Mari Memaknai Peningkatan Jumlah Kasus Baru Covid-19 di Papua

Data kasus Covid di Provinsi Papua per 9 Juli 2020.

 

Oleh dr. Hendrikus MB Bolly, M.Si., SpBS.,FICS., AIFO-K*

BEBERAPA hari ini, kita disajikan dengan berita meningkatnya angka kasus baru Covid-19  baik secara nasional (1863 kasus pada 8 Juli 2020)  maupun lokal Papua. Misalnya pada Kamis, 9 Juli 2020, ada tambahan 80 kasus baru di Papua. Lebih memprihatinkan lagi, jumlah kasus baru tersebut ternyata juga atas sumbangsih tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan. Tentu  hal ini memprihatinkan sekaligus menantang. Memaknai peningkatan angka ini tidak bisa secara “mentah-mentah” lalu kemudian bertanya-tanya bahkan saling menyangsikan efektifitas kebijakan pembatasan sosial dan lain sebagainya.

Dari sebuah diskusi dalam grup Whatsapp alumni yang penulis ikuti, ada beberapa hal menarik yang dirasakan perlu untuk diulas dalam tulisan ini. Ide dan diskusi yang sangat inspiratif tersebut datang dari seorang pakar epidemiologi sekaligus kolaborator  “Saintis LaporCOVID-19,”  Iqbal Elyazar, PhD.

Pertama, hal apa saja yang berperan dalam meningkatnya jumlah kasus terinfeksi (PDP)? Kedua, apa saja faktor yang mendorong kenaikan jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19?

Kedua hal ini sangat penting, mengingat hingga saat ini kita belum memiliki suatu kurva epidemiologi yang baik untuk memandu kebijakan publik  yang tepat. Jumlah kasus positif bukanlah jumlah aktual kasus positif yang dilaporkan setiap hari, tapi adalah jumlah kasus yang diperiksa dan terkonfirmasi positif pada hari itu.

Artinya, bisa saja sampel yang diambil dua minggu lalu, baru terkonfirmasi dan dilaporkan hari ini. Padahal yang benar dan seharusnya adalah, ambil sampel hari ini, diperiksa hari ini, dilaporkan hari ini. Memang banyak faktor  yang membuat kita tidak pernah bisa ideal seperti yang seharusnya. Ada berbagai alasan dan penjelasan seperti: reagen pemeriksaan habis, yang memeriksa (tenaga ahli) kurang, alatnya tidak mampu (terbatas), listrik padam-lah, hari libur-lah dan seterusnya.

Meningkatnya jumlah kasus terinfeksi pada saat belakangan ini dapat dipengaruhi beberapa kondisi. Dibukanya kembali berbagai fasilitas publik, pelayanan publik, dan aktifnya kembali sektor ekonomi memberikan kesempatan interaksi antarorang terinfeksi dan yang belum terinfeksi makin terbuka lebar. Pun, karena orang yang mungkin telah terinfeksi juga karena tanpa gejala dan tidak tahu bahwa dirinya telah terinfeksi. Hal ini sangat fatal tentunya. Sedikitnya tracing kasus baru memberi peluang meningkatnya jumlah kasus baru yang terinfeksi.

Penjelasan berikutnya adalah, terkait dengan perilaku sehat yang terangkum dalam protokol kesehatan yang belum dilakukan secara mandiri dan rutin. Perilaku pencegahan masyarakat mungkin masih buruk. Masyarakat kita mungkin masih ‘kepala batu”; tidak mau menggunakan masker, tidak mau cuci tangan yang benar, tidak mau menjaga jarak aman saat interaksi dengan orang lain.

Hal lainnya adalah yang juga pernah penulis ulas pada tulisan sebelumnya (Mutasi virus penyebab Covid-19: Untung atau Bunting dalam papuabangkit.com Edisi 19 Mei 2020) adalah terkait berubahnya karakteristik virulensi SARS-CoV2 penyebab Covid-19. Doa dan harapan kita tentunya adalah, virus ini jangan sampai berubah menjadi lebih ganas karena proses mutasi.

Penelitian ilmiah harus dilakukan tentunya untuk mengkomfirmasi hal tersebut. Jangan sampai virus bermutasi, menjadi lebih ganas, menjadi lebih cepat  menular karena kegagalan pengurangan interaksi sosial, dan virus menjadi lebih pendek masa inkubasinya tapi besarnya kerusakan organ tubuh yang ditimbulkan.

Naiknya jumlah orang terkonfirmasi positif tentu dipengaruhi oleh beberapa prediksi kontributornya. Apakah karena orang yang diperiksa swab dan PCR meningkat? Apakah pelacakan kasus oleh tenaga medis meningkat? Ataukah pemeriksaan  massal di berbagai tempat meningkat? Ataukah fasilitas pemeriksaan yang dimiliki jumlahnya juga meningkat karena penambahan alat, tenaga dan kecepatan pemeriksaan? Ataukah yang terjadi karena jumlah sampel yang terkumpul sebelumnya, tertunda dan baru diperiksa saat ini?

Tentunya semua pertanyaan ini harus terjawab kepada masyarakat. Hal tersebut penting supaya tidak menimbulkan kebingungan atau bahkan kepanikan di masyarakat terkait hal ini.  Selain itu, jika penjesalan terhadap hal itu tuntas maka paling tidak jawabannya akan berperan sebagai dasar pembuatan kebijakan publik yang terukur dan terarah untuk masa mendatang.

Saat ini belum banyak yang bisa dilakukan, sehingga pilihan jalan keluar yang sangat minimal ini memerlukan integritas pelaksanaan yang harus optimal. Pemerintah daerah harus bijaksana menetapkan keputusan, penetapan kembali (memperpanjang) atau mengulang lock down  dapat saja diberlakukan kembali. Penertiban, penegasan aturan protokol wajib kesehatan di sarana publik, terutama menggunakan masker haruslah diperketat dan ditegaskan.

Kemudian, kemampuan pemerintah daerah untuk meningkatkan, mempercepat dan memperbanyak penelusuran kasus hingga pemeriksaan PCR  lalu isolasi kasus positif tentu harus makin gencar. Hal lainnya adalah, perlu edukasi yang tepat sasaran terutama untuk isolasi diri mandiri di dalam rumah tangga sehingga transmisi antar anggota keluarga juga minimal.

Hal yang terakhir namun sangat penting adalah, kita harus jujur dalam memaknai, menguraikan dan menjelaskan data dan situasi yang riil. Hal ini adalah kunci dalam peperangan terhadap pandemik. Data yang tertutup dapat saja menurunkan kewaspadaan masyarakat, tidak sinkronnya penatalaksanaan aturan antaraparat pemerintahan dan pada akhirnya mempertaruhkan kedibilitas pemerintah (daerah) dalam menangani wabah Covid-19 ini.

Setiap masyarakat memiliki peran dan tanggung jawab dalam mengatasi wabah ini. Minimal yang dilakukan adalah berdoa semoga wabah ini segera berakhir, namun juga bertanggung jawab terhadap dirinya dan keluarganya dalam menjalankan protokol kesehatan kehidupan normal baru: taat memakai masker di tempat umum, rajin cuci tangan yang benar, menjaga jarak aman, makan minum yang sehat, olah raga dan istirahat yang cukup.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih Jayapura

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *