Jurnalis Papua Diminta Peduli dan Menulis Isu Penyelamatan Cycloop

 

Para jurnalis di Papua berpose bersama usai kegiatan pelatihan tentang Pengelolaan Hutan Cycloop di Hotel Horex Sentani, Selasa (02/04/2019).

JAYAPURA (PB.COM)—Jurnalis Papua, khususnya di Kota dan Kabupaten Jayapura, diminta membangun kepedulian dan menulis isu pentingnya penyelamatan cagar alam Pegunungan Cycloop di Kabupaten Sentani dalam pemberitaan media massa. Kawasan cagar alam yang menjadi ‘ibu’ bagi kehidupan masyarakat Kota dan Kabupaten Jayapura ini sedang mengalami kerusakan dan butuh tanggung jawab semua pihak untuk memulihkannya, termasuk kelompok profesi jurnalis sama-sama ikut berpartisipasi melalui informasi edukatif.

Demikian permintaan Koordinator USAID-Lestari Papua, Paskalina Rahawarin saat  pelatihan bertajuk Pengelolaan Hutan Cycloop: Mengatasi Ancaman dan Menyelamatkan Sumber Air Kabupaten/Kota di Hotel Horex Sentani, Selasa (02/04/2019). Pelatihan ini digelar bagi puluhan anggota jurnalis yang bernaung di bawah dua organisasi wartawan yakni PWI Papua dan AJI Kota Jayapura.

“Kami sangat berharap, para wartawan dan kami bisa bersinergi untuk menberikan informasi yahg benar tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Kami dari USAID Lestari mengucapkan terima kasih kepada PWI Papua dan AJI Kota Jayapura yang mengirim wartawan untuk mengikuti pelatihan ini. Banjir bandang yang terjadi kemarin kita jadikan pelajaran. Ini banjir bandang terbesar dengan korban terbanyak di Papua,” kata Paskalina.

Koordinator USAID-Lestari Papua, Paskalina Rahawarin (baju putih) bersama pemateri yakni Kepala BBKSDA Papua Edward Sembiring, S.Hut.M.Si dan Dosen Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih Dr Mujiati Surianata.

Menurut Paskalina, menjaga Cycloop sebagai kawasan cagar alam membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari Pemerintah Daerah, BKSDA, LSM, adat, masyarakat, termasuk juga kalangan jurnalis. Oleh karena itu, informasi edukatif yang dikemas dalam berita jurnalis dinilai mampu untuk menggugah kesadaran semua pihak, terutama masyarakat yang merambah kawasan itu tentang pentingnya menyelamatkan Cycloop mulai hari ini.

“Belajar dari bencana banjir kemarin, hal terpenting adalah apa yang harus kita antisipasi ke depan. Menjaga Cycloop tidak hanya satu dua lembaga. Butuh kerjasama lintas sektor. Tantangan yang terbesar ialah perambahan hutan di daerah cagar alam itu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Edward Sembiring, S.Hut.M.Si saat membuka pelatihan mengatakan tujuan kegiatan ini adalah untuk menyamakan persepsi tentang  pentingnya penyelamatan kawasan cagar alam Cycloop guna mencegah terjadinya bencana alam seperti banjir bandang yang terjadi di Sentani, 16 Maret 2019.

Sebab, kata Edward, kawasan cagar alam dengan luas 31.479,89 hektar ini sedang mengalami kerusakan, dimana terjadi perambahan di kawasan penyanggah dan cagar alam berupa pembukaan kebun, penebangan kayu, pembuatan arang, bahan galian C dan pemukiman illegal. Selain itu, berkurangnya debit air pada sumber-sember air utama di Pegunungan Cyclop dan hilangnya beberapa spesies kunci seperti edkina, cenderawasih, kanguru dan mambruk.

Kepala BKSDA Papua Edward Sembiring, S.Hut.M.Si saat memaparkan materi di hadapan wartawan.

“Atas nama BKSDA kami ucapkan turut berbelasungkawa atas peristiwa banjir bandang Sentani. Tapi kami juga pelajari, di Distrik Rafenirara tidak ada korban, walaupun banjir juga. Lalu mengapa di Sentani ada korban?  Berarti ada masalah terkait rusakanya cagar alam. Kami butuh media untuk sampaikan ke publik apa langkah-langkah yang dilakukan ke depan. Mari kita sama-sama untuk belajar dari ke depan dengan mengedukasi masyarakat. Kami berharap, nota kesepahaman yang ditandatangani para kepala daerah kemarin di hadapan Presiden Jokowi di Bandara Sentani, benar-benar dijalankan, bukan hanya wacana demi menjaga Cycloop,” kata Edward.

Sementara itu, Plt. Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Papua (PWI) Papua, Hans Bisay mengatakan, jurnalis di Papua tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang tepat melalui pemberitaan terkait  cagar alam Cycloop. Sebab bencana Sentani membuka kesadaran semua pihak, termasuk wartawan tentang pentingnya penyelamatan Cycloop.

“Pelatihan ini juga membuka wawasan kami, para wartawan, tentang isu Cycloop, fakta dan data akurat kondisi cagar alam itu, dan apa yang harus dilakukan ke depan. Mungkin sesekali, pihak BBKSDA Papua maupun USAID Lestari mengajak wartawan untuk liputan investasi tentang hal ini. Atau juga sebulan sekali menggelar coffee morning dengan jurnalis, atau bekerjasama dengan kami di PWI dan AJI menggelar lomba menulis tentang lingkungan. Ini juga bagian dari bentuk membangun kemitraan dan menyamakan persepsi tentang isu lingkungan di Papua,” kata Hans yang juga Pemred papuatimes.com ini. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *