Stres Pedang Bermata Dua di Masa Covid-19

Oleh Arry Pongtiku, Elianus Tabuni, Arief Rachman[1]

Saya sebenarnya tidak mau menulis topik ini tapi dirasakan  perlu di masa  krisis  Covid-19. Tulisan sederhana ini membahas  dan mekanisme stress  yang dapat terjadi selama Covid-19 dan mengatasinya. Berbuat baik adalah ibadah.

“Dorkas duduk di bawah pohon seorang diri, dan Marthin  lagi  mabuk  minum topi miring. Dullah mengisap  rokoknya  dalam – dalam sambil menghembuskan kepulan asap melalui hidung sedangkan Bu Nani sudah menghabiskan beberapa batang rokok dalam hitungan jam saja. Mahasiswa Yustus yang sudah ditinggalkan ayahnya 3  tahun  yang  lalu setiap hari bangun pagi dan giat belajar dan mengerjakan semua tugas kuliahnya dengan penuh semangat. Agus dan Karel kehilangan orang tuanya karena Covid-19 masih duduk termenung dengan duka. Siti dan Yakomina bingung biasanya aktif di sekolah sekarang harus tinggal di rumah karena sekolah diliburkan. Magdalena dan  Bram takut kalau orang tahu bahwa kakak ipar yang tinggal serumah meninggal karena Covid-19. Markus mengisi waktu dengan menanam sayur di pekarangan dan olah raga selama Covid-19 merajalela. Yosep dan keluarganya di Asmat, pa Desmon di Mamberamo tinggal di hutan untuk mencari sagu dan berburu untuk survival.  Pegawai Ori dan Evie harus ke kebun untuk suplai makan bagi keluarganya. Keluarga Lexi menyanyi, memuji Tuhan sambil memainkan musik dan mengirim youtube. Ada yang membuat lagu tentang Corona  “Sa pu cinta di lockdown”.  Lagi-lagi, Yance dan Titi harus dirumahkan karena toko  mereka kerja melakukan efisiensi menghadapi Covid-19. Pa Saib yang hari-hari mengecek  dan menertipkan  harga-harga di pasar, 1 rak telur Rp 80,000 beberapa menit kemudian dinaikkan Rp 120,000 oleh pedagang  padahal stok cukup banyak. Jam 6 sore sudah terasa jam 10 malam di kota Jayapura apalagi di Sentani. Tetapi tidak untuk Ateng pelawak legendaris yang mau bunuh diri di bawah pohon tomat atau pohon tauge. Banyak fenomena di atas dapat digambarkan karena alasan stress dan panik”.

Stres yang kita kenal dalam bahasa Inggris ditulis  Stress  mempunyai arti tindakan atau efek dari tekanan. Stress n the action or effect of force exerted within or upon a thing. Persamaan kata stress adalah :pressure, strain, tension (Ensiklopedia Britanica,2010). Banyak penelitian dilakukan pada stres, salah satunya oleh Sutheland & Cooper tahun 1993 yang menjelaskan bahwa stres diperlukan dalam meningkatkan kinerja manusia, tetapi stres yang berlebihan dapat merusak kinerja itu sendiri. Bentuk U terbalik (seperti gambar 1).

Karena tidak ada tantangan dan kehidupan serba mudah orang cenderung apatis dan malas tetapi jika ada stres mereka menjadi lebih kreatif dan mengoptimalkan potensi yang ada pada mereka. Stress yang berlebihan bukan memperbaiki kinerja tetapi lebih memperburuk keadaan: banyak kesalahan mereka perbuat, gelisah, kurang percaya diri bahkan sulit tidur. Kita lihat di Bali dan Singapura yang luar biasa kemajuannya walaupun tidak mempunyai sumber daya alam tetapi penduduknya bangkit mempunyai kinerja yang tinggi, kreatif untuk bisa bertahan dan bersaing dengan daerah dan negara lainnya.

Gambar 1. Hubungan kinerja dan stress

Stress dan Mekanisme Pertahanan Tubuh

 Mari  kita  melihat  stres   dalam     fisiologi tubuh  kita,  stres   adalah mekanisme pertahanan  tubuh (survival). Misalnya: apabila ada penjahat yang siap menyerang kita mungkin kita akan merasa takut,marah ataupun siap membalasnya. Tubuh kita akan dipicu stres. Tantangan atau bahaya yang datang akan merasang otak untuk mengaktifkan saraf simpatis, dan kelenjar anak ginjal (glandula adrenal) akan menghasilkan hormone adrenalin yang membuat denyut jantung meningkat, pernapasan cepat,  tekanan darah  meningkat, kadar gula darah meningkat, asam lambung meningkat, pupil mata melebar,pembekuan darah meningkat.Hal ini merupakan sistem di tubuh kita yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa supaya kita bisa bertahan hidup, dan apabila tantangan atau bahaya hilang maka otak akan mengaktifkan sistem parasimpatis yang memberi efek yang sebaliknya seperti pupil mata mengecil, sekresi kelenjar menjadi  lebih baik, keringat berhenti, jantung  dan  napas kembali teratur  dan aktifitas lambung meningkat (gambar 2).

Gambar 2. Mekanisme Pertahanan Tubuh (Survival)

Stress terhadap resiko penyakit

Walaupun kemampuan tubuh kita hebat dapat beradaptasi terhadap lingkungan , tetapi jika stres berkepanjangan maka kadar gula sering meningkat menyebabkan kita beresiko terkena diabetes, tekanan darah yang meningkat mengakibatkan beban jantung dan pembuluh darah dapat memberi resiko hipertensi maupun serangan jantung dan stroke. Banyak resiko penyakit saat ini dihubungkan dengan gaya hidup dan stres.

Stres yang berkelanjutan menyebabkan bahaya bagi tubuh kita.Seperti anjing mengonggong sistem pertahanan tubuh kita dipaksa untuk dapat beradaptasi dengan stres. Kelelahan,kekecewaan merupakan produk yang terlihat. Tetapi di dalam tubuh kita, di dalam otak kelenjar hipotalamus akan merangsang korteks adrenal (kelenjar anak ginjal) untuk menghasilkan hormone kortisol. Hormon kortisol meningkat di dalam darah menyebabkan imunitas menurun, fungsi sel T dan makrofak sebagai sistem kekebalan tubuh yang menghalau kuman dan virus tidak dapat bekerja dengan baik begitupula kurangnyan produksi RNA sehingga sel-sel otot melemah (gambar 3).

Kortisol sebagai biangkerok hancurnya atau detoriasi sistem pertahanan tubuh kita. Stres telah terjadi di masa Covid-19 ini  olehnya kita harus bisa mengendalikan stress ini. Berdamai dengan stress dengan mengatur dan menghindari stres menjadi pokok pembicaraan. Beberapa penelitian di Afrika dan pengalaman konselor HIV/AIDS ,penderita yang bisa menerima sakitnya dapat hidup lebih panjang umur, bahkan penderita yang masih status HIV tidak terjun ke dalam AIDS. Rata-rata yang meninggal karena Covid-19 adalah orang berusia lanjut dan memiliki Comorbid yaitu penyakit kronis seperti sakit kencing manis (diabetes militus), tekanan darah tinggi dan jantung, penyakit paru kronis, HIV/AIDS. Stress akan memperparah mereka.

Gambar 3. Menurunnya Imunitas karena meningkatnya Kortisol

Stres karena ekonomi

Dampak ekonomi sudah dirasakan oleh masyarakat  karena penutupan pintu masuk ke dan dari Papua (Lockdown). Hari ini sudah hari ke 28. Walaupun ada jaminan ketersediaan beras dan pangan hingga 3 bulan ke depan dan pesawat kargo dan kapal dapat mengsuplai logistik, dampak Covid-19 sudah terasa. Akitivitas umum hanya dibolehkan hingga jam 14.00 siang. Berkurangnya lapangan kerja,  harga juga merangkak naik dan minimnya barang. Pengaruh naiknya  dollar  terhadap rupiah berdampak terhadap barang elektronik dan barang import. Kalau keadaan terjadi tekanan ekonomi berkepanjangan dapat menyebabkan kerawanan sosial dan keamanan.

Status darurat  memungkinkan pemerintah menanggapi /merespons daerah-daerah yang rawan pangan. Pemerintah wajib membantu masyarakat dalam mengatasi persoalan ini terutama membantu sembako dan pelayanan kesehatan,obat-obatan. Bantuan dapat berupa uang tunai tetapi masyarakat mentaati  aturan social distancing, physical distancing atau tinggal di rumah.  Pendapatan masyarakat berkurang , mungkin pengusaha tidak dapat membayar utangnya. Ada kemudahan dalam membayar cicilan.“Lukas, anak muda, juga tidak dapat keluar rumah karena su tra punya uang bensin atau transport “. Banyak pegawai swasta di rumahkan karena  perusahaan /hotel tidak dapat membayar gaji mereka.

 Fisologi otak dan mengatasi stres

 Bagaimana kerja otak terhadap stres dipelajari. Secara sederhana bahwa stres yang masuk ke otak melalui sistem yang dikenal sebagai RAS (Reticular Activating System). Rangsangan yang diterima otak naik ke atas melalui indera kita baik indera penglihatan,penciuman maupun pendengaran dan diolah dan dipancarkan ke system syaraf di otak besar ,otak kecil dan kelenjar-kelenjar yang ada di dalam otak (gambar 4).

Kita dibombardir dengan stimulus yang membutuhkan perhatian , namun kita dapat mengfokuskan hal-hal yang untuk pertahanan tubuh kita (survival).Bagian dari otak ini menyimpan semua perasaan anda menjadi awas terhadap sesuatu dan menyaring semua informasi yang tidak perlu untuk survival.

Hati yang gembira adalah obat, telah menjadi slogan yang sering kita dengar. Menjaga hati supaya tetap senang dan dapat menerima keadaan menjadi pembelajaran pertahanan tubuh terhadap stres. Kita tidak perlu menyimpan masalah, apalagi marah, dendam karena akan menyebabkan kita menjadi sakit. Sistem memori dalam RAS akan menyimpan semua hal itu. Buddha (562-483 BC)mengajar hukum yang dikenal sebagai “ the Law of Attraction” yang mengatakan “Semuanya itu adalah hasil dari pikiran kita. Pikiran adalah segalanya. Apa yang kita pikirkan akan terjadi demikian buat kita”.

Orang-orang yang menghadapi masalah dan terkena dampak stres dapat ditolong oleh fasilitator dengan cara : help people to dream (membantu mereka bermimpi bahwa mereka dapat sembuh,mereka mampu melakukan, mereka bisa keluar dari masalah, mereka bisa  bebas dari takut, mereka bisa hidup sejahtra dan mereka bisa menjadi orang yang sukses); help people to value themselves (membantu mereka menghargai dirinya, pada dasarnya tidak ada orang yang mau merusak dirinya sendiri, mereka masih dibutuhkan orang lain,mereka dapat menghargai dirinya karena mereka adalah seorang anak,individu, seorang ibu ,seorang ayah, seorang pegawai, petani, pengusaha yang dulu aktif mereka bisa pulih kembali). Sistem RAS (Reticular Activating System) dalam otak akan mencatat semua kesempatan-kesempatan, stimulus-stimulus yang baik dan menyimpannya dan merestorasinya untuk mendapatkan hal-hal yang kita ingin capai.

Olah raga ringan membuat orang lebih segar, releks. Olah raga teratur membuat peredaran darah lebih lancar dan pernapasan  juga oke. Hormon-hormon tubuh akan diproduksi dan digunakan oleh tubuh melakukan fungsinya. Ada pepatah  dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (mensana incorporesano). Menanam sayuran, merawat bunga, memelihara hewan piaraan membuat suasana lebih santai.

 Pengaruh  Stress  dan  Ketakutan  terhadap pemutusan rantai penularan Covid-19

Informasi yang berlebihan dan tidak benar dapat menyebabkan ketakutan. Sementara social distancing (larangan berkumpul dan tinggal dirumah), physical distancing (jaga jarak 2 meter jika bertemu satu dengan lainnya) dan wajib masker kalau keluar ke tempat umum atau berbelanja sudah membuat orang stress dan bahkan ada yang mengalami paranoid menjadi curiga berlebihan ,takut dengan yang lainnya. Makin banyak kasus yang ditemukan makin baik  dalam rangka pemutusan rantai penularan, tapi banyak orang tidak memahami ini dan takut, angka yang dikumpulkan positif Covid-19  terus merangkak naik oleh karena angka kumulatif yang  terus ditambahkan.

Saat ini per tanggal 22 April 2020 kasus positif sebanyak 124 orang. Hal yang menggembirakan adalah angka kesembuhan sudah 33 orang artinya penyakit Covid-19 walaupun cepat menular tetapi angka kesembuhannya tinggi (gambar 5). WHO juga menegaskan 80% kesembuhannya tanpa memerlukan perawatan khusus.

Gambar 5. Data Covid-19 di Papua tanggal 22 April 2020

Pemutusan Rantai penularan dapat terjadi jika kita bisa  mendapatkan kasus sebanyak-banyaknya kita obati dan diisolasi. Kasus positiflah yang bertanggungjawab terhadap penularan. Proses ini harus cepat karena penularan covid-19 sangat cepat .Satu orang positif dapat menularkan 2 orang lainnya dalam sehari.  Secara sederhana kalau kita membuat grafik kasus harian  modelnya seperti kurva normal yaitu berbentuk seperti lonceng atau genta sehingga dapat memutuskan rantai penularan .

Grafik akan naik kemudian menurun karena intervensi ini. Pemeriksaan Rapid Diagnotic Test dan konfirmasi PCR (Polimerase Chain Reaction) sebanyak-banyaknya dapat mendeteksi kasus Covid ini. Intervensi yang tinggi dapat dilakukan dimasyarakat adalah Wajib periksa RDT dan PCR, Wajib Social Distancing dan Wajib masker. Kita tidak memberikan peluang bagi virus berkembang biak . Virus hanya berkembang di tubuh manusia, jika kita tidak bergerak atau membatasi pertemuan-pertemuan kita juga menutup kemungkinan penularan tersebut (gambar 6 di bawah ini)

Gambar 6. Memutuskan Rantai Penularan

Stigma terhadap penyakit Covid-19 dapat menyebabkan orang takut untuk diperiksa . Bahkan orang yang sudah diketahui memiliki riwayat kontak dengan penderita positif dapat menarik diri dan bersembunyi (self stigma) oleh karenanya sekali lagi pentingnya edukasi buat masyarakat. Mereka mendapatkan informasi yang benar dan tidak menakut-nakuti serta selalu ada solusi dan strategi mengatasinya. Tidak ada stigma dan rasa takut (stigma and fear reduction) masyarakat dapat datang secara sukarela memeriksakan dirinya ke fasilitas pelayanan masyarakat. Kejujuran masyarakat dibutuhkan apakah mereka ada riwayat kontak. Virus Covid -19 tidak pandang buluh beberapa petugas kesehatan dokter dan perawat juga terjangkit penyakit ini.

Mereka juga takut sehingga memberikan keengganan untuk melayani pasien. APD  yang baik dan benar sesuai SOP  maka petugas kesehatan dapat terhindar dari virus tersebut. Tidak jarang ada petugas kelelahan karena sangat sibuk (burn out) sehingga tidak dapat melaksanakan tugasnya lagi. Proses penguburan orang menderita Covid-19  diperlakukan khusus sehingga tidak mengijinkan orang menangisi mayat dan memeluk yang sering terjadi. Menggunakan APD dan disinfektan dan disembahyangkan sepertinya proses  penguburan layaknya.Tidak jarang orang meninggal dan keluarganya mengalami  stigma  dan penolakan sehingga perlu penjelasan dan sosialisasi yang buat masyarakat. Ada banyak  pengalaman ,stigma secara tidak sadar  juga dicetus oleh petugas kesehatan sendiri  yang memperlakukan orang sakit  seperti sakit Covid-19, HIV , kusta dengan memperlakukan secara berlebihan (exclusively) . Kita perlu mengenal penyakitnya dan protap yang dijalankan.

Stress Covid-19 sebagai peluang

Covid-19 telah membuat seluruh dunia goncang termasuk kita di Papua. Masalah ini dapat  menjadi peluang perubahan prilaku. Perubahan prilaku adalah satu hal yang tidak mudah.  Ada hal-hal yang positif yang sedang  terjadi di masyarakat antara lain keingintahuan terhadap informasi sehubungan dengan Covid-19 dan  informasi lainnya.  Penggunaan teknologi mulai dari telpon, WA dan bahkan teleconference /zoom, orang belajar menggunakan teknologi. Saya masih ingat 20 tahun lalu , kami diberi assignment di Australia yaitu “siapa  menguasai teknologi dan informasi menguasai dunia”.

Inovasi-inovasi dengan menggunakan teknologi muncul pada keadaan krisis atau Stress ini. Negara Jepang bangkit akibat kehancuran Perang Dunia ke -2  dan jadi pemenang dalam industrialisasi,  inovasi muncul  termasuk budaya terus menerus memperbaiki produksi sehingga berdaya saing tinggi dan susah di contoh oleh negara lain. Di Papu , banyak produk lokal dan bahan-bahan lokal laku di jual. Untuk wilayah pantai menurunnya harga ikan laut, wilayah pedalaman  makanan pokok yang diproduksi masyarakat meningkat seperti sagu dan umbi-umbian. Alat Pelindung Diri (APD) penjahit mulai memproduksi APD lokal, hasil pertanian masyarakat dan beberapa buah yang dianggap meningkatkan daya tahan mulai laku di pasaran seperti buah jeruk, jambu biji, buah merah,sayur kelor, jahe merah menjadi mahal dan langka. Masyarakat mulai beralih ke pengobatan alternatif karena akses pelayanan kesehatan mulai dibatasi.

Perasaan krisis membuat masyarakat meningkat partisipasinya. Belajar menaati apa yang pemerintah anjurkan. Masyarakat dan perusahaan (lewat program CSR) ada yang memberi bantuan kemanusiaan dan berkontribusi dalam pembelian APD (Alat pelindung diri) ,Rapid Test, sembako.  Kepedulian sosial dimana yang kuat membantu yang lemah, jangan tanya apa yang negara bisa berikan kepadamu tetapi tanyakan apa yang kamu dapat beri pada bangsa dan negara yang kita cintai pada masa krisis Covid-19.

John F Kennedy, mantan presiden AS, mengatakan  “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country”. Perilaku hidup bersih dan sehat  dimana masyarakat lebih memahami perlu cuci tangan. Budaya antri dan sabar, supaya tidak berdesak-desakan. Budaya hemat, tidak bersifat boros dapat mengatur keuangan berdasarkan prioritas kebutuhan. Budaya disiplin karena waktu kerja hanya pendek sampai siang ,mereka harus bisa mengatur waktu. Saya melihat kendaraan bermotor keluar lebih pagi tidak seperti biasanya.  Orang Barat sangat displin dengan waktu karena mereka punya musim-musim, mereka tidak produktif di musim dingin sehingga musim lainnya mereka harus menggunakan waktu lebih baik. Pengetahuan tentang obat-obat alternative terus dikembangkan.

Masyarakat akan mengerti tentang kesehatan dan  vaksinasi untuk mencegah penyakit-penyakit yang gampang mewabah. Lebih toleransi karena semua orang bisa terkena penyakit yang mewabah.  Masyarakat lebih memahami ancaman globalisasi termasuk penyebaran penyakit  yang dapat lintas negara dan daerah-daerah. Bahkan Amerika juga memikirkan ruang angkasa  untuk tinggal di bulan atau menemukan planet baru seperti di bumi.

 

Kepustakaan:

Hugh Cross,PhD, 2010. Materi  Care and  Rehabilitation, Nepal.

[1] Tim Data dan Info Posko Covid-19 Dinkes Papua

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *