Presiden Jokowi Bertemu PM Singapura Sebelum Plenary KTT ASEAN di Bangkok

Presiden Joko Widodo mengadakan pull aside meeting dengan PM Singapura Lee Hsien Loong sebelum menghadiri pleno KTT ke-34 ASEAN di Hotel Athenee, Bangkok, Thailand.

JAKARTA (PB.COM) – Presiden Joko Widodo mengadakan pull aside meeting dengan PM Singapura Lee Hsien Loong sebelum menghadiri pleno KTT ke-34 ASEAN di Hotel Athenee, Bangkok, Thailand, pada Sabtu malam, 22 Juni 2019. Dalam pertemuan itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi turut mendampingi Presiden.

Usai mendampingi Presiden, Retno menjelaskan bahwa kedua pemimpin membahas pertemuan leaders’ retreat antara pemimpin kedua negara. Rencananya pertemuan itu akan diadakan di Singapura awal bulan Desember nanti.

“Pertemuan Leaders’ Retreat akan dilaksanakan pada minggu pertama bulan Desember tahun ini di Singapura,” kata Retno. Ia lalu menambahkan, pertemuan antara Presiden Jokowi dan PM Lee cukup singkat. Hal itu dikarenakan dilakukan sebelum sidang pleno dimulai. “Karena dilakukan secara pull aside sambil menunggu pertemuan plenary dimulai,” ucap Retno.

Hadiri Pembukaan KTT Ke-34 ASEAN di Bangkok

Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo pada hari ini, Minggu, 23 Juni 2019 menghadiri upacara pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-34 ASEAN. Puncak acara dari KTT tersebut dihelat di Valaya Alongkorn Drawing Room, Hotel Athenee, Bangkok, Thailand.

Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo pada hari ini, Minggu, 23 Juni 2019 menghadiri upacara pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-34 ASEAN.

Penampilan Suan Plu Chorus dan C-ASEAN Consonant yang membawakan lagu tema “The ASEAN Way” membuka acara tersebut. Setelah itu, Perdana Menteri (PM) Thailand Prayut Chan-o-cha selaku tuan rumah memberikan sambutannya. “Saya menyambut Anda sekalian di Kerajaan Thailand, tempat lahirnya ASEAN,” kata PM Thailand mengawali sambutannya.

Para pemimpin negara ASEAN dan hadirin kemudian disuguhi dengan penampilan budaya berjudul “Vivid ASEAN”. Setelah itu para pemimpin negara ASEAN kemudian diundang ke atas panggung untuk peluncuran ASEAN Satellite Warehouse in Chainat Province under The Disaster Emergency Logistics System for ASEAN.

Secara simbolis para pemimpin negara ASEAN mengarahkan laser ke sebuah bola kristal secara bersama-sama.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama para pemimpin negara-negara ASEAN. Kesepuluh pemimpin negara ASEAN tampak berjejer, menyilangkan kedua tangan, dan bergandengan tangan dalam sesi foto tersebut.

Setelah menghadiri upacara pembukaan, berturut-turut Presiden Jokowi menghadiri ASEAN Leaders’ Retreat, memimpin KTT ke-12 Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Summit, dan menghadiri pertemuan Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) Summit yang ke-13.

Presiden Jokowi dan Ibu Iriana bersama rombongan direncanakan kembali ke tanah air pada petang hari nanti dan diperkirakan tiba pada malam hari di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta.

Angkat Isu Rakhine State di Retreat KTT ASEAN

Presiden Jokowi kembali mengangkat isu Rakhine State dalam pertemuan retreat KTT ke-34 ASEAN di Hotel Athenee, Bangkok, Thailand, Minggu 23 Juni 2019.

“Saya ingin bicara sebagai satu keluarga, berterus terang, untuk kebaikan kita semua,” kata Presiden memulai pandangannya dalam pertemuan retreat.

Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Pemimpin ASEAN telah memberikan mandat ke AHA Centre untuk melakukan Needs Assessment guna membantu Myanmar mempersiapkan repatriasi yang sukarela, aman, dan bermartabat.

Mandat tersebut sudah dijalankan melalui pelaksanaan Preliminary Needs Assessment (PNA) tim ke Rakhine State. PNA sudah menyampaikan laporan dari pelaksanaan mandatnya.

Dengan adanya laporan PNA, Presiden Joko Widodo menyampaikan pandangannya. Pertama, rekomendasi laporan PNA harus ditindaklanjuti. “Saya berharap bahwa High Level Committee dapat segera membuat Plan of Action_ dengan time frame yang jelas,” kata Presiden Jokowi.

Lebih jauh Presiden mengatakan, “Tindak lanjut rekomendasi akan membantu terciptanya kemajuan dalam persiapan repatriasi.”

Kedua, isu keamanan menjadi kunci bagi pelaksanaan repatriasi. “Kita semua prihatin terhadap situasi keamanan di Rakhine State yang belum membaik,” ujar Presiden.

Indonesia berharap Pemerintah dan otoritas Myanmar dapat terus secara maksimal mengupayakan pemulihan keamanan. Tanpa jaminan keamanan, tidak akan mungkin terjadi repatriasi.

Presiden Jokowi juga menyarankan ASEAN dapat membantu membangun komunikasi dengan Bangladesh dan pengungsi di Cox’s Bazar. “Tentunya dengan tetap menghormati proses komunikasi bilateral Myanmar-Bangladesh,” kata Presiden Jokowi.

Lebih lanjut Presiden menyampaikan bahwa komunikasi yang baik antara Myanmar, Bangladesh, dan para pengungsi menjadi bagian penting bagi kesuksesan persiapan repatriasi. (Gusty)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *