Pasien Covid Baru di Papua Masih Meningkat Tajam, Ini Tiga Alasannya

Update Data Perkembangan Covid-19 di Provinsi Papua per 31 Mei 2020.

 

JAYAPURA (PB.COM)Penambahan jumlah pasien yang terinfeksi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi Papua masih terus meningkat tajam. Papua menjadi salah satu provinsi dengan kasus terbesar kedua di luar Pulau Jawa, sesudah Provinsi Sulawesi Selatan yang kini mencapai 1.510 kasus.

Berdasarkan data Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua,  per 31 Mei 2020, jumlah angka kumulatif kasus Covid di Papua sebanyak 815 kasus, dimana 584 pasien sedang dalam perawatan medis, 219 orang dinyatakan sembuh, dan 12 orang meninggal dunia.

Masyarakat di Papua maupun di luar Papua bertanya-tanya: mengapa angka ini bergerak naik begitu cepat? Pertanyaan ini wajar karena sejak awal wabah ini merebak di negeri ini, Papua adalah daerah pertama di Indonesia yang melakukan kebijakan radikal semi lock down.

Gubernur  Lukas Enembe dan Forkopimda tegas berani menentang kebijakan Pemerintah Pusat. Menutup pintu akses orang keluar masuk Papua dengan menghentikan sementara operisonal pesawat dan kapal penumpang. Yang boleh mendarat dan berlabuh, hanyalah pesawat cargo dan kapal laut untuk memasok kebutuhan makanan dan alkes. Itu dilakukan tiga bulan lalu, tepatnya 26 Maret 2020. Lalu mengapa virus ini merajalela dan kian menakutkan warga Papua?

Sebaran ODP dan PDP di Papua per 31 Mei 2020.

Media papuabangkit.com pernah mengulas pada 12 April 2020 bahwa kasus penyebaran Covid di Papua berasal dari tiga klaster dari luar Papua. Bogor, dalam catatan kasus, adalah klaster pertama yang menjadi sumber penularan Covid di Provinsi Papua. Itu terungkap, saat penemuan kasus positif Covid-19 di RSUD Merauke pada 22 Maret 2020. Sebelum sakit dan dinyatakan sebagai warga Papua pertama yang positif terpapar virus corona, ARN, yang kini sudah sembuh itu, menghadiri Seminar Bisnis Syariah (Tanpa Riba), 25-28 Februari 2020 di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Berikut adalah Klaster Lembang yaitu kegiatan seminar Gereja Bethel Indonesia (GBI) menggelar seminar keagamaan di Lembang, Bandung Barat. Ribuan peserta hadir. Termasuk, salah satu pendeta di Timika berinisial DN. Sepulangnya ke Timika, DN sakit dan meninggal. Hasil tracing, ia turut menularkan sejumlah orang di Kota Emas Papua itu. Termasuk, DL security PTFI, yang meninggal pada Pada Jumat, 3 April 2020 dan LB, pemilik toko di Timika yang meninggal pada Senin, 6 April 2020 di RSUD Mimika.

Tim relawan khusus pemakaman jenazah Covid-19 dari UP2KP saat menurunkan peti jenazah PDP ke liang kubur, Rabu (27/05/2020) siang di Pemakaman Khusus Covid di Buper Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua.

Klaster lain yang ikut menyumbang penyebaran Covid di Papua adalah kegiatan Ijtima Jamaah Tabligh se-Asia di Gowa, Sulawesi Selatan pada 19-20 Maret 2020. Kendati menuai protes dan giat itu akhirnya dibatalkan, namun ribuan peserta terlanjur datang dan berkumpul. Klaster ini menyumbang sejumlah kasus, terutama di Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Sarmi dan Nabire.

TIGA ALASAN ANGKA PAPUA NAIK 

Dari penulusuran sejumlah data wawancara dan keterangan selama hampir tiga bulan mengikuti perkembangan berita dari hari ke hari, redaksi menyimpulkan, ada tiga penyebab utama, mengapa angka kasus di Papua terus naik.

Pertama, Transmisi Lokal. Masa inkubasi virus, yang dalam teori 14 hari, sudah lewat. Sudah tiga bulan lebih akses keluar masuk Papua ditutup. Namun sayangnya, penyebaran virus yang dibawa dari beberapa klaster dari luar Papua dalam kasus import, telah membentuk klaster baru, yang justru jauh lebih berbahaya: penularan atau transmisi lokal.

“Setelah kita kaji, kita di Kota Jayapura terlambat melakukan penutupan bandara dan pelabuhan. Sebab virus ini terlanjur sudah masuk yang kita tidak ketahui dan masyarakat tak disiplin memicu cepatnya virus ini sehingga terjdilah transmisi lokas,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua dr. Silwanus Sumule, Sp.OG(K) kepada papuabangkit.com, akhir pekan kemarin.

Tampak pintu pagar Bandara Sentani yang mulai ditutup sejak 26 Maret 2020.

Keterlambatan penutupan bandara, memang fakta. Tetapi sikap tanggap darurat Pemda Papua, terkhusus Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura yang lamban merespon, bisa jadi ikut memicunya. Sebab berkaca dari Kabupaten Merauke, yang terbilang paling sukses mengendalikan penyebaran virus ini, di sana mereka telah lebih dahulu mengantisipasinya beberapa minggu sebelum Pemprov Papua mengeluarkan kebijakan menutup pelabuhan dan penerbangan penumpang.

“Kalau tanya secara pribadi ke saya, saya bilang, untuk Jayapura terlambat antisipasi saja dari awal. Ketika kasus di Jakarta mulai ada sebelum Papua tutup bandara, kami di Satgas Merauke sudah rapat dan putuskan bahwa semua pelaku perjalanan ini kita skrining dan kasih kartu HAK atau Health Alert Card. Ketika pesawat masuk, kita koordinasi dengan KKP sehingga seluruh penumpang langsung diskrining. Data HAK penumpang itu kemudian diserahkan KKP ke kami tim surveilans di Dinas Kesehatan, lalu kami distribusikan ke Puskesmas sesuai tempat domisili sehingga mereka semua dipantau satu-satu,” kata Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Merauke, dr Neville Muskita per telepon Seluler, Sabtu, 30 Mei 2020.

Kedua, Rendahnya Displin Warga. Sebagai sebuah wabah baru, tingkat kesadaran warga akan pentingnya mematuhi protokol kesehatan dan himbauan pemerintah, dinilai masih sangat lemah. Hal ini ini paling tampak di Kota Jayapura. Kegiatan kerumunan di jalan raya, pasar dan mall tanpa menjaga jarak dan memakai masker, menjadi pemandangan sehari-hari di bulan-bulan pertama wabah ini.

Kasus Kelurahan Hamadi di Distrik Jayapura Selatan, menjadi salah satu contohnya. Kelurahan Hamadi ini memiliki sekitar 15 ribu lebih penduduk. Sejumlah pemukiman padat penduduka ada di sana, baik itu Hamadi Rawa, Hamadi Gunung maupun Hamadi Pontong. Di sana ada dua pasar tradisional yang dicurigai, menjadi pusat penyebaran virus ini, yaitu Pasar ikan TPI Hamadi dan Pasar Inpres Hamadi.

“Dari 7.000 lebih warga yang ikut Rapid Test pertengahan Mei lalu, sekitar 1.000 an hasilnya reaktif. Dan saat ini, sudah ada 140-an yang terkonfirmasi positif hasil PCR. Sampel belum semuanya diperiksa, dipastikan akan bertambah jumlahnya. Hamadi wilayah penyumbang terbesar kasus di Kota Jayapura,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari kepada papuabangkit.com, akhir pekan kemarin.

Menurut dr Nyoman, penyebabnya adalah lemahnya disiplin masyarakat dalam mengikuti himbauan pemerintah dan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan memakai masker.

“Wilayah ini memang padat sekali penduduknya. Kasus pertama di sana itu kan Togel di TPI. Bisa dibayangkan tiap pagi dan sore penjual ikan kumpul di situ untuk togel, tidak pakai masker, yaitu yang buat penyebaran cepat,” katanya.

Ketiga, Skrining Massal Dengan Rapid Test Masif. Kenaikan jumlah kasus di Papua juga terjadi seiring dengan upaya test, tracing, dan treat yang dilakukan oleh Tim Satgas Provinsi dan Gugus Tugas di seluruh Papua. Tercatat sudah ada 80 ribu lebih Rapid Test disebarkan ke seluruh Kabupaten/Kota.

Sementara itu, untuk mendukung pemeriksaan lanjutan, Papua kini memiliki empat mesin PCR yang ditempatkan di Litbangkes Papua, Labkesda Papua, RSUD Timika dan RS Tembagapura. Juga ada beberapa alat Test Cepat Molekur (TCM) difungsikan untuk membantu pemeriksaan swab ini.

Tim URC Covid Polres Jayapura Kota dan UP2KP saat melakukan simulasi penanganan Covid di Papua April lalu.

Menurut Epidemiolog Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih dr. Eka Fatem, M.Epid, menemukan  kasus sedini mungkin adalah baik untuk mempercepat proses penangangan pasien dan mencegah penyebaran kasus makin meluas.

Yang penting, kata Eka, disiplin warga harus jadi tiang penopangnya untuk mengendalikan kasus ini.

“Saya lihat justru kasus kita di Kota Jayapura  rata-rata OTG atau Orang Tanpa Gejala. Justru ini yang harus paling diwaspadai. Karena itu, dengan adanya kebijakan New Normal ke depan, masyarakat harus lebih waspada dengan mematuhi protokol kesehatan, pakai masker, jaga social distancing dan physical distancing. Karena kita tidak tahu, di tempat kerja kita, tempat kuliah atau sekolah, mall pasar ada yang sudah membawa virus ini yang tampak sehat-sehat,” katanya. (Gusty Masan Raya)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *