Hanya Dalam Tiga Pekan, Ada Tambahan 1.215 Pasien Covid Baru di Papua dan 30 Orang Meninggal

Dokter Aaron Rumainum bersama tim pemakaman saat memakamkan salah satu pasien Covid di Pemakaman Buper Waena, Kota Jayapura, Sabtu (19/09/2020)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Lonjakan kasus Covid-19 di Provinsi Papua semakin menggila! Betapa tidak, dalam kurun waktu hanya tiga pekan atau dua puluh satu hari, terdapat  tambahan kasus pasien baru hingga 33 persen dan jumlah kematian meningkat hingga 68 persen  dari jumlah sebelumnya.

Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, sejak 31 Agustus 2020 hingga 19 September 2020, terdapat tambahan 1.215 pasien positif baru di Bumi Cenderawasih, naik dari 3.750 menjadi 4.965 orang. Sementara  jumlah kematian juga bertambah 30 kasus yaitu dari 44 menjadi 74 kasus.

Saat ini, jumlah pasien Covid yang sedang dirawat di Papua mengalami kenaikan 11 persen yaitu dari 15 persen (567 orang) pada 31 Agustus 2020 menjadi 26 persen atau 1.309 orang pada 19 September 2020. Sementara angka persentasi kesembuhan turun 12 persen dari 84 persen menjadi 72 persen, dimana hanya terdapat tambahan 343 pasien yang  sembuh menjadi 3.582 kasus per 19 September 2020.

Data Perkembangan Covid di Provinsi Papua per 19 September 2020

 

Wakil Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes mengatakan masyarakat di Papua, khususnya Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura sejak sebulan terakhir sepertinya tak peduli dan tidak takut lagi terhadap ancaman virus Corona.

“Karena itu, masyarakat beraktivitas tanpa patuhi protokol kesehatan. Tidak pakai masker, tidak cuci tangan, tidak lagi jaga jarak, mulai berkerumun. Karena mereka beranggapan bahwa ini penyakit biasa dengan dasar pemikiran bahwa ada 2.400-an pasien di kota ini sembuh dan tidak meninggal. Ketakutan mereka sudah turun dibandingkan enam bulan lalu. Ini yang membuat angka kita naik terus sebulan terakhir ini,” ujar dr. Aaron kepada papuabangkit.com via telepon selulernya, Minggu (20/09/2020) petang.

Menurut Aaron, gelombang kedua virus Corona ini sedang mengancam Papua, secara khusus di wilayah Kota Jayapura dan sekitarnya. Oleh karena itu, ia meminta seluruh masyarakat membuka mata dan mengubah cara pandangnya yang keliru. Sebab fakta hari ini, kematian juga terus bertambah.

“Saya lihat, ada Gereja yang benar-benar menjalankan protokol kesehatan, menghimbau jemaatnya untuk patuh pada himbauan pemerintah, jaga jarak saat ibadah, pakai masker, dan cuci tangan. Tapi saya perhatikan ada juga Gereja yang tidak, karena lebih mengandalkan iman dan imunnya. Ini hal-hal salah yang harus kita ubah. Sebab jika itu kena di orang yang punya komorbid, itu yang bahaya. Resiko kematiannya tinggi,” katanya.

Ia juga menegaskan penambahan kasus juga terjadi dari klaster perkantoran di Kota Jayapura. Oleh karena itu, penerapan adaptasi New Normal harus benar-benar diikuti dengan pola kebiasaan baru dalam bekerja, bukannya malah memperlonggar disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan.

Tambahan 1 Nakes Meninggal

Pada Sabtu (19/09/2020), terjadi 4 kasus kematian pasien Covid di Kota Jayapura. Salah satunya ialah tenaga kesehatan (nakes) berinisial T yang selama ini bekerja di Puskesmas Twano, Distrik Jayapura Selatan. Ini adalah kasus kematian kedua yang menimpa kalangan nakes di Bumi Cenderawasih.

Tim URC dari UP2KP saat memakamkan jenazah salah seorang nakes yang meninggal pada Sabtu (19/09/2020) malam.

 

“Setelah penguburan empat orang, saya buka WA Grup dan tahu bahwa ternyata yang dikubur keempat ini adalah petugas kesehatan. Suster T ini pejuang kusta di Kota Jayapura. Atas nama Satgas dan Tim Kesehatan kita sampaikan turut berduka cita. Papua kehilangan sosok nakes pejuang kusta seperti dia,” kata dr Aaron.

Anggota Tim Unit Reaksi Cepat dari Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) yang bertugas membantu pemakaman, Hidayat Wairoy, SKM mengatakan tiga pekan belakangan mereka disibukkan dengan penguburan karena ada tambahan 15 pasien positif yang meninggal di Kota Jayapura.

“Hampir dua hari ada kematian. Belum lagi ada yang meninggal masih status probable atau Pasien Dalam Pengawasan. Kemarin saja, Sabtu ada 4 orang meninggal di 4 rumah sakit berbeda. Setelah kami kubur yang di RS Dian Harapan, malam kami kubur nakes yang meninggal di RS Marthen Indey pada malam hari,” kata Hidayat, Minggu pagi.

Hidayat mengaku timnya tetap bekerja, sekalipun hingga hari ini persoalan insentif yang menjadi haknya belum dibayar oleh Pemerintah Provinsi Papua. Sebab ini adalah panggilan kemanusiaan yang harus dijalankan.

“Kami tim URC dari UP2KP selalu siap, selama ini koordinasi dengan Pak Dokter Aaron baik dan kami jalankan tugas seperti biasa,” ujarnya.

Dokter Aaron mengapresiasi kinerja tim URC maupun petugas di UPT Pemakaman Buper Waena yang bekerja tak kenal waktu dalam menjalankan tugas pemakaman pasien Covid. Ini bukan pekerjaan mudah. Kiranya masyarakat menghargai pengorbanan mereka dengan mematuhi protokol kesehatan agar kematian akibat virus asal Wuhan bisa dicegah.

“Tidak semua orang jadi relawan yang tetap bekerja walau belum dibayar. Tetapi siapa yang mau kubur kalau angka kematian naik terus? Baru 4 orang dalam sehari saja kita sudah kewalahan, bagaimana jika terjadi seperti Jakarta sampai 40-an orang meninggal setiap hari? Mari masyarakat Papua, kita patuhi protokol kesehatan, jangan kepala bat uterus,” tegas Aaron yang juga Kepala Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Dinas Kesehatan Papua. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *