BKKBN Imbau Pasangan di Papua Tunda Kehamilan di Masa Covid

Kepala BKKBN Provinsi Papua, Sarles Brabar, SE.M.Si

JAYAPURA (PB.COM)—Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Papua, Sarles Brabar, SE.M.Si mengimbau agar pasangan usia subur di wilayah Bumi Cenderawasih sedapat mungkin bisa menunda kehamilan di masa pandemi Corona Virus Disease atau Covid-19.

“Karena resikonya tinggi bagi kesehatan ibu dan janin. Di masa Covid ini kan, semua orang butuh imun tubuh yang kuat. Resiko penularan wabah ini juga besar bagi ibu hamil. Sementara itu, jika hamil, mendatangi fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau Puskesmas juga beresiko tertular. Tetapi kalau yang sudah terlanjur hamil tidak apa-apa. Kita imbau yang belum agar mempertimbangkan untuk ditunda,” kata Sarles Brabar kepada papuabangkit.com melalui telepon selulernya, Senin (11/05/2020).

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Papua, Sarles Brabar, SE.M.Si saat menyerahkan bantuan masker kepada pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Papua.

Menurut Sarles, Badan Kependudukan Dunia United Nations Population Fund  (UNFPA) sudah memprediksi bahwa sejumlah kebijakan untuk memutus mata rantai penularan virus seperti penutupan wilayah (lock down), tinggal di rumah saja (stay at home), dan kerja dari rumah (work from home) berdampak pada tingginya angka kehamilan tiga empat bulan belakangan.

“Diprediksi akan ada penambahan jumlah penduduk di masa Covid, ada baby boom. Di Indonesia sudah terjadi, seperti di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat dan Nagekeo, NTT. Jumlah orang yang hamil naik seratus persen lebih. Ini yang kita kuatirkan kehamilan yang tidak diinginkan terjadi di Papua,” katanya.

Sosialisasi yang dilakukan BKKBN di Kabupaten Waropen sekaligus penyerahan masker dan bahan makanan bagi lansia.

Oleh karena itu, kata Sarles, Kepala BKKBN RI dr Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) telah menginstruksikan kepada pihaknya untuk membangun kerjasama dan koordinasi dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Provinsi Papua dan kabupaten/kota untuk bersama-sama memberikan pencerahan dan pelayanan kontrasepsi jangka pendek dengan pemberian pil, suntik dan kondom.

“Kita inginkan kesehatan ibu dan bayi yang akan lahir. Kami tetap koordinasi dengan para bidan di kabupaten/kota. Juga kami beri bantuan berupa masker, sarung tangan, bahan makanan dan sosialisasi kepada para bidan dan masyarakat. Kami dari Provinsi tidak bisa turun langsung ke seluruh kabupaten karena kondisi transportasi penerbangan yang masih ditutup sejak 26 Maret hingga hari ini,” katanya.

Data Perkembangan Covid-19 di Provinsi Papua per 10 Mei 2020.

Sebelumnya, Juru  Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) mengatakan pihaknya mendorong agar proses persalinan normal bagi ibu hamil di Papua dilakukan di Puskesmas untuk beberapa bulan ke depan.

“Rumah sakit kita saat ini penuh dengan pasien Covid. Kurang lebih 640 pasien yang sedang kita rawat yaitu 228 pasien positif dan 412 Pasien PDP. Kami sudah dorong agar ibu-ibu hamil yang akan melahirkan, khususnya yang melahirkan normal di Puskesmas,” kata Sumule saat memberi keterangan pers secara virtual dari Posko Satgas Covid-19 Provinsi Papua, Minggu (10/05/2020).

Berdasarkan data, orang yang positif terinfeksi Covid 19 di Provinsi Papua per 10 Mei 2020 menembus angka 308 orang, dimana 228 pasien saat ini sedang dirawat, 73 orang dinyatakan sembuh, dan 7 orang meninggal dunia. Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) juga bertambah menjadi 2.908 dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 412 orang. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *