Covid di Papua: 1 Nakes Gugur Lagi, Dalam 36 Hari Pasien Baru 3.256 Orang

Jenazah Suter DS saat dimakamkan Tim URC Pemakaman Covid-19 di Pemakaman Buper Waena, Selasa (06/10/2020) petang.

 

JAYAPURA (PB.COM)— Dunia kesehatan di Bumi Cenderawasih berduka. Gugur lagi satu tenaga kesehatan di Provinsi Papua akibat korban keganasan Covid-19. Mereka yang di masa pandemi sebagai garda pertahanan belakang melawan virus asal Wuhan ini benar-benar kehilangan rekan sejawatnya.

“Benar. Petang kemarin kita makamkan Ibu DS, salah satu perawat senior kita yang selama ini bekerja di RS Jiwa Abepura. Atas nama seluruh tenaga medis di Papua kami menyampaikan turut berduka cita yang mendalam. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujar Wakil Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes kepada papuabangkit.com, Rabu (07/10/2020).

Menurut Aaron, DS meninggal di rumah sakit RSUD Abepura sekitar Pkl. 10 pagi, Rabu (06/10.2020). Ia menjalani perawatan selama beberapa hari di rumah sakit itu dengan riwayat menderita penyakit penyerta (komorbid).

“Ini kasus kematian tenaga kesehatan yang ketiga. Dua sebelumnya juga perawat, satu Suster T di Puskesmas Twano meninggal pada 19 September 2020. Yang pertama Suster ES, perawat di Puskesmas Harapan Sentani tanggal 20 Juli 2020,” katanya.

Aaron yang juga Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Papua menegaskan Covid-19 belum berakhir. Sayangnya, kebanyakan masyarakat tidak patuh pada protokol kesehatan.

“Tetapi tidak perlu takut Covid. Dan tidak perlu takut kepada kematian. Karena jika atas kehendak Tuhan  kita harus mati, maka kematian akibat Covid adalah jalan menuju ke Sorga yang kekal. Yang paling utama sekarang ialah mari kita cegah agar tidak kena. Dan yang kena harus segera mendapat perawatan dan tetap semangat melawannya,” tegasnya.

Dr Aaron Rumainum bersama tim URC saat memakamkan Suster DS di Pemakaman Buper Waena.

 

Penguburan Suster DS molor beberapa jam. Menurut Kepala Bidang Respon Emergenci UP2KP Darwin Rumbiak, S.Kep yang ikut bersama Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Pemakaman Covid, ini terjadi karena liang kubur di Pemakaman Covid Buper Waena belum siap.

“Teman-teman dari PUPR Kota Jayapura kebetulan sedang giat rutin pengerukan kali jadi kami menunggu. Jadi kita makamkan sekitar Pkl. 18.00 WIT. Atas nama tim URC Pemakaman kami sampaikan permohonan maaf kepada keluarga atas keterlambatan ini,” kata Darwin.

Sebelum dibawa ke Pemakaman Buper Waena, kata Darwin, jenazah Suster DS yang diiring keluar dari RSUD Abepura sekitar Pkl. 16.15 WIT dibawa melewati jalan depan RS Jiwa Abepura tempat almarhum bekerja. Di sana, Direktur RS Jiwa dr. Anthon Tony Mote bersama seluruh karyawan/watinya berdiri melambaikan salam duka dan lagu perpisahan.

“Momen ini sungguh haru. Kami sebagai rekan sejawat benar-benar kehilangan sosok perawat senior Mama Suster DS. Tenaga kesehatan mulai berguguran, nah apa masyarakat masih juga belum yakin akan ancaman Covid,” ucap Darwin.

Menurut Darwin, sejak sebulan terakhir, hampir setiap hari Tim URC dari UP2KP dan Relawan Makam yang tergabung dari Dinas Kesehatan Papua dan beberapa rumah sakit di Kota Jayapura menguburkan jenazah pasien Covid.

“Khusus kami dari UP2KP, sekalipun hingga hari ini belum dibayar insentif yang menjadi hak kami, kami tetap setia bekerja. Kami pegang janji Kepala BPBD Papua Pak Manderi yang mau merealisasikan hak kami pada pekan ini. Semoga benar-benar diwujudkan,” tegas Darwin.

Kasus Baru Terus Meningkat 

Sepanjang 1 September hingga 6 Oktober 2020, jumlah kasus Covid di Papua  meningkat  tajam. Pemberlakukan Adaptasi New Normal sejak Agutus 2020 rupanya menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, Pemerintah Provinsi Papua dan Forkopimda menginginkan agar aktivitas perekonomian masyarakat bisa bergerak melalui pelonggaran aktivitas, di sisi lain lemahnya kesadaran warga mematuhi protokol kesehatan membuat angka kasus terus bertambah, terutama di Kota Jayapura.

Data perkembangan Covid di Provinsi Papua per 6 Oktober 2020

 

Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, sejak 31 Agustus 2020 hingga 6 Oktober 2020, terdapat tambahan 3.256 pasien positif baru di Bumi Cenderawasih, naik dari 3.750 menjadi 7.006 orang. Dari jumlah yang ada,  sebanyak 2.578 (36,8 %) sedang dirawat sedangkan 4.317 orang (61,6%) dinyatakan sembuh. Sementara  jumlah kematian juga bertambah 67 kasus yaitu dari 44 menjadi 111 kasus.

Kendati terjadi peningkatan kasus yang sangat signifikan di masa pemberlakuan Adaptasi New Normal, Pemerintah Provinsi Papua bersama Forkopimda dalam rapat bersama pada 27 September 2020 tidak mengambil opsi untuk pembatasan penerbangan dan kapal laut yang sempat diisukan sebelumnya. Ini tepat sebab peningkatan jumlah virus ini adalah akibat transmisi lokal, bukan dari luar Papua.

Sementara aktivitas masyarakat di luar rumah yang sebelumnya sudah berlangsung normal dari Pkl. 06.00 hingga Pkl. 21.00 WIT kini diubah khusus untuk 7 kabupaten/kota yang menjadi dampak terparah Covid. Masyarakat di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, Biak Numfor, Nabire, Kepulauan Yapen, dan Mimika hanya beraktivitas dari Pkl. 06.00 hingga Pkl. 18.00 WIT.

“Tetapi semua kebijakan kita kembalikan kepada para kepala daerah di kabupaten/kota yang menentukan. Mereka yang paling paham keadaan di sana dalam upaya menekan penyebaran virus ini,” tegas Wakil Gubernur Klemen Tinal, SE.MM saat rapat akhir September 2020 lalu bersama Forkopimda.  (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *