Membaca “Beta Papua” dan Pesan Penting Bagi Generasi Muda

 

Identitas Buku
Judul               : Beta Papua Kisah Hidup dan Pengabdian Chris Sohilait
Penulis            : Alex Japalatu & Wahyu Joko Susilantoro
Penerbit          : Altheras Publishing Jakarta
Tahun terbit   : 2020
Ukuran            : 21 x 14 cm/xxiv/517
ISBN                : 9786025370076

 

Pengantar

Buku Beta Papua Kisah Hidup dan Pengabdian Chris Sohilait adalah sebuah buku yang menceritakan kisah hidup seseorang yang ditulis sangat menarik oleh dua orang penulis yang mumpuni. Betapa tidak, berbagai kisah sosok Chris Sohilait tentu tidak diperoleh dari satu dua sumber yang masing-masingnya mempunyai pengalaman dan kisah yang berbeda satu dengan lainnya, dan mampu disarikan secara menarik oleh tim penulis. Luar biasa.

Beta Papua menceritakan pengalaman hidup seorang Chris Sohilait sejak berusia belia (hal  19) hingga puncak kariernya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Lanny Jaya. Disamping komentar sejumlah pihak, termasuk wartawan yang ikut menyaksikan, mengalami, dan menikmati kebersamaan bersama Chris Sohilait.

Kisah-kisah itu awalnya tercecer seperti potongan-potongan puzzle, tapi mampu dihimpun tim penulis kemudian menjahitnya menjadi tulisan-tulisan bermakna yang membuat terkesima para pembacanya, termasuk saya yang telah menghabiskan 12 jam membacanya dalam tiga hari. Banyak kekaguman, keterkejutan, dan keharuan disodorkan dalam buku ini karena berbagai aspek yang dialami sosok Chris Sohilait dalam rentetan kisah hidupnya yang mampu dicatatkan dalam buku setebal 517 halaman oleh Alex Japalatu dan Wahyu Joko Susilantoro.

 

 

Isi Buku

Dari perspektif struktur, buku Beta Papua ditulis dalam tiga bagian dan 22 Bab. Bagian I mengurai tentang Chris dan Keluarga; Bagian 2 berisi tentang Chris dan Pengabdiannya, dan Bagian 3  mengisahkan tentang Chris Sohilait di mata teman-temannya.

Bagian 1 menjelaskan secara detail tentang silsilah Chris Sohilait yang diawali dengan uraian detail mengenai kisah orangtuanya yang berasal dari Maluku hingga menjalani panggilan profesinya seorang Pamong dari daerah asalnya dan menjalani penugasan di daerah pedalaman Papua, (Bab 1 hal 3) pada bagian ini secara mendalam penulis mengeksplor totalitas kehidupan pemilik nama lengkap Lukas Christian Sohilait. Yang dimulai dari masa kelahirannya di Abepura, kemudian  sampai masa ia bertumbuh menjadi seorang bocah lincah yang sering disebut anak yang “tidak bisa diam” oleh ibunya Yohana Saiya di Tiom Kabupaten Jayawijaya ketika itu.

Pada Bab 3 dari Bagian I Beta Papua ini (hal 37), sesungguhnya menjadi kisah inspiratif yang membuat pembaca dapat memahami bagaimana bocah berusia 9 tahun harus berjuang untuk memulai kehidupannya seorang diri terpisah dari orang tuanya di Tiom. Ia “dipaksa” Hidup Mandiri oleh karena sebuah prinsip dan disiplin kedua orang tuanya (sebuah pandangan visioner). Pada kisah ini sesungguhnya menjadi catatan bagi generasi masa kini bahwa untuk mencapai cita-cita harus ada yang dikorbankan. Korban perasaan, waktu, kebersamaan dengan keluarga (ayah-ibu dan saudara/i).

Di bagian ini penulis menceritakan tentang sosok Chris yang harus hidup terpisah dari orang tuanya karena harus bersekolah di Sentani sementara kedua orangtuanya bertugas di Tiom, Kabupaten Jayawijaya. Ia jauh dari pengawasan orang tuanya, tapi ia mampu menjalani kehidupannya secara mandiri, sabar, dan penuh perjuangan yang tidak mudah untuk anak seusianya. Hanya saja kisah ini menjadi sangat menarik karena Chris adalah bocah gesit yang pandai bergaul dan mampu mengambil hati orang lain, sehingga kemanapun ia pergi dan bergaul ia mudah diterima lingkungannya.

Selain itu dalam Bab 4 (pada hal 51) mengisahkan tentang petualangan Chris menjadi seorang pekerja keras. Ia menjadi Kondektur Angkutan Umum dan Tukang Sapu Bioskop Marten Indey, yang merupakan bioskop satu-satunya di Kota Kecamatan Sentani, ketika itu. Tanpa rasa malu ia mau menghabiskan waktunya mencari tambahan ongkos untuk membiayai kebutuhan hidupnya bersama dua adiknya (Filipus dan Elsye).

Perjuangan seorang Chris menunjukan betapa ia menyadari bahwa posisinya sebagai anak yang tua dalam keluarga. Jiwa mandiri dan kemampuan Chris melihat peluang terasah karena ia jauh dari kehangatan rumah dan kedua orangtuanya. Sejak kecil ia telah belajar memutuskan sendiri secara cepat dan tepat apa yang harus dilakukan untuk dirinya dan kedua adiknya (hal 56). Kisahnya sangat menarik untuk disimak.

Kisah menarik lain dalam Bagian I adalah pada Bab 7 tentang Kepergian Ayahanda Gerson Sohilait. Kisah kepergiannya memang amat menyedihkan. Chris sempat lemas saat mendapat kabar kematian ayahnya. Tetapi sebagai anak tertua dalam keluarga, ia harus bisa menerima kenyataan yang pahit ini. Ia memutuskan untuk memakamkan ayahnya secara layak, namun insiden terjadi dalam kedukaan itu. Warga Distrik Tiom meminta jenazah Gerson Sohilait dimakamkan di Tiom dengan alasan ia telah mengabdi sehingga untuk mengenang jasanya maka harus dimakamkan di Tiom.

Dalam kondisi ini sempat terjadi keributan besar, warga berkeras menahan jenasah Gerson, terjadilah negosiasi antara Kepala Distrik, Kapolsek dan Koramil  Tiom dengan warga masyarakat. Sayangnya, upaya itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya, Chris mengambilalih negosiasi melalui SSB. Ia menjelaskan kepada warga bahwa pihaknya tidak punya keluarga di Tiom yang setiap saat dapat melihat makam ayahnya. Akhirnya warga luluh, namun dengan syarat Bupati Jayawijaya mencarter 5 pesawat untuk mengangkut warga mengantarkan jenazah Gerson Sohilait ke Wamena.

Permintaan ini disetujui Bupati Jayawijaya ketika itu Jan Buce Wenas. (Hal 98). Kecintaan warga akan Gerson Sohilait terlihat ketika jenazah akan diberangkatkan ke Wamena. Ratusan warga berkumpul di lapangan terbang. Peristiwa itu membuktikan bahwa mereka sangat mengasihi Gerson Sohilait yang selalu setia melayani mereka sebagai pamong tetapi juga sebagai penginjil di gereja Baptis.

Bagian 2 mengisahkan tentang Chris dan Pengabdiannya. Pada bagian ini berisi 12 bab. Namun dalam bagian ini ada beberapa hal menarik yang terekam dalam karier seorang Christian Sohilait. Kisah inspiratif itu tercatat pada hal 295. Pada hal tersebut mengisahkan bagaimana Chris memulai kariernya sebagai seorang sopir bagi pejabat. Di sana ia diceritakan sangat lincah, selalu patuh, sabar, bergerak sesuai perintah dan sangat bertanggungjawab dalam menjalankan tugasnya.

Kemudian, saat jadi pejabat, ada kisah yang menceritakan tentang keseriusannya membangun Kabupaten Lanny Jaya. Kisah-kisah ini dapat dibaca pada Bab 11 (hal 151) tentang bagaimana membangun pendidikan di Lanny Jaya dengan mengontrak guru-guru dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk memajukan pendidikan dan infrastruktur penunjang di daerah tersebut.

Ia juga dikenal sebagai sosok pejabat yang memiliki waktu istirahat yang singkat tapi punya stamina yang prima dalam bekerja (hal 225). Ia juga seorang ASN yang mampu mengawal visi dan misi daerah secara baik dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Lanny Jaya (hal 307). Meski dirinya telah mengabdi dengan ketulusan tanpa pamrih membangun Lanny Jaya yang lebih baik, namun tidak jarang ia malah dituding macam-macam. Tak pelak ia pernah diberondong oleh Kelompok Bersenjata dengan senjata AK 47 (hal 205).

Kendati demikian, itu tidak menciutkan niatnya membangun Lanny Jaya. Ia tak mundur selangkah pun. Ia justru semakin sungguh-sungguh bekerja dan melayani sepenuh hati. Tak disangka para penembak akhirnya meminta maaf dan membayar “denda adat” dengan mengirimkan babi sebagai permohonan maaf atas peristiwa tersebut. Menarik memang. Meski nyawanya adalah taruhannya tapi bagi Chris hidup dan mati di tangan Tuhan.

Walau pernah berada pada sisi yang mengerikan, namun Chris juga pernah menjadi artis di daerahnya dengan terlibat dalam pembuatan Film Di Timur Matahari. Dalam film tersebut Chris berperan sebagai Kapolsek yang hadir untuk menyelesaikan persoalan warga. Kisah yang jarang terjadi bahwa seorang Sekretaris Daerah berperan dalam sebuah film, inspiratif.

Bagian 3 dari Buku Beta Papua mengisahkan tentang sosok Chris Sohilait di mata rekan-rekannya. Pada bagian ini berisi rekaman ungkapan rasa setiap rekan yang pernah bersamanya, sejak masa kecilnya (di Tiom, Wamena, Jayapura dan Sentani) sampai dengan ia menjadi seorang pejabat daerah (hal 319). Sosok Chris Sohilait menjadi seorang sahabat yang “mempesona” semua orang. Baik rakyat biasa, sampai dengan orang-orang penting di daerah. Dari pejabat sipil sampai pejabat militer. Kehidupan dan cara Chris mendekati mereka menjadi kesan tersendiri. Setiap mereka memberi apresiasi dan penilaian atasnya.

 

Ulasan

Buku Beta Papua, adalah tulisan kreatif yang mengisahkan tentang kehidupan seorang anak Maluku kelahiran Papua (Abepura) dan besar di Tiom, menjadi sebuah buku yang penuh dinamika dan sangat menarik. Buku biografi Chris Sohilait ini ditulis oleh dua penulis senior, Alex Japalatu dan Wahyu Joko Susilantoro. Gaya penulisannya ringan dengan pilihan kata yang sederhana. Meski  sangat tebal dengan 517 halaman, namun Beta Papua enak dibaca karena ditulis dengan gaya bertutur yang mengalir. Sang penulis membawa pembaca seakan-akan berada dalam kisah dan gaya hidup Chris Sohilait.

Buku ini selain memuat kisah hidup dalam bentuk cerita tetapi juga menceritakan pengalaman hidup Chris Sohilait dalam bentuk gambar (foto-foto kegiatan) dan Kliping-kliping berita. Foto-foto itu berupa kegiatan sejak masa kecil, sampai masa dewasa, temasuk foto-foto keluarga bersama orangtua dan adik-adiknya dan foto-foto bersama istri dan anak-anaknya sedang liburan ke beberapa tempat dan foto-foto kegiatan kedinasannya.

Selain foto-foto, sesungguhnya buku ini juga memuat berbagai kliping berita yang mengkover berbagai kegiatan kedinasan Chris Sohilait sebagai Sekretaris Daerah dan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya.

Pada sisi lain, buku berisi 22 Bab ini turut pula dilengkapi dengan sambutan Menteri Dalam Negeri Jend (Purn) Pol. Drs H.M. Tito Karnavian, MA, PhD, Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, SIP, MH, Kapolda Papua Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw, dan Bupati Lanny Jaya, Befa Yigibalom, SE, MA. Intinya, buku ini mendapat simpati dan sambutan dari para petinggi di daerah dan tingkat pusat. Dalam berbagai sambutan tersebut berisi kekaguman atas prestasi dan terobosan-terobosan yang dilakukan Chris Sohilait dalam karya dan pengabdiannya.

Isi buku Beta Papua ini memberi pesan kepada pembaca, khususnya generasi muda Papua bahwa untuk melakukan sebuah pekerjaan, setidaknya harus dimulai dengan sikap dan cara pandang yang benar terhadap apa yang akan kita kerjakan. Sebab cara pandang yang benar akan bermuara pada tindakan yang benar.

Ungkapan ini mengingatkan saya akan sebuah kata bijak yang mengatakan begini: “seorang pemimpin adalah kata-katanya dan kata-katanya adalah tindakannya”. Kata bijak ini sesungguhnya telah menjadi nyata dalam kisah hidup sosok Nyong Ambon Berhati Papua, Chris Sohilait yang terekam dalam buah karya Alex Japalatu dan Wahyu Joko Susilantoro diberi judul Beta Papua.

 

Catatan Akhir

Buku ini sangat menginspirasi generasi muda, khususnya para ASN yang saat ini dipercayakan memanggul jabatan-jabatan penting di daerah agar memanfaatkan jabatan tersebut untuk melayani kepentingan rakyat penuh kasih. Sebab kemajuan sebuah daerah sangat ditentukan oleh pemimpinnya, dan Lukas Christian Sohilait telah membuktikan itu. Semoga bermanfaat. (Gabriel Maniagasi/Penulis Freelance, Mantan Jurnalis Papua)

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *