Anosmia: Gejala Khas Covid-19  Mulai Mendominasi

 

Oleh dr. Hendrikus MB Bolly, M.Si., SpBS.,FICS., AIFO-K

DALAM sebuah acara seminar kesehatan daring (Webinar) bertema COVID-19: Papua Haruskah bebas Corona? Pada 14 Juli 2020 ini, menghadirkan salah satu tenaga ahli spesialistik ilmu penyakit paru terkuak bahwa anosmia merupakan suatu gejala khas Covid-19 yang mulai banyak bermunculan di Papua khususnya.  Anosmia adalah suatu  gejala penyakit yang ditandai dengan hilangnya kemampuan seseorang untuk menghidu atau mencium suatu rangsangan bebauan.

Sebenarnya gejala ini telah dilaporkan sebagai salah satu gejala minor gangguan system saraf tepi yang disebabkan oleh virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19. Laporan tim peneliti  di Wuhan China yang mengumpulkan 214 pasien  rupanya terdapat 78 orang (36%) yang menunjukkan gejala gangguan system saraf, dan dari 78 pasien tersebut ada sekitar 11 orang (5%) yang memiliki gejala gangguan penciuman (anosmia)  ini.

Penelitian tersebut merupakan penelitian pertama yang melaporkan berbagai gejala saraf akibat Covid-19.  Dalam sebuah laporan, diketahui bahwa di Korea Selatan, China dan Italia, jumlah penderita Covid-19 yang menunjukkan gejala anosmia sangat dominan. Misalnya di Korea Selatan, 30% dari semua kasus terkonfirmasi Covid-19 memiliki gejala anosmia; sedangkan di Jerman, 2 dari 3 pasien Covid-19 terkonfirmasi memiliki gejala anosmia. Sayangnya terkait masalah ini, data di Indonesia yang terpublikasi dalam kajian dan artikel ilmiah belum diketahui pasti angkanya.

Anosmia biasanya dikeluhkan pasien sebagai suatu keadaan ketidakmampuan membaui suatu bahan tertentu. Selain anosmia, ada satu gejala gangguan saraf tepi lainnya yang juga disebabkan oleh infeksi Covid-19 yaitu hypogeusia  (muncul 5% pada penderita Covid-19 pada laporan penelitian yang sama seperti di atas).

Hypogeusia adalah keadaan dimana lidah menjadi kurang sensitif  dalam merasakan suatu sensasi. Kedua kondisi ini sebenarnya tidak se-mengkhawatirkan gejala sesak napas, nyeri tenggorokan maupun demam tinggi yang memang secara klasik menjadi kumpulan gejala dominan penderita Covid-19. Anosmia dan hypoeugasia  justru menyebabkan suatu kondisi yang dapat saja menjadi serius oleh karena ketika seseorang kehilangan kemampuan membaui sesuatu, maka hal selanjutnya yang dapat terjadi adalah gangguan makan.

Hal ini wajar oleh karena rangsangan makan tidak hanya melibatkan dorongan rasa lapar karena pengosongan lambung, tapi juga melibatkan indera mata untuk melihat bentuk makanan dan indra hidung untuk membaui makanan yang berada di depan mata serta  lidah sebagai indera pengecap. Keempat  hal tersebut akan mengirimkan sinyal ke pusat lapar di otak, untuk mendorong seseorang untuk mulai memakan sesuatu.

Anosmia menjadi suatu keadaan serius ketika tenaga kesehatan “cerewet” untuk mendorong pasien Covid-19 dirawat untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien sendiri melalui olah raga dan makan makanan bergizi.  Nah, ketika anosmia ini telah muncul sebagai suatu gejala dominan pada penderita Covid-19 maka dapat dibayangkan bahwa pasien tersebut akan kehilangan selera untuk makan.

Apa yang kemudian terjadi? Pasien memiliki daya tahan tubuh yang makin menurun, dan justru akan memperburuk kondisinya secara umum.  Hal ini terjadi karena seperti telah umum kita ketahui bahwa makanan bergizi menjadi pasokan nutrisi penting yang akan mempengaruhi performa daya tahan (imun) tubuh kita. Dengan demikian jika anosmia terjadi maka biasanya pasien jadi “malas” makan dan  ketika imunitas menurun maka dapat terjadi suatu gejala serius lainnya.

Bagaimana Virus SARS-CoV2 Bisa Menyerang System Saraf?

Dari berbagai artikel penelitian ilmiah, diketahui bahwa virus ini dapat menyerang otak manusia melalui dua jalur utama. Pertama, secara primer virus menempel pada suatu struktur di hidung manusia yang dikenal sebagai palatum cribiform yang kemudian masuk ke sel-sel otak. Virus akan menmpel pada sel epitel saraf olfaktorius (saraf penciuman). Kedua, melalui mekanisme sekunder yaitu setelah virus mencapai paru-paru kemudian melalui sirkulasi darah akhirnya dapat mencapai otak.

Dasar utama dari kedua mekanisme ini tentunya karena sel saraf (neuron dan glial) juga memiliki reseptor ACE-2 yang merupakan pengenal dan pemasok virus ke dalam sel.  Sehingga wajar jika virus SARS-CoV2 ini menempel pada tulang hidung khususnya pada struktur palatum kribriformis tadi maka, reseptor ACE-2 pada sel saraf yang berada pada struktur tersebut akan “mempersilahkan” virus masuk kedalam system saraf.

Pada saat yang bersamaan, kerusakan lokal pada area tersebut akan memunculkan gejala gangguan penciuman (anosmia). Maka dari sini dapat kita ketahui bahwa kerusakan saraf  penciuman ini didasarkan pada mekanisme pertama di atas.

Apakah Pasien Dengan Gejala Anosmia Juga Perlu Diisolasi?

Rekomendasi perkumpulan dokter THT Inggris adalah jika pasien terkonfirmasi Covid-19 positif sesuai pemeriksaan swab PCR yang memunculkan gejala anosmia tunggal, tanpa adanya gejala berat lainnya memerlukan isolasi mandiri selama 7 hari. Tujuan isolasi adalah untuk membatasi gerak penderita sebagai vektor penularan virus kepada orang lain yang sehat.

Adanya gejala anosmia tanpa gejala berat lainnya bukan berarti tidak perlu diwaspadai. Justru, adanya gejala anosmia ini  harus meningkatkan kewaspadaan tenaga kesehatan karena merupakan pertanda bahwa virus SARS CoV 2 ini telah berada dalam system saraf tepi (di hidung) yang dalam perjalanannya dapat sampai ke otak dan menimbulkan kerusakan yang lebih serius.

Gejala anosmia pada penderita Covid-19 memiliki karakteristik yang sangat khas yaotu munculnya mendadak dan tiba-tiba. Bahkan seringkali tidak disadari oleh pasien hingga benar-benar telah terjadi kerusakan serius dan pasien secara spontan mengakui tidak dapat mencium bebauan.

Suatu publikasi laporan kasus yang dipublikasikan pada bulan Mei 2020 menujukkan adanya perubahan pada salah satu bagian otak depan (gyrus rektus), dekat dengan tulang hidung pada pemeriksaan foto Magnetic Resonance Imaging (MRI) kepala pasien perempuan berusia 25 tahun  yang menunjukkan gejala anosmia setelah batuk kering sehari sebelumnya.  Kerusakan ringan akibat infeksi Covid-19 pada gambaran MRI tersebut juga terlihat pada saraf nomor -1 (saraf kranial, Olfaktorius) yang mengalami  penebalan dibanding biasanya.

Anosmia dapat menjadi dasar mendeteksi keberadaan infeksi SARS-CoV2 pada seseorang. Anosmia menjadi bukti bahwa virus telah ada dalam saluran nafas bagian atas dan telah menyebabkan kerusakan saraf penciuman. Hal ini harus meningkatkan kewaspadaan semua pihak yang berfokus pada penemuan kasus, pencegahan penyebaran dan perawatan pasien Covid-19.

Anosmia memang pada flu biasa akan kembali normal seiring dengan meredanya infeksi virus penyebab influenza. Berbeda dengan kasus anosmia pada Covid-19 ini, kerusakan struktur yang terdeteksi pada MRI mengalami perbaikan pada hari ke-28 namun tidak beriringan dengan membaiknya gejala anosmia pada pasien tersebut. Penemuan ini memang memerlukan konfirmasi lebih lanjut untuk menjawab apakah anosmia pada penderita Covid-19 ini dapat kembali normal atau tidak.

Dalam pemeriksaan sehari-hari, untuk mendeteksi anosmia memang dapat dilakukan dengan metode yang sangat sederhana. Dokter akan meminta pasien menutup mata, lalu memberikan sumber bau tertentu (biasanya tembakau, kopi; tidak boleh alkohol atau sumber bau yang irritant). Pemeriksaan dilakukan dengan meminta pasien menyebutkan bau tersebut setelah bahan disodorkan ke salah satu lubang hidung yang diperiksa, dilakukan bergantian pada masing-masing lubang hidung.

Jika sumber bau yang diberikan dikenali dengan baik dan disebutkan dengan benar oleh penderita maka artinya saraf penghidu normal. Kerusakan saraf penciuman ini capat atau lambat pasti akan diakui oleh pasien sendiri mengingat iringan gejala gangguan makan yang juga terjadi belakangan.

Pengobatan anosmia?

Anosmia yang terjadi sebagai gejala dari Covid-19 memang belum ada obat yang spesifik. Pemberian obat golongan steroid tidak dianjurkan. Maka memang daya tahan tubuh pasien menjadi kunci utama kesembuhan. Meminta pasien agar tetap makan-minum yang sehat meski dalam keadaan tidak tidak bisa membaui makanan adalah salah satu langkah sederhana yang penting untuk menjamin agar pasien tetap berada dalam keadaan imunitas yang prima. Dengan demikian pasien akan dibantu untuk sembuh oleh karena daya tahan tubuhnya sendiri.

Maka melalui tulisan ini, penulis menghimbau kepada semua pembaca budiman sekalian, untuk semakin waspada dan memiliki kepekaan terhadap infeksi Covid-19 ini. Munculnya gangguan penciuman (anosmia) mendadak dan tiba-tiba dapat menjadi suatu pertanda awal bahwa orang tersebut telah terinfeksi Covid-19; dan tetap memerlukan pemeriksaan PCR untuk memastikan diagnosis Covid-19.

Dokter di layanan primer dan lini pertama juga sudah harus mewaspadai gejala anosmia ini sebagai gejala “khas” Covid-19 di era pandemik saat ini. Maka identifikasi cepat dan tepat akan membantu menekan penyebaran kasus Covid-19 di tengah komunitas masyarakat.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih Jayapura

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *