Strategi Memutuskan Rantai Penularan Covid-19 di Papua

Data penyebaran kasus Covid-19 per 1 April 2020

Oleh Dr. Robby Kayame,SKM,MKes, Dr. dr .Arry Pongtiku, MHM & Elianus Tabuni, Mgr, MSc*

CORONA Virus Disease 2019 (Covid-19) telah memberikan ketakutan di seluruh dunia. Badan kesehatan se-dunia telah menyatakan sebagai Pandemi karena telah menyebar 199 negara .

Di Indonesia, penyebaran virus ini kian meningkat. Sejak ditemukan kasus pada 1 Maret 2020, sebulan kemudian tepatnya 1 April 2020, jumlah kasus positif Covid-19 menjadi sebanyak 1.677 orang yang menyebar di 32 provinsi di Indonesia. Dari 1.677 kasus positif Covid-19 tersebut, 1.417 pasien saat ini menjalani perawatan, 103 pasien dinyatakan berhasil sembuh, dan 157 orang meninggal dunia

Covid-19 adalah virus yang cepat menyebar karena menular lewat percikan air liur atau droplet dan mempunyai kemampuan bertahan  hidup di udara, tanah dan benda-benda yang bersentuhan dalam waktu beberapa jam. Orang yang lanjut usia dan orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit paru, jantung dan gangguan imunitas HIV-AIDS, kanker,kurang gizi dilaporkan mempunyai angka kematian lebih tinggi.

Untuk itu, melalui tulisan ini, kami ingin memberikan informasi epidemiologi Covid-19 sebagai dasar pengambilan keputusan dan memastikan tidak adanya transmisi penularan Covid-19 di Papua.

Gubernur dan wakil Gubernur Papua, Lukas Enembe, SIP,MH dan Klemen Tinal, SE.MM telah mengambil langkah strategis dan berani guna mengatasi penyebaran Covid-19  secara dini. Sejak tanggal 26 maret 2020, gubernur telah mengambil langkah pembatasan sosial  skala besar dilakukan sebagai respon Siaga Darurat dengan menutup penerbangan dan kapal laut guna mencegah orang masuk ke Papua, dan hanya mengizinkan distribusi logistik saja.

Gubernur Papua menutup pintu masuk orang-orang ke daerah Meepago, Lapago dan Animha karena masyarakat hidup kekerabatan tinggi dan suka berjabat tangan, berpelukan dan hidup berkumpul serta potensi udara dingin yang disukai oleh virus. Pemerintah juga telah melarang dan membatasi orang berkumpul.

Penanganan Covid-19 di Papua dilakukan Pemerintah Daerah melibatkan banyak sektor dengan menggerakkan tokoh masyarakat dan agama serta melibatkan universitas yang ada. Isu Covid-19 telah menjadi prioritas. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Karantina  Kesehatan di Papua sudah jauh hari memantau perkembangan Covid-19 dengan memeriksa semua orang yang masuk Papua, memberikan kartu kuning dan mengedukasi untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari karena  mereka datang dari tempat yang telah terjangkit virus Corona.

Belajar dari cara penanggulangan Covid-19 yang berhasil diterapkan di  Wuhan China, masyarakat dihimbau untuk tidak berkunjung ke tempat keramaian dan tinggal di rumah (Social distancing). Selain itu, WHO juga menganjukan untuk saling menjaga jarak sehingga tidak mudah tertular virus ini (physical distancing tetap menjaga Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan mencuci tangan (hygiene) serta makan bergizi untuk menjaga stamina  ini merupakan  penanggulangan yang murah dan tepat (Low Cost Intervention).

Saya tertarik poster bertuliskan begini: “Jika Anda di Rumah, Anda Menyelamatkan: Diri sendiri, Keluarga, Papua dari Corona. Kita membatasi ke teman lain, ke rumah lain, kampung lain, distrik lain, kabupaten lain dan ke provinsi lain”. Di Eropa, banyak orang lanjut usia meninggal, gara-gara anak cucunya datang menjenguk dan langsung memeluk tete nene-nya karena mereka  terjangkit virus ini.

Salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran ialah Tim Surveilans harus lebih gencar dengan mencari Orang Dalam Pemantauan (ODP) yaitu orang dengan gejala klinis utama deman, batuk kering, kelelelahan, sakit menelan,  melakukan perjalanan dari daerah terjangkit Covid-19 atau bersentuhan/kontak dengan pasien positif Covid-19.  Korea Selatan dan Taiwan  dua negara yang berhasil penanggulangan Covid-19  memilah-milah,  mana yang kasus ringan  yang harus dirawat di rumah (karantina mandiri), sakit sedang di rumah sakit darurat Covid dan sakit berat di rumah sakit rujukan.

Pemakaian Rapid Test Covid-19 juga sangat membantu untuk melakukan hal ini. Tempat pelayanan publik, rumah penderita positif dan sekitarnya disemprot dengan disinfektan. Dari 45 Rumah Sakit (RS) yang ada di Papua, 16 rumah sakit menjadi RS Rujukan. Pembenahan rumah sakit terlebih ruang isolasi , peralatan, serta Alat Pelindung Diri (APD), kesiapan dokter, paramedis dan laboratorium adalah penting dalam penanggulangan Covid-19.

Saat ini, pemerintah menyiapkan Rumah Sakit Darurat Covid-19 di Koya. Kita juga mendirikan posko-posko Covid-19, dimana kegiatan digerakkan dan dikoordinasikan dan juga membuat hotline  Siaga Covid-19: 1500411, sehingga masyarakat dapat bertanya. TVRI, RRI dan semua media massa, baik cetak, online dan elektronik lainnya gencar membantu tim Sastgas Covid untuk memberitakan pencegahan dan penanganan virus mematikan ini.

Berdasarkan data  yang dikeluarkan Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, hingga 1 April 2020, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di provinsi tertimur Indonesi ini sebanyak 7.152 orang, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 37 orang, dan yang positif sebanyak 10 orang dengan rincian, 2 kasus di Merauke, 5 di Kota Jayapura dan 3 di Mimika. Dari jumlah ini, ada 2 pasien yang sembuh. Rata-rata semua kasus di Papua adalah pasien import yaitu mempunyai riwayat perjalanan dari daerah terinfeksi. Jika ada kasus baru,  transmisi lokal harus menjadi perhatian.

Prinsip penanganan wabah ini adalah bagaimana pemutusan rantai penularan, penanganan dini dan kecepatan (speed). Prospektif atau skenario Pemutusan Rantai Penularan dapat dijelaskan dengan  melihat grafik Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Pasien Positif pada fenomena fase awal akan naik. Aktivitas memantau lebih tinggi di masyarakat lewat kegiatan Surveilans memasukkan orang-orang yang dipantau. Makin banyak ODP makin baik, begitu pula makin banyak orang yang dijaring masuk ke PDP makin baik. Hal ini menggambarkan kesiapan rumah sakit. PDP juga menggambarkan Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas dan logistik lainnya. Kasus positif juga ditemukan sebanyak-banyaknya dan diobati dan diisolasi supaya tidak menularkan ke orang lain adalah tujuan utama.

Hemat kami, menemukan kasus positif Covid-19 itu adalah baik karena kita mau memutuskan rantai penularan. Fenomena ini akan bertahan beberapa waktu dan selanjutnya  kita dapat melihat grafik ODP, PDP dan kasus Positif menurun . Sebaliknya muncul kasus-kasus yang sembuh. Pemeriksaan diagnostic pasti Covid-19 dilakukan dengan pemeriksaan PCR yang dapat dilakukan Litbangkes Papua di Jayapura.

Dengan mengetahui cara penularan , Papua sudah mempunyai strategi untuk menhadapi  Covid-19. Masyarakat berdiri di baris terdepan dengan tetap tinggal di rumah dan tidak melakukan aktivitas berkumpul, menjaga kebersihan diri dan menjalankan apa yang disampaikan pemerintah dan petugas kesehatan. Rumah Sakit dan tenaga medis adalah barisan pertahanan terakhir. Jangan biarkan virus berkeliaran. Sebab jika tidak, rumah sakit dapat jebol kebanjiran kasus Covid dan biaya yang ditanggung sangat besar seperti yang terjadi di Italia. Miliaran rupiah memang hilang akibat pembatasan penerbangan dan pelabuhan laut, tetapi melindungi masyarakat Papua lebih utama.

Dukungan pemerintah untuk intervensi kebijakan Social Distancing dan keterlibatan semua pihak dan masyarakat mentaatinya  adalah kunci utama. Masyarakat menyadari  bahwa diri saya, ya saya sendiri yang jaga, atau dalam pepatah suku Mee “Akiyama Akiida Dotou”. Soliditas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit menjadi penting.  Social Cost berupa keresahan, ketakutan, stigma masyarakat dapat terjadi karena Covid-19.

Ada berita bagus. WHO melaporkan hingga pertengahan Maret 2020, lebih dari 85 ribu orang dari total 220 ribu lebih penderita di seluruh dunia dinyatakan sembuh. Jumlah pasien sembuh bertambah setiap harinya. Sekitar 80% pasien sembuh tanpa membutuhkan perawatan khusus. Itu karena pasien itu memiliki optimism untuk sembuh sehingga menggerakan imun tubuhnya untuk melawan virus.

Perasaan takut terhadap virus ini justru dapat melemahkan tubuh kita. Kita, masyarakat Papua harus bisa mengubah rasa cemas menjadi cara melindungi diri, keluarga dan komunitas,  terutama dengan menjaga kebersihan tangan, kebersihan diri dan menjaga kesehatan. Tentunya, semua orang haru memantau informasi terbaru serta memperhatikan imbauan dari pihak berwenang mengenai keberlangsungan aktivitas, perjalanan atau larangan berkumpul.

Presiden Amerika Serikat, Franklin D.Roosevelt,  mengatakan “Hanya satu yang kita yang perlu takut adalah perasaan ketakutan itu sendiri (The only thing we have to fear is fear itself). Informasi yang benar dan terus menerus kepada masyarakat, bukan Hoax, sangat diperlukan. Pemberitaan dengan menggunakan kearifan lokal sangat dibutuhkan. Kita terus berdoa semoga badai Covid-19 ini segera berlalu.

Kesimpulan

Beberapa poin kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian kami di atas, antara lain:

PertamaPenyebaran Covid-19 di Papua bergerak lamban dan terkontrol.

KeduaSecreening yang ketat oleh KKP telah dilakukan di pintu-pintu masuk bandara dan pelabuhan dan memberikan kartu kuning (HAC) dan edukasi bagi orang yang datang dari luar Papua (daerah terinfeksi Covid-19).

Ketiga, Gubernur Papua telah menetapkan Siaga Darurat dan menutup bandara udara dan pelabuhan laut bagi penumpang yang datang dan keluar Papua dan hanya mengijinkan logistik masuk. Pemberlakuan pembatasan Sosial  lebih luas dengan melarang pertemuan massal, meliburkan sekolah dan kantor. Hal ini sangat membantu menahan penyebaran kasus Covid-19. Kasus Positif Covid-19 di Papua masih merupakan kasus import  dimana dibawa dari orang yang masuk ke Papua

Keempat, Tingginya kasus Orang Dalam Pemantauan(ODP) menunjukkan aktifnya Surveilans dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) adalah usaha rumah sakit untuk menemukan orang dicurigai dan dirawat. Kasus yang positif dilakukan isolasi dan dirawat sampai sembuh sehingga bisa memutuskan rantai penularan.

Kelima, Tracing kontak erat pasien yang positif, desinfeksi rumahnya dan sekitarnya serta fasilitas tempat umum telah dilakukan.

Beberapa  Rekomendasi

Adapun beberapa rekomendasi yang kami berikan sebagai pegangan untuk menghadapi dan mencegah penularan Vocid-19, antara lain:

Pertama, Walau perjalanan Covid-19 di Papua  bergerak lamban tetapi masih terlalu dini menyimpulkan keberhasilan karena penyakit Covid-19 adalah penyakit baru dan mempunyai kemampuan menyebar sangat cepat. Kita harus terus mencari kasus-kasus yang tersembunyi. Masa inkubasi virus Covid-19 adalah 1-14 hari dirasakan aman secara Public Health direkomendasikan 2 kali masa inkubasi atau memperpanjang masa Siaga Darurat ini. Penyebaran Virus Covid -19 masih  merajalela di provinsi lain

Kedua, Pemeriksaan Rapid test baru akan digunakan untuk mempercepat memilah kasus demi kasus. Sedangkan pemeriksaan dengan PCR dipakai untuk diagnostic dan kini telah dapat dilakukan di Litbangkes Jayapura. ODP dan PDP secepatnya dilakukan pemeriksaan  laboratorium.

Ketiga, Mendorong masyarakat tidak melakukan pertemuan-pertemuan masal, dan menjagak jarak satu dengan yang lain , menjaga kebersihan diri. Masyarakat tidak boleh melakukan perjalanan keluar daerah. Kerjasama lintas sektor untuk terus mengawasi agar masyarakat mentaati Social Distancing.

Keempat, Kerjasama lintas sektor terus digalakkan untuk mempercepat proses pemutusan rantai penularan.

Kelima, Informasi yang benar tentang Covid-19 harus sampai ke seluruh masyarakat di Papua dan juga mengurangi ketakutan dan kepanikan masyarakat.

Keenam, Sosialisasi terus menerus tentang Covid-19 harus sampai di masyarakat dan pedalaman. Survey cepat dilakukan apabila Dinas Kesehatan mendengar kecurigaan akan kasus atau meningkatnya Pasien Dalam Pengawasan (PDP) karena gangguan pernapasan.

Ketujuh, Mendorong partisipasi masyarakat dalam penerapan 3 rekomendasi WHO.

Kedelapan, Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota terus menyiapkan Rumah Sakit Darurat dan Rumah Sakit Rujukan. Melengkapi peralatan, ruang isolasi untuk pasien, menyiapkan APD (Alat Pelindung Diri), masker, dan laboratorium untuk memberikan pelayanan standar.

*Dr. Robby Kayame,SKM, MKes adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua

** Dr. dr. Arry Pongtiku Bekerja di Dinkes Papua, FKM/Kedokteran Uncen

*** Elianus Tabuni, Mgr,MSc Bekerja di Dinkes Papua, Epidemiolog lulusan Praha University

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *