Pukul Mundur Covid-19 di Papua Menuju Era New Normal

Oleh Dr. Robby Kayame, SKM.M.Kes*  Dr. dr. Arry Pongtiku, MHM;  Arief Rahman, SKM, I Kadek Hermanta, SKM.M.Kes**

 

PADA SUATU KESEMPATAN, saya Robby Kayame, selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua menyatakan “Covid bilang, saya datang bukan untuk pulang tetapi saya datang untuk tinggal jadi ko harus atur baik-baik”.

New Normal adalah  adaptasi manusia terhadap perubahan kehidupan baru, kita akan kembali produktif dengan tetap menerapkan mekanisme pencegahan. Usaha-usaha pencegahan dilakukan seperti tidak berkumpul, jaga jarak, cuci tangan setelah beraktivitas, pakai masker, makan bergizi dan berolah raga. Pada saat yang sama pendekatan karantina untuk pintu masuk ke satu wilayah dan pengamatan penyakit (surveilans) akan dikedepankan.

Ada ilustrasi sederhana  bahwa virus tidak bergerak, orang bergerak.Jika kita berhenti bergerak, virus berhenti bergerak dan mati. The virus doesn’t move, people move, we stop moving, the virus stops , it dies. It’s that simple.

Tulisan ini memperlihatkan berbagai trend kemajuan penanggulangan Covid-19 di Papua dengan menggunakan beberapa indikator. Usaha dan inovasi kesehatan melakukan berbagai langkah membantu masyarakat menuju kehidupan New Normal.

Beberapa pembelajaran di berbagai tempat seperti Singapore, Korea Selatan, Aceh, India, Uni Emirat Arab dan Taiwan  bagaimana menurunkan kasus Covid-19 disarikan dalam Gambar di bawah ini.

Penanggulangan Covid-19 di Berbagai Tempat

WHO merekomendasikan beberapa usaha yang murah (low cost intervention) dalam rangka penanggulangan Covid-19 yaitu Social Distancing, Physical distancing, Hygiene, memakai masker, menjaga stamina dengan makan yang bergizi  dan olah raga.

Saya selaku Kepala Dinas Kesehatan menyebutnya  5 wajib  yaitu Wajib tidak berkumpul, Wajib jaga jarak, Wajib cuci tangan, Wajib masker dan Wajib periksa yaitu test mengetahui apakah sesorang  mengidap Covid-19.

Wajib test ini tidak hanya terbatas pada Covid-19 tetapi juga penyakit lain yaitu wajib periksa HIV,hepatitis, sefilis, malaria, gula darah, kolesterol, asam urat dan lain-lain.Tubuh saya , saya sendiri yang jaga. Orang Papua dan orang tinggal di Papua jumlahnya sedikit. Semua orang akan pergi di panggil Tuhan tapi kita masih mempunyai tanggungjawab  melayani keluarga, sesama dan bangsa ini kita mencegah kematian dini”.  Dalam era new normal ini sistem pelayanan kesehatan harus siap. Hingga tanggal 15 Juni 2020, Rapid Test  diterima 128.935 kit  dan telah distribusikan  sebanyak 121.925 kit.  Alat Pelindung Diri/Cover All yang diterima 63.765 buah dan juga sudah distribusikan sebanyak 55.875 buah di semua Kabupaten dan kota.Beberapa kabupaten juga mengadakan sendiri.

Sebelum kita memasuki New Normal beberapa persyaratan yang diminta  Kementrian Kesehatan RI  dan Gugus Tugas Percepatan penggulangan Covid-19 yaitu 15 Indikator Kesehatan Masyarakat (Gambar 2). Beberapa indikator Kesehatan Masyarakat Menuju Masyarakat Produktif dan Aman berbasis data diperlihatkan pada tulisan ini.

Infografis

 

Selama 4 bulan, sebanyak 14 kabupaten/kota di Provinsi Papua sudah terpapar virus Corona. Sementara 15 kabupaten lain belum dilaporakan adanya kasus. Dalam perjalanannya hingga tanggal 16 Juni 2020, sudah ada 3 kabupaten lagi bertambah hijau atau tidak ada kasus lagi yaitu Mamberamo Tengah, Supiori dan Kepulauan Yapen. Kasus kumulatif Covid-19 selama 4 bulan ini berjumlah 1.289 orang terkonfirmasi.

Dari sejumlah itu yang masih dirawat sebanyak 769 orang (60%), sembuh 505 (39%)  dan meninggal 15 orang (1%). Trend angka kesembuhan terus menerus meningkat dan kematian ditekan rendah. Hal ini karena deteksi dini  sehingga banyak orang ditemukan dalam keadaan tidak bergejala atau bergejala ringan. Kemampuan rumah sakit dan puskesmas dalam  penanganan kasus lebih baik. Sejauh ini, kasus kematian Covid-19 di Papua disebabkan karena adanya comorbidity atau penyakit penyerta pada pasien  tersebut.

Kurva Epidemik Covid-19 di Papua

Papua dengan dukungan penuh pemerintah, stakeholder dan partisipasi masyarakat berusaha memutuskan rantai penularan dengan menemukan kasus positif sebanyak mungkin. Penemuan kasus secara aktif melalui tes, pelacakan, pengobatan dan isolasi. Dari grafik ini kita bisa melihat bahwa grafik tertinggi pada minggu ke-22 .  Grafik yang diharapkan berbentuk lonceng yaitu naik  sampai ke puncak dan kemudian menurun atau melandai. Jumlah kasus positif turun 50% dari puncak selama 2 minggu terakhir. Nampak bahwa kita sudah mencapai hal itu tapi masih membutuhkan beberapa minggu ke depan melihat kstabilan data tersebut.

Tes Laboratorium  Covid-19

Indikator ini penting dilihat bahwa diperlukan tes masif pemeriksaan Covid-19. Screening di masyarakat dilakukan dengan tes Cepat (Rapid Test) dan kemudian dilakukan test konfirmasi dengan menggunakan Polimerase Chain Reaction (PCR). Diharapkan Positif Rate <5% artinya kita dapat meningkatkan kecurigaan terhadap orang-orang disangka Covid-19 melalui tes. Ditemukan kasus positif sedikit sedangkan negatif atau tidak terkena Covid-19 jauh lebih banyak.

Dari tanggal 4 Juni 2020, kita bisa melihat bahwa trend Positif Rate mulai menurun dimana test nya terus ditingkatkan dan kasus positif berkurang. Pada tanggal 16 Juni 2020, Positif Rate adalah 13,9%. Kita mempertahankan daerah-daerah yang belum ada kasus. Sebanyak 15 kabupaten yang belum dilaporkan kasus Covid seperti Asmat, Paniai, Puncak, Nduga, Yalimo, Puncak Jaya, Deiyai, Tolikara, Yahukimo dan  lain-lain.

Selama ini pula, pemerintah gencar melakukan pemeriksaan Rapid Test di masyarakat. Hasil dan Rapid Test reaktif, kemudia dikonfirmasikan ke tes PCR. Jika hasilnya semua negative, artinya daerah tersebut masih steril atau belum terpapar Covid-19. Kita masih perlu terus meningkatkan tes ini untuk menjamin semua wilayah Papua kasusnya sudah menurun dan daerah bebas Corona.

Saat ini, terdapat4 mesin PCR yang mendukung pemeriksaan swab yang telah berjalan yaitu 1 di Litbangkes Papua, 1 di Labkesda papua, dan 2di Timika. Alat Test Cepat Molekuler (TCM) yang biasa digunakan untuk tes resistensi TB digunakan pula untuk tes konfirmasi Covid-19 dengan menggantikan catrigenya. Di Papua, kita mempunyai 25 mesin TCM sudah berjalan di RS Merauke, RS Yapen, RS Nabire, RS Mimika, RS Mappi, RSUD Wamena dan  RSUD Biak. Penambahan PCR juga diperlukan untuk dapat mencapai tes jumlah besar dengan  positif rate <5%. Target pemeriksaan tes PCR per hari adalah 500 sampel per hari.

Trend  Kematian, Kesembuhan, Covid-19 Dalam Perawatan

Angka trend kematian akibat Covid-19 di Papua bergerak lambat kasus kematian terakhir dilaporkan 10 Juni 2020 berjumlah 15 orang atau 1%.  Trend kesembuhan terus menerus meningkat, dimana hingga tanggal 16 juni 2020 Success Rate=39% (505 orang sembuh). Trend Kasus positif yang masih dirawat terus meningkat dari waktu ke waktu namun sejak tanggal 9 Juni 2020,  grafik ini mulai stabil dan menurun. Hingga tanggal 16 Juni 2020 yang masih dirawat 769 orang.  Trend Kumulatif Covid-19 tidak pernah turun karena merupakan kumulatif kasus atau penjumlahan terus menerus. Pada tanggal 16 Juni 2020 total kasus Covid-19 di laporkan di Papua sebanyak 1.289. Beberapa indikator ini jika di break down dan dipantau selama 2 minggu sejak trend penurunan semoga dapat menjawab persyaratan indikator data yang diharapkan.

Laju Reproduksi Virus (Rt)

Kita bisa mendapatkan kesan apakah laju kasus Covid-19 menunjukkan perbaikan dengan menggunakan modeling Rt dengan alat aplikasi EpiEstim. Laju Penularan Covid-19 Provinsi Papua dari waktu ke waktu menunjukkan penurunan  dimana per tanggal 15 Juni 2020, Rt sebesar 0,15. Garis putus-putus menunjukkan estimasi angka Rt yang sesungguhnya berada dalam rentang ini. Seiring peningkatan jumlah tes, kepercayaan terhadap estimasi pun meningkat dan dapat menyebabkan garis  putus-putus (atas dan bawah) berfluktuasi, berkontraksi dan menyempit.

Secara umum Provinsi Papua pengendalian Covid-19 dihubungkan laju reproduksi virus adalah trend yang sangat baik. Laju Virus harus ditekan hingga Rt <1 dan harus dipertahankan paling sedikit 14 hari.Kita sudah mencapai Rt<1 dari hari ke 82 sampai saat diambil data hari ke  94.  Yang ideal menggunakan estimasi Rt berdasarkan Onset (mulai timbul gejala penyakit), dapat pula menggunakan waktu  pengambilan Swab. Pada gambar/grafik, kami menggunakan tanggal pengambilan Swab. Rt digunakan sebagai indikator ke 15 oleh Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 sebagai pelengkap dan triangulasi apakah ekspresi dan perkiraan data ini benar menunjukkan arah perbaikan. Dengan laju virus 0,15 diharapkan kasus-kasus baru tidak bertambah. Pada saat yang sama masyarakat terus meningkatkan dan mematuhi Protokol Kesehatan.

Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua dan barometer penanggulangan Covid-19 menunjukkan penemuan massif. Ini terjadi sejak diadakan screening massal sehingga mulai dari hari ke 51 hingga saat ini, kasus baru terus meningkat, grafik berfluktuasi tajam  dan berkontraksi meningkat dan kemudian trend menurun. Gap nilai maksimal dan minimal masih ada dan menyempit tapi range Rt masih berkisar diantara garis titik tebal. Angka Rt pertanggal  15 Juni 2020 sebesar 0,79. Oleh karena itu, pemerintah Kota Jayapura harus terus meningkatkan tes untuk memberikan jaminan pemutusan rantai penularan atau Covid-19 terkendali.

Menyiapkan Sistem Kesehatan

Selaku Kepal Dinas Kesehatan Papua, saya Robby Kayame, pernah menegaskan bahwa “Virus Covid -19 dia mau tinggal, sama seperti dulu waktu virus HIV datang ke Papua. Kita harus menyiapkan dia tempat, ada pengelola program khusus Covid di Dinas Kesehatan seperti ATM (AIDS, TBC, dan Malaria). Ada pelatihan meningkatkan sumber daya manusia. Ada buku petunjuk, protokol kesehatan ala Papua, ada logistik, fasilitas dan dana harus disiapkan ke depan. Covid-19 menambah daftar penyakit di Papua”.

Puskesmas dan masyarakat  adalah lini terdepan pelayanan Covid-19. Puskesmas harus disiapkan untuk melayani penderita Covid-19 dengan masyarakatnya. Rumah sakit dapat berfungsi sebagai rujukan Covid-19 dan juga melayani orang dengan penyakit-penyakit lainnya. Artinya sistem pelayanan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) yang lebih banyak ke promotif dan preventif harus terus dijalankan puskesmas dan Usaha Kesehatan Perorangan (UKP) yang menitik beratkan pada kuratif dan rehabilitatif dijalankan di Rumah Sakit.

Pada kasus di Kota Jayapura dengan ditemukan banyak kasus positif terkonfirmasi dimana banyak penderita dirawat di rumah sakit. Sementara kasus-kasus yang tidak bergejala ditangani di Hotel Sahid dan kasus dengan rapid reaktif dikarantina Gedung Diklat BPSDM Provinsi Papua, sambil mereka menunggu konfirmasi hasil PCR.

Seharusnya kasus-kasus  dengan tidak bergejala atau ringan dapat ditangani di puskesmas dan masyarakat. Kita pun dapat melakukan isolasi mandiri yang diawasi oleh petugas puskesmas maupun RT dan RW setempat. Protokol Kesehatan terus dipertahankan dan ditingkatkan jika kita memasuki masa New Normal.

Gambar di atas menunjukkan sejumlah kasus yang masih dirawat di sejumlah rumah sakit dan tempat penampungan dari total 601 kasus yang terdaftar dan juga ada 104 kasus yang telah kembali ke masyarakat lewat  penanganan di Diklat dan BPSDM. Juga ada perkiraan sejumlah  136 kasus yang masih tersembunyi di masyarakat, dihitung dengan cara: perkalian dari jumlah ODP dan PDP dan prosentasi PCR positif.

Protokol Kesehatan ala Papua adalah 5 W (Wajib Tidak Berkumpul, Wajib Jaga Jarak, Wajib Cuci Tangan, dan Wajib Periksa Kesehatan. Meningkatkan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat/adat sangat diperlukan  dalam penanggulangan Covid-19.

Menyiapkan Zonasi

Penyiapan Zonasi dilatarbelakangi pelayanan kesehatan essensial penting dijalankan walaupun di tengah Pandemi Covid-19. Keterbatasan sumber daya berupa tenaga, APD, alat/bahan dan dana. Tingkat resiko penyebaran Covid-19 di masing-masing wilayah berbeda-beda. Kita perlu menentukan prioritas dan besar kecilnya resiko dengan warna merah, kuning, hijau dan putih. Bobot besar resiko misalnya Kasus Konfirmasi positif nilai 4, ODP nilainya 1, PDP nilainya 1, OTG nilainya 1, meninggal nilainya – 4,  sembuh nilainya -4. Contoh zonasi di Kota Jayapura bobot tertinggi beresiko (Zona Merah) adalah Hamadi dengan bobot 1121, kemudian Jayapura Selatan bobot  97, dan Jayapura Utara bobot 69.

Tentunya Zonasi ini adalah sebagai alat bantu pemetaan sebaran Covid-19 di wilayah yang kita akan amati. Sebagai bagian dari data epidemiologi, zonasi ini menjadi antisipasi petugas kesehatan dalam menjalankan pelayanan kesehatan, mulai dari jenis Alat Pelindung Diri (APD) Berdasarkan Lokasi, Petugas, dan Jenis Aktifitas. Ada Alat Pelindung Diri level 1, 2 atau 3 secara terinci terdapat dalam Lampiran 16 Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Revisi ke-4. Data zonasi ini sebagai bahan masukan dalam pengambilan keputusan oleh Gugus Tugas di Kabupaten/Kota, Kecamatan, sampai dengan di Kampung atau RW/RT sehingga pelayanan kesehatan esensial dapat dijalankan.

Edukasi Kesehatan

Ada beberapa pesan edukasi kesehatan yang dikembangkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua dibantu oleh Unicef  dalam memerangi dan mencegah wabah Covid-19.

  1. Berdoa kepada Tuhan
  2. Tetap optimis dan semangat. Tidak perlu cemas berlebihan. Mentaati seluruh proses pengobatan dan perlindungan diri akan sangat mempercepat kesembuhan
  3. Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat berinteraksi dengan keluarga.
  4. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitiser sesering mungkin.
  5. Jaga jarak dengan keluarga (physical distancing)
  6. Upaya kamar tidur sendiri/terpisah
  7. Menerapkan etika batuk (diajarkan oleh tenaga medis)
  8. Alat makan minum segera dicuci dengan air sabun
  9. Berjemur matahari minimal sekitar 10-15 menit setiap harinya.
  10. Pakaian yang telah dipakai sebaiknya dimasukkan dalam kantongplastic/ wadahtertutup yang terpisah denganpakaian kotor keluarga yang lainnya sebelum dicuci dan segera dimasukkan mesin cuci
  11. Ukur dan catat suhu tubuh tiap jam 7 pagi, jam 12 siang dan jam 19 malam
  12. Segera berinformasi ke petugas pemantau/FKTP atau keluarga jika terjadipeningkatan suhu tubuh >27.5 derajat Celcious atau gejala lainnya yang baru muncul/ mengalami pemberatan.

Faktor-Faktor Penting  Non Angka

Kemajuan signifikan Penanganan Covid-19 di Papua dapat terjadi  karena dukungan penuh dari Pemerintah Daerah di Papua dan Pemerintah Pusat, termasuk  di dalamnya dukungan kebijakan, pendanaan dan logistik. Keputusan Gubernur dan wakil Gubernur menutup pintu bandara udara dan pelabuhan laut (lockdown) serta melakukan proses siaga darurat, tanggap darurat, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBS), Pembatasan Sosial Diperluas dan Diperketat (PSDD) dan Relaksasi Kontekstual Papua adalah keputusan yang brilian.

Dukungan DPR Papua, MRP, Forkopimda dan segenap stakeholder, termasuk TNI dan Polri dalam penanggulangan Covid-19 di Papua juga menjadi modal. Bantuan akademisi, LSM, wartawan/media massa, tokoh agama serta tokoh masyarakat, partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri membantu pengendalian Covid-19. Logistik yang cukup baik di provinsi dan kabupaten/kota.

Geografis Papua yang menantanng di ujung Timur  Indonesia, dimana akeses transportasi 60 persen menggunakan pesawat dan kapal laut, secara tidak sengaja juga menjadi keuntungan dan modal dalam membantu menekan laju penyebaran virus Corona ini. Jumlah Penduduk Papua yang relatif kecil  (3,4 juta jiwa) dengan wilayah yang luas dan udara yang masih bebas polusi, paparan sinar matahari yang kuat, juga ikut memberi ketahanan terhadap serangan virus asal Wuhan ini. Populasi penduduk Papua didominasi penduduk  usia muda dan usia produktif secara tidak langsung menangkal kerentanan  virus ini. Italia dan Spanyol mengalami banyak kematian karena populasi penduduk usia tua. Selain itu, dibentuknya Satgas di provinsi dan kabupaten serta teknologi komunikasi seperti Whtasapp dan Zoom ikut memudahkan pertukaran informasi dan transparansi data.

Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah melindungi Papua. Penyakit Covid-19 adalah penyakit baru yang belum banyak diketahui. Kami mendengar dari lapangan bahwa virus Covid-19 import yang berasal  dari Bandung, Jakarta, Gowa lama sembuhnya, membutuhkan waktu sampai lebih sebulan. Tetapi kasus yang berasal dari Papua (tranmisi lokal) biasanya sembuh lebih cepat.

Kami juga pernah mendapat email dari peneliti di Jepang yang dalam suratnya berharap agar virus yang menyerang Papua ini adalah virus Covid-19 yang jinak dan tidak sama seperti virus Covid-19 yang di Amerika dan Eropa yang ganas.  Jumlah kasus yang menerpa Orang Asli Papua relative kecil yaitu 143 orang atau 11% dengan angka kematian nihil. Menarik, sebab bisa saja ini disebabkan oleh faktor genetika, faktor alam, atau faktor lain seperti kebiasaan makan pinang, minum ramuan seperti buah merah, sarang semut, jahe, mandi di laut, dan mempraktekan ukup yang diduga memberi ketahanan tubuh sehingga tak mudah diserang Corona.

Kesimpulan

Penanganan Covid-19 di Papua menunjukkan kemajuan yang signifikan. Beberapa indikator sudah menunjukkan  kasus kiya menuju trend yang menggembirakan dan terjadi penurunan kasus. Tengtu masih membutuhkan beberapa waktu  untuk melihat kestabilan data. Masih dibutuhkan test masif  untuk mendapatkan target positive rate <5% dimana  kasus yang negatif yang diperiksa  sangat besar. Artinya, kita bisa mendapatkan daerah-daerah tersebut bebas Covid-19 atau  keberadaan virus tidak menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di tempat itu.

Secara umum dapat dilihat bahwa laju reproduksi virus Covid-19 sudah di bawah angka 1 (Rt 0,15). Angka kesembuhan terus meningkat dan angka kematian sangat kecil 1 %. Untuk itu, perlu dilakukan kesiapan sistem kesehatan seperti SDM penanganan Covid-19, zonasi, protokol kesehatan ala Papua, memperkuat puskesmas sebagai basis terdepan dengan keterlibatan masyarakat dan isolasi mandiri. Peran Rumah sakit sebagai tempat rujukan kasus  terutama kasus sedang dan berat.

Dukungan penuh Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat dan segenap stakeholder, letak geografis dan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi pengendalian covid-19 di Papua ini. Kita terus memperkuat protokol kesehatan dengan mengedepankan usaha-usaha pencegahan  yang mudah dan murah melalui  5 Wajib yaitu Wajib Tidak Berkumpul, Wajib Jaga Jarak, Wajib Cuci Tangan, Wajib Masker dan Wajib Periksa Kesehatan.

Dalam perang empat bulan ini, kita sudah berhasil memukul mudur Covid-19  dan kita  bisa terus  memenangkan pertandingan ini dengan menggunakan senjata protokol kesehatan. Teruskan perjuangan.  We are the champions, my friends. And we’ll keep on fighting till the end. We are the champions , song by Queen.

*Penulis Adalah Kepala Dinas kesehatan Provinsi Papua dan **Tim Data dan Informasi Posko Dinkes Covid-19, Bagian Program dan Perencanaan Dinkes Papua. Korespondensi: [email protected]

Ucapan Terima Kasih:

Tim Data Satuan Tugas Covid-19 Provinsi Papua dan Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten/Kota, Rumah Sakit dan Puskesmas di Papua.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *