perlindungan dari serangan “merusak” yang disebabkan oleh virus pada organ manusia?

Dalam arti, sel punca menyediakan suatu mekanisme yang membuat tubuh mampu mengaktivasi, menumbuhkan dan menggerakkan bala tentara internal (sel imun) untuk berperan melawan virus dan produk turunan virus dalam tubuh. Terkait hal tersebut maka setelah diberikan secara sistemik melalui penyuntikan, SPM diharapkan hanya akan menuju ke daerah yang telah rusak karena serangan virus, yaitu di endotel paru-paru. Memang proses ini unik dan masih penuh misteri. Namun, penelitian terkini menggunakan zat yang mampu mendeteksi keberadaan sel punca yang disuntikan, diketahui bahwa sel punca tersebut akan bertahan di paru-paru dan akhirnya menghilang dalam waktu 24-48 jam setelahnya.

Hilangnya sel tersebut pun masih harus diteliti, apakah sel punca mati, dieliminasi dari tubuh, atau diserang oleh sel imun tubuh sendiri. Sementara harapan terbesar terapi menggunakan sel punca ini adalah bahwa sel punca memiliki kandungan besar sitokin yang bekerja sebagai bala tentara yang sifatnya anti peradangan, protein anti mikroba, berbagai faktor pertumbuhan pembuluh darah, dan sel-sel imun itu sendiri.

Secara sederhana dapat dibayangkan layaknya tentara dengan semua perlengkapannya yang diterjunkan ke medan perang, harapannya tentara tersebut dapat bertahan selama peperangan dengan semua logistik yang dimiliki (senjata, makanan, minuman, obat-obatan, dll). Tentara tersebut harus terus bertahan dan menang melawan musuh, kalapun menghilang dari medan perang, harus diketahui apakah tentara tersebut mati karena serangan musuhnya, mati karena kelaparan, bisa bersembunyi, ditawan oleh musuh atau justru “berkhianat” menjadi musuh.

 

Demikianlah analogi yang dapat mewakili peranan sel punca sebagai “balatentara” melawan musuh virus SARS CoV-2. Menggunakan sel punca dalam terapi pasien Covid-19 memang masih harus menempuh jalan panjang, namun perjalanan tersebut saat ini telah dan terus berlangsung. Penelitian masih terus dilakukan dan bukti-bukti baru terus diperoleh. Harapan selalu ada dan tidak hilang. Kerja keras peneliti sedikit demi sedikit memberikan persentasi peluang keunggulan yang terus meningkat.

Bagaimana Cara Kerja Sel Punca?

Sel punca mesenkimal dapat  diperoleh dari sum-sum tulang belakang, jaringan lemak tubuh, tali pusat, darah tali pusat dan plasenta. Pengujian kemampuan sel punca dimulai dari gerbang masuk virus. Virus penyebab Covid-19 ini diketahui masuk melalui saluran pernapasan karena adanya reseptor Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) yang akan mengikat virus tersebut. Kemampuan sel punca dalam hal ini terbukti tidak mendukung kerja reseptor ACE2 dalam menerima kehadiran virus serta menghasilkan “senyawa” baru yang justru menghalangi pengikatan virus ke reseptor ACE2. Dengan demikian, virus tidak dapat masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi terutama di saluran pernapasan.

Pada percobaan menggunakan SPM dari sum-sum tulang pada tikus yang terinfeksi virus influenza H1N1 memberikan bukti bahwa SPM pada hari ke-7 memiliki efek penyembuhan yang sama seperti obat anti virus lainnya. Demikian juga hasil pengujian penyuntikan SPM di trakea manusia dan tikus terinfeksi virus H1N1 juga memberikan hasil positif efek penyembuhan yang menjanjikan. Salah satu hal yang menarik adalah pada saat pengujian terapi sel punca pada penyembuhan infeksi virus H5N1 justru sangat menjanjikan pada pasien berusia lanjut dibanding pasien berusia muda. Tentu hal ini menggembirakan jika saja telah banyak bukti klinis baru yang menjanjikan pada pandemik virus SARS CoV 2 ini, mengingat mayoritas penderita dan kematian karena Covid-19 ini justru banyak pada usia lanjut.

Berbagai faktor pertumbuhan yang ada dalam SPM memiliki efektifitas yang baik dalam perlawanan tubuh secara alamiah melawan efek kerusakan karena virus. Pada pengujian terbaru salah satu tim peneliti di Rumah Sakit YouAn di Beijing  China baru-baru ini pada pasien Covid-19 yang dirawat di ICU, terdiri atas 1 pasien sangat kritis, 4 pasien kritis dan 2 pasien covid-19 menunjukkan efek SPM yang menjanjikan. Pada ke-7 pasien tersebut diberikan SPM dari sum-sum tulang belakang dengan jumlah 1 juta sel per kilogram berat badan dalam 100 ml cairan infus.

Pasien kemudian diamati selama 14 hari sejak pemberian. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada pasien yang mengalami keracunan pemberian SPM, tidak ada reaksi alergik, tidak ada tambahan infeksi sekunder selain Covid-19, tidak ada reaksi efek samping membahayakan pada pasien. Paling menggembirakan adalah dalam 2-4 hari setelah penyuntikan SPM tersebut, pasien menunjukan perbaikan dan kesembuhan. Namun demikian hasil ini masih dikritisi terkait dengan parameter pemeriksaan laboratorium yang meliputi ada tidaknya penurunan jumlah virus dalam tubuh, pemeriksaan parameter peradangan dan infeksi tubuh yang tidak detail dilaporkan.

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa saat ini terdaftar 27 uji klinis pada manusia penderita Covid-19 yang dilakukan menggunakan terapi sel punca. Jika diamati karakteristik penelitian tersebut maka tampak bahwa pengujian tersebut melibatkan total sekitar 1287 pasien, menggunakan 3 jenis utama sel punca  yaitu terapi SPM (17 penelitian, 781 pasien), poduk turunan SPM (4 penelitian, 176 pasien), dan sumber lain (6 penelitian, 330 pasien).

Semua penelitian tersebut memberikan sel punca melalui jalur infus, rentang usia pasien yang dilibatkan adalah 18-80 tahun, diamati sampai dengan 3 bulan dan semua parameter pemeriksaan untuk pengamatan hasil terapi sel punca menggunakan sampel pemeriksaan dari apus tenggorokan dan atau darah. Menariknya, sumber sel punca yang digunakan dalam penelitian tersebut berasal dari tali pusat (10 penelitian) dan dari darah menstruasi.

Sel punca yang diperoleh dari kedua sumber tersebut, kemudian dibiakkan sehingga sel dapat memperbanyak diri mencapai jumlah tertentu. Hal ini harus dilakukan karena jumlah sel yang diberikan ke pasien penerima harus dalam jumlah tertentu. Pada berbagai penelitian tersebut, jumlah sel yang disuntikan bervariasi dari 400.000 sampai 42 juta sel per kilo berat badan pasien. Jumlah sel tersebut diberikan dalam sekali hingga lima kali penyuntikan dalam frekuensi setiap 2 hari.

 

Penelitian juga telah menjukkan bahwa sel punca memiliki mekanisme kerja secara langsung maupun tidak langsung pada infeksi virus penyebab Covid-19 ini. Secara langsung, SPM melalui aktivitas fusi (penyatuan antar sel) dan kerja mirip penjalaran sel kanker akan meningkatkan kontak antar sel punca dan sel tubuh penerima. Sedangkan efek tidak langsung terjadi melalui mekanisme mendorong proses membunuh virus oleh fagosit dan makrofag.

Kedua mekanisme ini akan berperan pada system daya tahan tubuh bawaan (menurunkan IL-12, TNF-alfa, sel NK; dan meningkatkan IL-10); dan juga pada daya tahan tubuh dapatan (menurunkan IL-17; meningkatkan Th2 dan Treg). Semua molekul yang disebutkan tersebut beperan dalam proses mendorong terjadinya peradangan (pro-inflamasi: IL-12, IL-17, sel NK, TNF-alfa) maupun menghamat terjadinya peradangan (anti-inflamasi:IL-10, Th2, dan Treg). Tentu efek yang diharapkan dari kerja sel punca ini adalah efek anti peradangan.

Sel punca tidak memiliki reseptor ACE2, sehingga ini merupakan peluang terbesar SPM memiliki kemampuan tidak dapat diinfeksi oleh SARS CoV-2 penyebab Covid-19. SPM dapat mendorong maupun menggantikan secara langsung sel imun tubuh yang telah kewalahan maupun telah kalah melawan gempuran badai peradangan yang ditimbulkan oleh virus. Melalui tahapan kerja imun yang ditopang maupun digantikan oleh SPM, sel imun manusia diharapkan mampu melawan kerja langsung virus maupun memperbaiki kerusakan yang telah terlanjur ditimbulkan oleh aktivitas virus.

Isu Etik Dalam Terapi Sel Punca Pada Pasien Covid-19

Semua penelitian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peneliti dalam era pandemik seperti saat ini termasuk uji klinis bertujuan untuk memperoleh suatu hasil respon terapi yang cepat dan efektif untuk terapi pasien terinfeksi, terutama yang berada pada tahapan penyakit yang berat dan kritis. Aktivitas tersebut tetap harus dilakukan dalam batasan panduan etik yang tepat.

Badan kesehatan dunia, WHO memberikan panduan terarah bagi penelitian dalam konteks pandemik global seperti saat ini. Penelitian klinis harus dilakukan secara transparan terkait prosedur dan bahan obat yang diujikan pada pasien. Demikian juga, pengujian klinis diarahkan terbatas pada potensi terapi untuk pasien kritis tahap akhir.

Meski berada pada stadium akhir penyakit, kebutuhan terhadap alat bantu kehidupan seperti ventilator dan obat-obatan lainnya tetap harus diberikan meski disaat yang sama pada pasien tersebut sedang dalam pengamatan “efek terapi” sel punca yang sedang diberikan. Artinya, pasien tidak boleh ditelantarkan hanya karena  terkait dengan prosedur pengamatan efek terapi yang diberikan.

Di tengah tantangan masih minimalnya pemahaman mengenai proses penyakit ini, pemberian terapi sel punca tetap dapat diberikan dengan memperhatikan dan melaporkan semua parameter klinis yang lengkap seperti kadar oksigen darah pasien, faktor risiko utama, penyakit penyerta (komorbid) yang diderita pasien, hasil kemajuan parameter pemeriksaan laboratorium, dan berbagai indikator stadium kritis pasien, semuanya harus secara transparan dilaporkan.

Normalnya, sebelum diuji klinis pada manusia, sebuah obat baru harus melewati uji pre-klinis menggunakan hewan model. Hal ini untuk memastikan keamanan obat tersebut, rangkaian proses penyembuhan, efek samping, dosis yang sesuai, hingga komplikasi akhir yang timbul.

Secara implisit, tahapan ini mungkin tidak berlaku di era pandemik saat ini. Kebutuhan mendesak terhadap modalitas terapi pasien kritis Covid-19 ini mendorong pengujian pada hewan tersebut dapat “dilangkahi” dan langsung diujikan pada manusia; meski tetap berkaca pada hasil penggunaan sel punca pada terapi pasien dengan jenis infeksi virus lainnya (H1N1, H5N1, MERS dll). Dengan demikian panduan etik uji klinis inilah yang menjamin kemanan dan kesesuaian berlangsungnya uji klinis terapi sel punca  untuk pasien Covid-19 saat ini.

Bagaimana Dengan di Indonesia?

Setidaknya ada 12  rumah sakit nasional memang telah disahkan oleh Permenkes nomor 32 tahun 2018 untuk menyediakan pelayanan terapi pasien menggunakan sel punca. Namun khusus untuk Covid-19, barulah tim penelitian yang tergabung di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sel Punca Unair Surabaya yang mengumumkan telah menghasilkan jenis sel punca yang efektif membunuh virus SARS CoV-2 ini.

Sel punca yang dimaksudkan memang khusus yang berasal dari darah. Tidak tangung-tanggung, klaim kesembuhan bahkan  mencapai 90%. Sayangnya, prosedur dan hasil uji klinis terkait klaim tersebut belum terlalu banyak diekspos. Beberapa pusat studi di lingkup akademik maupun rumah sakit memang juga sedang berpacu menghasilkan produk sel punca yang mumpuni melawan virus ini, namun belum diumumkan karena masih berada pada tahapan yang dapat dikatakan “awal” dalam kajian dan penggunaannya.

Masyarakat tentu berharap agar ilmuwan Indonesia juga tidak kalah cerdas dan cepat dalam melihat peluang keunggulan terapi sel punca ini. Lonjakan kasus yang masih terus meningkat dan status pasien kritis yang tak kalah banyak memerlukan aksi cepat keterlibatan ilmuwan lokal berkaliber internasional untuk menghasilkan produk jadi sel punca yang bermanfaat bagi pasien Covid-19 di Indonesia.

Meski vaksin merupakan jawaban besar permasalahan pandemik saat ini, pengujian penggunaan sel punca tetap menjadi penting terutama untuk pasien kritis stadium akhir covid-19. Fokus untuk menjaga angka kematian tetap rendah menjadi peluang besar potensi penggunaan sel punca bagi pasien yang berada pada tahap kritis akibat infeksi virus ini. Produksi masal produk sel punca mesenkimal tetap menjanjikan dan dinantikan untuk konteks terapi komplikasi “badai inflamasi” yang disebabkan oleh virus.

Penelitian terapi menggunakan sel punca memang tidak murah, apalagi pada tahapan produksi besar dan penggunaannya sebagai terapi Covid-19. Kekuatan dan motivasi besar seluruh peneliti yang berfokus untuk menurunkan angka kematian akibat Covid-19 menggunakan sel punca merupakan suatu pilihan yang tetap penting dan perlu didukung. Tidak hanya vaksin, yang jika tersedia nanti akan mampu menghindarkan seseorang dari infeksi virus ini, sel punca memiliki tempat tersendiri pada penurunan angka kematian pasien terinfeksi yang terlanjur kritis dan berada perjuangan antara hidup dan mati di ruangan ICU selama perjalanan menunggu vaksin itu tersedia.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih Jayapura

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *