Prosesi Adat Patah Panah Tandai Perdamaian Dua Kampung di Tolikara

Pendeta Nayus Wenda didampingi Nius Weya mewakili Peda Tolikara sedang patah panah sebagai tanda perdamaian antara warga Kampung Gwendo dengan Kampung Jiyogobak, Jumat (09/04/2021)

 

JAYAPURA (PB.COM)—Warga dua kampung di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua yaitu Kampung Gwendo Distrik Gundagi dan Kampung Jiyogobak Distrik Mamit yang terlibat perang saudara pada 2019, akhirnya sepakat berdamai.

Perang yang dipicu oleh perzinahaan itu sepakat diakhiri setelah para pendeta Gereja GIDI Klasis Kembu dan Klasis Wunin bersama pemerintah daerah setempat diwakili para kepala kampung dan kepala distrik menengahi atau memediasi warga untuk berdamai.

Kesepakatan perdamaian perang saudara itu diawali dengan patah panah yang dilakukan oleh Pdt. Nayus Wenda mewakili tokoh agama didampingi Nius Weya selaku perwakilan Pemda Tolikara di Kampung Jiyogobak, Jumat (09/04/2021). Turut hadir menyaksikan seremoni perdamaian ini, sejumlah tokoh masyarakat, perempuan, dan pemuda di wilayah setempat.

Kepala perang dari salah satu kampung menyampaikan pendapat kesepakatan berdamai sebelum prosesi patah panah.

 

Kesepakatan untuk berdamai itu dicapai dengan membayar kepala dari 3 orang korban yang tewas terbunuh. Korban itu terdiri dari 1 ibu dan 1 bapak yang melakukan hubungan perselingkuan. Sementara 1 orang lagi tewas akibat perang saudara itu. Sementara kerugian harta benda mencapai puluhan milyar rupiah.

Pendeta Nayus Wenda selaku inisiator perdamaian perang saudara itu mengajak warga dari kedua kampung itu untuk berdamai dan hidup di dalam kasih Tuhan  Yesus Kristus, Sang Juru Damai dan Juruselamat umat manusia.

“Budaya perang suku ini sudah ditinggalkan orang tua kita dulu setelah terima ajaran Nasrani. Apalagi ajaran Nasrani melarang untuk perang karena perang saudara ini pekerjaan setan,” ujar Pendeta Nayus Wenda.

Pendeta Nayus Wenda didampingi Nius Weya mewakili Pemda Tolikara sedang melakukan patah panah.

 

Menurut Nayus, semua umat manusia sudah diselamatkan dan didamaikan oleh darah Yesus Kristus melalui kematian Yesus di Kayu Salib. Karena itu, perang saudara ini tidak ada untungnya bagi pihak manapun.

“Apalagi, korban yang tewas ini punya keluarga. Kasihan, tidak ada yang bertangung jawab. Mari kita hidup saling membantu, saling mengasihi dan tingkatkan kebersamaan,” tegasnya.

Sementara itu Nius Weya mewakili Pemda Tolikara  menegaskan  semua pihak jangan bermain-main dengan perang. Karena perang hanya mengakibatkan banyak berjatuhan korban jiwa dan menghilangkan nyawa manusia.

“Mulai hari ini, Jumat 9 April 2021, kita sudah patahkan panah sebagai simbol perdamaian. Dengan mematahkan panah ini, tidak akan lagi ada peperangan yang terjadi,” tegas Nius.

Pada acara seremoni patah panah ini juga digelar acara bakar batu (barapen) oleh warga Kampung Gwendo dan Kampung Jiyogobak untuk makan bersama-sama penuh persaudaraan sebagai tanda perdamaian. (Derwes Yikwa)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *